Penandatanganan pakta pertahanan Saudi, Turki, dan Pakistan.(Al Jazeera)
PEMIMPIN dari Turki, Arab Saudi, dan Pakistan resmi menandatangani perjanjian pertahanan berbareng pada Jumat (7/8), nan meletakkan dasar bagi hubungan militer nan lebih erat di antara tiga sekutu Amerika Serikat (AS) tersebut. Langkah ini diambil sebagai upaya baru untuk memperkuat keamanan mereka setelah bertahun-tahun mengalami gejolak di Timur Tengah.
Kesepakatan ini muncul di tengah akibat baru nan ditimbulkan oleh bentrok antara AS-Israel melawan Iran, nan memicu ketidakpastian atas payung keamanan Amerika di area tersebut. Presiden Donald Trump, nan meluncurkan perang meskipun ada saran sebaliknya dari sekutu Teluk Arab, sekarang tengah mencari jalan keluar nan dikhawatirkan banyak negara bakal membikin mereka terpapar pada ancaman Iran nan semakin berani.
Aliansi Kekuatan Nuklir, Ekonomi, dan Industri Pertahanan
Perjanjian ini menyatukan Pakistan sebagai negara bersenjata nuklir, Arab Saudi sebagai produsen minyak kaya, dan Turki sebagai personil NATO dengan pedoman industri pertahanan nan besar dan terus berkembang. Kesepakatan ini membangun pengaturan pertahanan bilateral nan sudah ada sebelumnya antara Arab Saudi dan Pakistan.
Seorang pejabat Turki menyatakan bahwa pakta tersebut mencakup klausul pertahanan kolektif dan berkarakter murni defensif, tidak ditujukan kepada tokoh tertentu. "Perjanjian ini dimaksudkan untuk memperkuat pencegahan kolektif terhadap setiap tindakan agresi dan menetapkan bahwa setiap serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara bakal dianggap sebagai serangan terhadap mereka semua," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan.
Respons terhadap Ketidakstabilan Regional
Kesepakatan pertahanan berbareng ini menggarisbawahi gimana kekuatan regional mengevaluasi kembali pengaturan keamanan mereka pascaperang di Iran. Teheran membangun pertahanannya sebagian besar melalui serangan jawaban di Teluk Persia, nan menghantam sasaran ekonomi, budaya, serta pangkalan dan kedutaan besar AS. Iran juga dilaporkan meluncurkan rudal ke Turki, personil NATO nan menampung pangkalan krusial bagi pasukan AS.
Di sisi lain, demonstrasi keahlian militer dan intelijen Israel sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 juga menjadi pertimbangan keamanan baru. Israel diketahui bersenggolan dengan kepentingan Turki di Suriah dan meluncurkan serangan rudal terhadap pemimpin Hamas di Qatar tahun lalu, nan mengejutkan negara-negara Teluk.
Arab Saudi juga menghadapi ancaman nan meningkat di Yaman. Milisi Houthi nan didukung Iran mulai menyerang pasukan militer dan kapal tanker Saudi di Laut Merah. Serangan Houthi pada Kamis dilaporkan melukai 11 orang di sebuah kota perbatasan Saudi.
"Ini respons terhadap kedua aspek destabilisasi tersebut, lantaran ketiga negara memandang ketidakstabilan area secara keseluruhan melalui lensa nan sama, nan berasal baik dari Israel maupun Iran," ujar Sinan Ülgen, mantan diplomat Turki dan Direktur EDAM.
Penandatanganan di Kota Suci Mekah
Para pemimpin dari tiga negara kebanyakan Muslim Suni ini menandatangani perjanjian tersebut dalam upacara di Mekah. Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menandatangani kesepakatan berbareng Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Meskipun menandatangani pakta, ketiga pemerintah belum merinci langkah praktis nan bakal diambil jika salah satu dari mereka diserang. Namun, Pakistan sebelumnya menunjukkan komitmennya dengan mengirimkan armada pesawat tempur ke Arab Saudi pada April lampau setelah kerajaan tersebut mendapat serangan rudal dan drone Iran.
Analis menilai pakta ini sebagai upaya membangun tembok melawan serangan Iran di masa depan. "Ini memberikan pesan kepada Iran bahwa mereka tidak bisa begitu saja mendiktekan kehendaknya di bawah realitas baru nan muncul," kata Umer Karim, peneliti di King Faisal Center for Research and Islamic Studies.
Kendati demikian, perjanjian ini juga menunjukkan dilema nan dihadapi kekuatan regional. Meskipun mau mendiversifikasi pengaturan keamanan, ketiga negara tersebut secara struktural tetap sangat berjuntai pada AS untuk pasokan militer utama dan support politik. (The Wall Street Journal/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·