Palantir dan Armada memperkenalkan pusat info mobile berbasis kontainer dengan AI Nvidia untuk memproses info intelijen langsung di medan tempur tanpa berjuntai pada cloud.(Wired)
PALANTIR Technologies berbareng perusahaan prasarana Armada memperkenalkan pusat info (data center) mobile berbasis kontainer nan dirancang untuk mendukung operasi militer di medan tempur. Sistem ini memungkinkan pemrosesan info berbasis kepintaran buatan (AI) dilakukan langsung di lapangan tanpa berjuntai pada hubungan cloud secara terus-menerus.
Setiap unit menggunakan kontainer pengiriman standar nan di dalamnya berisi server, perangkat penyimpanan data, jaringan, serta sistem pendingin. Komputasi AI didukung akselerator Nvidia B300, sementara platform Artificial Intelligence Platform (AIP) milik Palantir digunakan untuk menghubungkan model AI dengan beragam sistem operasional militer.
Berbeda dengan jasa cloud konvensional, pusat info mobile ini tetap dapat beraksi meski terputus dari jaringan internet alias sengaja diisolasi demi argumen keamanan. Dengan begitu, info dari sensor maupun perangkat pengintai dapat diproses langsung di letak sehingga membantu mempercepat pengambilan keputusan di lapangan.
Pendekatan ini juga dinilai lebih handal lantaran tidak berjuntai pada satu pusat data. Jika salah satu unit mengalami gangguan alias hancur, unit lain tetap dapat beraksi dan memproses info secara mandiri.
CEO Palantir, Alex Karp, mengatakan perkembangan teknologi di medan perang Ukraina menunjukkan pentingnya keahlian beradaptasi dengan sigap terhadap perubahan kondisi pertempuran. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi negara-negara sekutu dalam memanfaatkan AI untuk kebutuhan pertahanan.
Meski demikian, hingga sekarang belum ada verifikasi independen mengenai keahlian sistem tersebut dalam kondisi tempur nan sebenarnya. Palantir maupun Armada juga belum mempublikasikan hasil pengetesan operasional di medan perang.
Penggunaan pusat info mobile sebenarnya bukan konsep baru. Namun, keahlian untuk menjalankan AI secara berdikari di area bentrok dengan konektivitas nan terbatas menjadi pembeda utama dari teknologi nan dikembangkan Palantir dan Armada.
Peluncuran teknologi ini menunjukkan tren baru di sektor pertahanan, ialah memindahkan keahlian komputasi dan AI lebih dekat ke letak operasi. Dengan langkah tersebut, kajian intelijen dapat dilakukan lebih sigap tanpa kudu mengirim seluruh info ke pusat komputasi nan berada jauh dari medan tempur.
Meski menawarkan beragam keunggulan, efektivitas teknologi ini tetap kudu dibuktikan melalui penggunaan di kondisi nyata. Faktor seperti serangan fisik, cuaca ekstrem, hingga gangguan komunikasi bakal menjadi tantangan nan menentukan keberhasilan sistem tersebut di lapangan. (United 24 Mobile/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·