Serangan Israel di Libanon.(Al Jazeera)
KETEGANGAN kembali meningkat di wilayah perbatasan Libanon selatan setelah pasukan Israel dilaporkan menyusup ke desa Zawtar al-Gharbiya dan membangun tanggul tanah pada Jumat (7/8) malam. Wilayah tersebut merupakan area nan semestinya berada di bawah kendali penuh tentara Libanon berasas perjanjian nan ditandatangani pada Juni lalu.
Media pemerintah Libanon, National News Agency (NNA), melaporkan pada Sabtu (8/8) bahwa pasukan pendudukan Israel bergerak masuk ke desa tersebut sesaat setelah tengah malam. Mereka kemudian mendirikan penghalang tanah baru di dekat alun-alun kota.
Koresponden AFP mengonfirmasi keberadaan tanggul tersebut di pintu masuk timur desa. Hingga saat ini, otoritas setempat menyatakan belum jelas apakah tetap ada pasukan Israel nan memperkuat di area tersebut alias telah menarik diri setelah membangun barikade.
Pelanggaran Zona Percontohan
Zawtar al-Gharbiya merupakan satu dari dua area percontohan yang ditetapkan dalam kerangka perjanjian nan disponsori Amerika Serikat. Berdasarkan kesepakatan tersebut, tentara Libanon semestinya mengambil alih kendali wilayah tersebut menyusul invasi dan pendudukan Israel di Libanon selatan.
Wali Kota Zawtar al-Gharbiya, Abed Ezzeddine, mengungkapkan bahwa sekitar 50 family kembali ke desa tersebut sejak tentara Beirut dikerahkan pada 21 Juli. Ia mengaku terkejut memandang tanggul tanah nan terletak hanya sekitar 100 meter dari alun-alun kota pada pagi hari.
"Pasukan Israel sebelumnya memang berada di pinggiran desa sebelum pengerahan tentara Libanon. Namun tindakan ini sangat mengejutkan," ujar Ezzeddine.
Ketegangan di Tengah Negosiasi
Seorang sumber militer Libanon mengonfirmasi kepada AFP bahwa kejadian ini merupakan pelanggaran nyata terhadap kerangka perjanjian gencatan senjata. Insiden ini terjadi tepat setelah Libanon dan Israel menyelesaikan putaran ketujuh negosiasi langsung di Roma pada Kamis.
Dalam negosiasi tersebut, pihak Israel dilaporkan menolak untuk membahas penarikan pasukan dari wilayah nan lebih luas sebelum memastikan militer Beirut mempunyai kendali penuh atas zona-zona percontohan tersebut.
Konflik ini bermulai ketika golongan Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai corak solidaritas dalam perang Timur Tengah nan lebih luas, nan kemudian dibalas Israel dengan kampanye pengeboman besar-besaran dan invasi darat. Data Kementerian Kesehatan Libanon mencatat lebih dari 4.300 orang tewas dan ratusan ribu lain mengungsi akibat serangan Israel.
Meskipun gencatan senjata telah bertindak sejak Juni, situasi di lapangan tetap rapuh. Hizbullah secara tegas menolak kesepakatan tersebut dan enggan menyerahkan senjatanya, sementara Israel terus melakukan serangan intermiten di wilayah selatan Libanon. (I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·