Kemarau memicu krisis air di Cibarusah dan DAS Cipamingkis, Bekasi. Warga kesulitan memenuhi kebutuhan peternakan, pertanian & rumah tangga.
Kemarau nan berjalan lebih dari tiga bulan membikin wilayah Cibarusah dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cipamingkis, Kabupaten Bekasi, dilanda krisis air. Kondisi tersebut menyulitkan penduduk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk peternakan dan pertanian. (Dok. Detikcom/Ari Saputra)
Dikutip dari Detikcom, kondisi kekeringan juga terlihat di sepanjang aliran Sungai Cipamingkis. Debit air terus menyusut hingga waduk nan sebelumnya dialiri air deras sekarang hanya menyisakan kubangan dangkal. (Dok. Detikcom/Ari Saputra)
Kubangan tersebut tetap dimanfaatkan penduduk untuk beragam kebutuhan, mulai dari mandi, mencuci busana hingga membersihkan kendaraan. Namun, menyusutnya debit sungai membikin akses terhadap air bersih semakin terbatas. (Dok. Detikcom/Ari Saputra)
Kondisi kekeringan turut diperparah oleh sistem irigasi nan belum melangkah maksimal. Selain itu, perubahan penggunaan lahan di area hulu DAS Cipamingkis ikut memengaruhi kesiapan air. (Dok. Detikcom/Ari Saputra)
Kawasan rimba di hulu sungai telah berubah menjadi ladang, permukiman hingga perumahan. Perubahan tersebut menyebabkan sumber-sumber mata air menyusut ketika musim kemarau. (Dok. Detikcom/Ari Saputra)
Alih kegunaan lahan juga berakibat pada keahlian tanah dalam menyerap dan menyimpan air. Ketika hujan turun, berkurangnya area resapan membikin air lebih susah tersimpan untuk menjadi persediaan saat musim kemarau. (Dok. Detikcom/Ari Saputra)

58 menit yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·