Ilustrasi(Dok Istimewa)
PENANGANAN kesehatan jiwa kudu dilakukan sedini mungkin. Bahkan saat jiwa tetap dalam kondisi sehat, agar jiwa selalu terjaga dan tidak mengalami beragam jenis gangguan.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Ridwan Kustiawan, mengatakan masyarakat bisa melakukan perawatan kesehatan jiwa di puskesmas, dengan mendekatkan perawatan di tengah-tengah masyarakat diharapakan semua orang menyadari pentingnya kesehatan jiwa.
"Agar penanganan kesehatan jiwa dilakukan secara maksimal, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya melakukan pengabdian masyarakat," kata Ridwan, Rabu (22/7).
Puskesmas nan melakukan pemberdayaan kader sehat jiwa adalah Puskesmas Kawalu dan didukung Posyandu Anggrek di Kota Tasikmalaya. Hasil penemuan pada training kader tersebut didapatkan sebagian besar sehat jiwa, 817 terdeteksi berisiko dan 36 terdata mengalami gangguan jiwa. Pada pengabdian tahun ini tim pengabdian kesehatan masyarakat (pengabmas) bakal melakukan intervensi keperawatan kepada golongan sehat jiwa, golongan akibat dan golongan gangguan jiwa.
Pelatihan kader sehat jiwa mempunyai tugas untuk menggerakkan individu, family dan golongan sehat jiwa agar mengikuti pendidikan kesehatan jiwa agar tetap sehat jiwanya dengan upaya promotif dan preventif.
"Kemudian menggerakkan family dan golongan nan mempunyai family akibat masalah psikososial untuk mengikuti pendidikan kesehatan jiwa agar bisa menjadi sehat jiwa kembali, serta menggerakkan family nan mempunyai gangguan jiwa untuk mengikuti pendidikan kesehatan jiwa dan proses pemulihan dengan pengetahuan obat dan non pengetahuan obat agar bisa berdikari dalam aktivitas sehari harinya," jelas dia.
Tim pengabmas dan kader Posyandu Anggrek bekerja sama untuk melakukan aktivitas promotif dan preventif nan dilakukan pada golongan akibat ialah penyuluhan langkah aktivitas mengatasi kekhawatiran pada orang dengan penyakit kronis seperti hipertensi, stroke dan Diabetes Melitus (DM).
Pada golongan sehat dilakukan Terapi Kelompok Terapeutik (TKT) pada ibu dengan anak balita, dan mengundang family nan mengalami gangguan jiwa untuk dilakukan penyuluhan perawatan di rumah.
"Kegiatan pertama dilakukan pada golongan masyarakat nan mempunyai penyakit kronis, kader mengundang masyarakat nan mempunyai penyakit kronis menghadiri aktivitas penyuluhan langkah mengatasi kekhawatiran akibat mempunyai penyekit tersebut. Masyarakat nan datang cukup banyak, mereka mendengarkan dan mempraktikan langkah mengurangi kecemasan," ujar Ridwan.
Cara nan diajarkan diantaranya napas dalam, pengalihan, teknik 5 jari dan SEFT (Spiritual Emosi Freedom Tecknik). Diharapkan setelah mereka mengetahui langkah cara tersebut bisa mengurangi akibat kekhawatiran nan diakibatkan dari penyakit kronisnya.
Kegiatan kedua dilakukan pada golongan sehat ialah pada golongan ibu dengan anak balita. Pada golongan tersebut dilakukan penemuan perkembangan kesehatan jiwa serta beragam stimulasi agar ibu dapat melakukan aktivitas tersebut pada anak anaknya.
Ridwan menjelaskan dalam keperawatan jiwa intervensi tidak dilakukan setelah seseorang mengalami gangguan jiwa, bakal tetapi dilakukan preventif dan promotif dari semenjak sehat jiwa, agar terus dapat mempertahankan kesehatan jiwanya.
Pada anak balita nan terus dikembangkan adanya otonominya. Supaya pada fase itu berkembang dengan baik keahlian bisa melakukan sendiri aktivitas anak dibawah pengawasan orangtuanya.
Ridwan menjelaskan pada masa itu anak jangan banyak dilarang melakukan apa nan sedang dilakukan, tapi dijaga dan diarahkan saja, sehingga diharapkan di masa mendatang sikap kemandiriannya terus berkembang.
Kegiatan selanjutnya adalah mengundang family nan mempunyai personil family nan mengalami gangguan jiwa. Tim berbincang dengan family dan memberikan beberapa langkah perawatan di rumah tentang perawatan halusianasi, isolasi sosial, nilai diri rendah kronik, kurang perawatan diri maupaun perilaku kekerasan, dan dimotivasi juga untuk terus berobat dan kontrol ke pelayanan kesehatan.
"Tim sampaikan juga kepada para kader agar terus membantu mereka untuk mengurangi stigma di masyarakat, nan tetap kurang baik terhadap penderita gangguan jiwa," tuturnya.
Kegiatan itu dilakukan kepada salah satu posyandu dari 46 posyandu nan ada di wilayah kerja Puskesmas Kawalu Kota Tasikmalaya.
"Harapannya perihal tersebut bisa dilakukan di semua posyandu, jika pun tidak, posyandu ini dapat dijadikan sebagai contoh untuk posyandu lainnya. Hal tersebut tentunya tetap berada dalam kordinasi puskemas," pungkasnya. (H-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·