Jakarta, CNBC Indonesia - Target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui arus investasi dinilai tetap menghadapi pekerjaan rumah (PR) besar. Kalangan pengusaha menilai Indonesia sebenarnya tidak kekurangan minat investor, pasalnya Indonesia mempunyai Pasar domestik nan besar, bingkisan demografi hingga kekayaan sumber daya alam.
Artinya Indonesia mempunyai nyaris seluruh modal untuk menjadi salah satu tujuan investasi paling kompetitif di Asia lantaran mempunyai daya tarik utama bagi investor. Namun banyak proyek nan belum kunjung masuk ke tahap pembangunan akibat beragam halangan di lapangan.
"Indonesia tidak kekurangan investor. Kami memandang langsung gimana penanammodal datang, memilih lokasi, memulai proses investasi, apalagi banyak di antaranya menjadi bagian dari ekosistem industri nan tumbuh di kawasan-kawasan nan kami kelola," kata Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Akhmad Ma'ruf Maulana.
Namun, besarnya minat tersebut belum otomatis berujung pada pembangunan pabrik, aktivitas produksi, ekspor, maupun pembuatan lapangan kerja. Karena itu, HKI berambisi dapat menyampaikan langsung beragam masukan kepada Presiden berasas pengalaman para pengelola area industri di beragam daerah.
"Yang tetap menjadi pekerjaan rumah adalah gimana minat investasi itu dapat segera berubah menjadi pembangunan pabrik, aktivitas produksi, ekspor, dan pembuatan lapangan kerja. Karena itu, kami berambisi dapat menyampaikan langsung kepada Presiden beragam rekomendasi nan lahir dari pengalaman nyata para pengelola area industri di seluruh Indonesia," ujarnya.
Adapun langkah penanammodal dunia mengambil keputusan sekarang sudah berubah, ialah penanammodal tidak lagi hanya mempertimbangkan besarnya pasar dan melimpahnya sumber daya alam, tetapi juga menilai seberapa sigap kepastian berupaya dapat diperoleh. Artinya, penanammodal memandang Indonesia sebagai satu kesatuan, bukan berasas pembagian kewenangan antar kementerian alias lembaga.
"Investor tidak memandang persoalan berasas kewenangan masing-masing kementerian alias lembaga. Investor memandang Indonesia sebagai tujuan investasi. Karena itu, penyelesaiannya juga kudu dilakukan secara terpadu sebagai satu sistem nan memberikan kepastian, kecepatan, dan konsistensi," katanya.
Ukuran keberhasilan sebuah negara di mata penanammodal bukan ditentukan oleh banyaknya lembaga nan terlibat dalam proses perizinan, melainkan dari seberapa sigap proyek dapat dibangun hingga beroperasi. Berbagai persoalan, mulai dari tata ruang, lingkungan hidup, energi, pertanahan hingga infrastruktur, pada akhirnya dipandang sebagai satu rangkaian nan menentukan kepastian investasi.
Sayangnya, percepatan realisasi investasi tetap terkendala sejumlah bottleneck. Beberapa di antaranya adalah sinkronisasi tata ruang dan pertanahan, proses perizinan nan melibatkan banyak instansi, kepastian pasokan listrik dan gas untuk industri, persetujuan lingkungan hidup, pembangunan akses menuju pelabuhan, jalan tol dan jaringan kereta api, hingga koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Hambatan tersebut membikin realisasi investasi menyantap waktu lebih lama, meningkatkan biaya usaha, sekaligus mengurangi daya saing Indonesia dibandingkan negara-negara pesaing nan juga garang menarik investasi.
"Setiap investasi nan tertunda bukan hanya berfaedah tertundanya pembangunan pabrik. nan ikut tertunda adalah lapangan kerja, ekspor, transfer teknologi, pertumbuhan upaya lokal, serta penerimaan negara. Karena itu, persoalan investasi kudu dipandang sebagai persoalan strategis nasional nan memerlukan penyelesaian secara terpadu," tegas Ma'ruf.
(fys/wur)
[Gambas:Video CNBC]

53 menit yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·