Anggota Paskibraka 2024 berbanjar seusai dikukuhkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, Selasa (13/8/2024)( ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/nym.)
MENTERI Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan Paskibraka mendapat tambahan waktu latihan untuk beradaptasi dengan kondisi laman Istana nan berbeda dari letak latihan sebelumnya. Salah satu penyesuaian nan dinilai cukup krusial adalah ketebalan rumput di laman Istana nan memengaruhi kebiasaan teknis para personil Paskibraka.
"Ada, lantaran ada juga beberapa penyesuaian, biasanya adik-adik setelah sekian lama berlatih di tempat nan agak berbeda dengan nan sekarang," kata Prasetyo, Rabu (12/8).
Menurut Prasetyo, para personil Paskibraka sebelumnya terbiasa berlatih di lapangan dengan kondisi rumput nan lebih keras. Sementara itu, rumput di laman Istana relatif lebih tebal sehingga mereka memerlukan waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan teknik saat berada di lapangan upacara.
"Contohnya adalah tebal rumput di laman Istana, itu secara teknis juga tadi memengaruhi kebiasaan adik-adik kita nan biasanya sudah secara teknis keras rumputnya alias lapangannya, nah di Istana cukup tebal, jadi butuh sedikit penyesuaian," ujarnya.
Penyesuaian tersebut kemudian mendorong para pembimbing meminta tambahan porsi latihan. Prasetyo mengatakan permintaan itu telah disetujui, termasuk latihan di luar agenda nan sebelumnya telah ditetapkan.
Para Paskibraka diperbolehkan menambah jam latihan secara mandiri, baik untuk persiapan gladi parsial maupun gladi kotor. Tambahan waktu tersebut diberikan agar mereka semakin terbiasa dengan kondisi lapangan Istana sebelum menjalankan tugas utama.
Di tengah persiapan tersebut, Prasetyo juga menyoroti keberadaan personil Paskibraka nan berasal dari Sekolah Rakyat. Ia mengatakan Presiden Prabowo Subianto kemungkinan belum mengetahui info tersebut secara perincian lantaran pihaknya belum melaporkannya secara khusus.
"Sepertinya beliau belum tahu. Karena memang kita juga belum secara perincian melaporkan," kata Prasetyo.
Prasetyo mengaku pihaknya sendiri turut terkejut sekaligus bangga ketika mengetahui ada peserta dari Sekolah Rakyat nan sukses lolos seleksi Paskibraka tingkat nasional. Proses seleksi berjalan dari 38 provinsi dan dilakukan sesuai sistem nan ada, tanpa pihak penanggung jawab mengikuti seluruh proses secara langsung.
Menurut dia, keberhasilan peserta dari Sekolah Rakyat menunjukkan bahwa kesempatan menjadi Paskibraka terbuka bagi siapa pun. Latar belakang ekonomi family tidak semestinya menjadi pembeda selama peserta mempunyai kompetensi dan kemauan untuk bekerja keras.
"Kita terus terang juga ikut bangga, terharu, bahwa itulah membuktikan, siapa pun kita ini, sebagai anak bangsa, manakala diberi kesempatan, alias ada kesempatan, ada peluang, alias ada sesuatu nan memungkinkan untuk berpartisipasi, sudah tidak lagi membeda-bedakan kita ini berasal dari mungkin family bisa alias tidak mampu," tuturnya.
Prasetyo menilai menjadi Paskibraka tingkat nasional bukan tugas ringan. Para peserta kudu menjalani latihan bentuk secara terus-menerus sekaligus mempersiapkan mental lantaran mereka bakal tampil di hadapan seluruh masyarakat Indonesia.
Tekanan itu membikin setiap personil kudu menjaga konsentrasi dan menghindari kesalahan ketika menjalankan tugas. Menurut Prasetyo, tampil dalam upacara kenegaraan dengan perhatian seluruh bangsa bukan pengalaman nan mudah bagi para peserta.
"Saudara kelak bakal kudu tampil, tidak boleh salah, tidak boleh ada nan keliru, dan di akal anda, Anda disaksikan oleh seluruh bangsa Indonesia. Itu bukan sesuatu perihal nan mudah," ujarnya.
Karena itu, Prasetyo membujuk masyarakat memberikan apresiasi terhadap perjuangan para Paskibraka dan pihak-pihak nan terlibat dalam persiapan upacara. Ia meminta masyarakat tidak hanya memandang kekurangan alias hal-hal nan belum sempurna, tetapi juga menghargai proses dan kerja keras nan telah dilakukan.
"Bahwa ada kekurangan, iya. Bahwa ada mungkin nan belum sempurna, iya. Tapi segala hal, pekerjaan kita apapun, bagian kita apapun, itu segala sesuatunya perlu diapresiasi dan perlu dihargai," kata Prasetyo. (H-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·