Pedagang Ungkap Beras Premium Makin Langka, Bisa Jadi Ini Penyebabnya

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Beras Cipinang (KOPIC) Dedy, menyatakan stok beras premium semakin langka di pasaran dan harganya terus merangkak naik, lantaran produsen beras sekarang memilih beranjak memproduksi beras unik alias beras fortifikasi nan dinilai lebih menguntungkan.

Hal itu, katanya, lantaran produsen beras sekarang kesulitan menjual beras premium sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) lantaran nilai gabah sebagai bahan baku terus meningkat.

"Sepengetahuan saya Bulog mau memproduksi beras SPHP nan premium, mungkin ini akibat dari kekosongan beras premium di tingkat ritel. Karena banyak produsen beras tidak bisa lagi menjual di tingkat ritel nan harganya dipatok Rp14.900 per kg. Jelas ini sangat berdasar lantaran mereka mendapatkan bahan dasarnya (gabah) mahal," kata Dedy kepada CNBC Indonesia.

Pandangan tersebut sejalan dengan kajian Pengamat Pertanian Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu oleh berkurangnya pasokan beras premium di tengah lonjakan nilai gabah nan membikin produsen beranjak memproduksi beras fortifikasi.

Eliza menilai, nilai gabah nan terus meningkat membikin margin untung produsen beras premium semakin tipis. Di sisi lain, produsen juga terbentur patokan nilai satuan tertinggi (HET), sehingga ruang untuk meningkatkan nilai menjadi terbatas.

"Sekarang para penggilingan besar beranjak memproduksi lebih banyak beras fortifikasi lantaran nilai gabahnya sudah tinggi," kata Eliza dihubungi terpisah, Rabu (22/7/2026).

Penjualan beras premium di sejumlah gerai ritel modern terpantau tetap langka hingga Selasa (2/9/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)Penjualan beras premium di sejumlah gerai ritel modern terpantau tetap langka hingga Selasa (2/9/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) Foto: Penjualan beras premium di sejumlah gerai ritel modern terpantau tetap langka hingga Selasa (2/9/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Ia menjelaskan, pergeseran tersebut merupakan keputusan upaya nan wajar lantaran beras fortifikasi dinilai memberikan nilai tambah dan untung nan lebih besar dibandingkan beras premium.

"Karena nilai gabah sudah mahal saat ini, produsen lebih memilih memproduksi fortifikasi daripada premium lantaran produksi premium marginnya mini banget, sementara nilai bahan bakunya itu gabah sudah naik, sementara produsen nggak bisa meningkatkan nilai lantaran ada patokan HET," jelasnya.

"Pada dasarnya, perusahaan kan memaksimalkan profit. Jika insentif untuk memproduksi premium kurang, maka mereka bakal beranjak memproduksi nan lebih menguntungkan," sambung dia.

Akibat pergeseran produksi tersebut, pasokan beras premium di pasar menyusut sehingga membikin produk tersebut semakin susah diperoleh. Menurut Eliza, konsumen nan sebelumnya membeli beras premium sekarang mulai beranjak ke beras fortifikasi.

"Supply-nya berkurang. Konsumen menengah atas kan lantaran daya belinya tinggi, ketika premium tidak ada ya beranjak ke fortifikasi," tutur Eliza.

Selain dipengaruhi pergeseran produksi, Eliza mengatakan kenaikan nilai gabah juga terjadi seiring mulai menurunnya produksi setelah musim panen kedua. Produksi gabah kering giling (GKG) pada Juni 2026 tercatat sebesar 4,19 juta ton, lebih rendah dibandingkan Mei 2026 nan mencapai 4,92 juta ton. Sementara itu, nilai gabah di Lampung dan Jawa Timur telah berada di kisaran Rp7.600-Rp8.000 per kilogram (kg).

Di saat nan sama, Perum Bulog tetap terus menyerap gabah petani untuk memenuhi sasaran stok persediaan beras pemerintah (CBP). Kondisi tersebut membikin Bulog bersaing dengan korporasi dalam memperoleh gabah, sementara penggilingan mini dan menengah semakin kesulitan mendapatkan bahan baku lantaran keterbatasan modal.

Eliza menambahkan, kondisi ini juga berakibat pada masyarakat kelas menengah nan daya belinya sedang tertekan. Ketika nilai beras premium terus naik alias susah diperoleh, sebagian konsumen terpaksa menurunkan pilihan ke beras medium alias mengurangi konsumsi beras.

"Betul (masyarakat menengah nan daya belinya lesu bakal semakin berat membeli beras premiu). Namun, lantaran bahan pokok ini sifatnya inelastis jadi seberapapun harganya pasti dibeli, nan krusial ada," ujarnya.

"Strateginya kelas menengah nan makin lemah daya belinya terpaksa ke segmen medium nan ada. Atau mengurangi konsumsi beras, menggantinya dengan produk gandum nan lebih murah dari beras dan beranjak ke sumber pangan lainnya," pungkas Eliza.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya