Pasar Asemka Bangkit dari Kubur, Tapi Kondisi Pedagang Tak Terduga

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar Pagi Asemka, Tambora, Jakarta Barat mendadak diramaikan sejumlah visitor nan tengah berburu perangkat tulis. Aktivitas tersebut dilakukan para visitor sebagai persiapan menyambut tahun aliran baru 2026/2027.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia pada Selasa (30/6/2026), beragam perangkat tulis mulai dari buku, pensil, pulpen, spidol, tempat pensil, tipe-x, hingga penghapus karet mulai dijajakan di toko perangkat tulis instansi (ATK). Bahkan, barang-barang tersebut juga dijual oleh pedagang musiman nan menggelar lapak di sepanjang kolong flyover Asemka.

Salah satu pengelola toko ATK di Pasar Asemka, Roni mengaku penjualan perangkat tulis beberapa waktu terakhir condong mengalami penurunan. Bahkan, omzet penjualan dari perangkat tulis merosot hingga 50%.

Dirinya bilang, salah satu penyebab penurunan penjualan tersebut dikarenakan kondisi ekonomi Indonesia nan penuh ketidakpastian. Di samping itu, dia juga menyadari semua sektor menghadapi tekanan serupa.

"Kalau tenaga kerja ketahuan setiap bulan terima penghasilan berapa. Jadi budget udah ketahuan. Kalau jual beli kan gak jelas," kata dia kepada CNBC Indonesia.

Roni pun mencoba peruntungan dengan membuka toko di platform marketplace. Meski begitu, tetap saja penjualan di toko online tersebut tidak membuahkan hasil nan optimal. Dengan kata lain, penjualan perangkat tulis di toko online maupun bentuk sama-sama lesu.

Jelang tahun aliran baru, pedagang perangkat tulis mulai menjamur di Pasar Pagi Asemka, Tambora, Jakarta, Senin (29/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Jelang tahun aliran baru, pedagang perangkat tulis mulai menjamur di Pasar Pagi Asemka, Tambora, Jakarta, Senin (29/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: CNBC Indonesia/Tri Susilo

"Ini setiap satu resi juga kena Rp 1.250 per resi, itu belum termasuk potongannya (biaya admin). Potongannya kan sekitar 20%," keluhnya.

Roni turut mengungkapkan, jika penjual di toko online mau mendapatkan banyak pembeli, maka kudu ikut program berupa pemberian promo-promo. Langkah ini ditempuh demi menarik para pengguna platform marketplace nan mau mendapatkan peralatan bagus dengan nilai terjangkau.

Sebagai catatan, produk perangkat tulis berupa buku, pulpen, hingga tempat pensil nan ditawarkan Roni berasal dari agen. Barang-barang tersebut ada nan dibuat oleh produsen lokal maupun impor.

Harga produk perangkat tulis nan dijual Roni bervariasi. Sebagai contoh, kitab tulis merek Kiky dibanderol seharga Rp 38 ribu-an, sedangkan kitab tulis merek Sinar Dunia (SIDU) dibanderol seharga Rp 45 ribu-an.

Beralih ke pedagang musiman di area Asemka, Nugroho menyebut, tempat jualan perangkat tulisnya kerap diramaikan visitor menjelang masa liburan sekolah berakhir.

"Biasanya jika mau rame kayak udah mau masuk sekolah. Kayak udah seminggu lagi baru mulai rame. Sekarang ini belum terlalu rame," ungkapnya.

Dirinya bilang, dalam beberapa hari terakhir, banyak visitor nan mencari perangkat tulis seperti kitab dan pulpen. Biasanya, satu orang bisa membeli dua pak kitab tulis dan satu pak pulpen.

Dia juga menyebut, produk perangkat tulis nan dijualnya berasal dari toko ataupun agen. Ia mengklaim, perangkat tulis tersebut ada nan dibuat oleh produsen lokal dan impor.

Untuk harganya, Nugroho membanderol kitab tulus sekitar Rp 30 ribuan-Rp 40 ribuan per pak, sedangkan pulpen dihargai mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 150 ribu untuk satu pak.

Di samping itu, produk seperti perangkat mewarnai seperti krayon dan pensil warna banyak dicari oleh visitor dari kalangan orang tua anak-anak PAUD dan TK.

Terlepas dari ramainya pengunjung, Nugroho mengaku tidak mau menaikan nilai jualnya lantaran dikhawatirkan bakal memberatkan konsumen.

"Enggak dinaikin harganya kasian nan beli," terangnya.

Salah satu pedagang perangkat tulis musiman lainnya di area Asemka, Budi menuturkan, penjualan perangkat tulis mulai terlihat sejak dua hari terakhir, bakal tetapi belum bisa dikatakan laku manis namalain pertumbuhannya terbatas. Padahal, biasanya pembeli perangkat tulis semakin bertambah jelang musim tahun aliran baru tiba.

"Setelah pandemi Covid-19 penjualan perangkat tulis mulai turun," ungkap Budi.

Budi melanjutkan, dia menjual 1 pak kitab tulis dengan merek SIDU senilai Rp 45.000 per pak. Satu pak kitab tersebut terdiri dari 10 kitab dengan jumlah laman 38 lembar per buku. Untuk kitab tulis merek BigBoss, Budi menjualnya dengan nilai Rp 35.000 per pak, di mana 1 pak terdiri dari 10 kitab dengan jumlah laman 50 lembar per buku.

Tidak hanya menjual buku, Budi juga menawarkan beragam jenis perangkat tulis lainnya seperti pulpen, pensil, pensil warna, kotak pensil, penghapus, rautan pensil hingga krayon.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya