Mohammad Reza Naqdi.(Dagens.com US)
PENASIHAT senior komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Mohammad Reza Naqdi, menyatakan bahwa memperpanjang bentrok dengan Amerika Serikat (AS) dapat menjadi strategi efektif untuk mencegah serangan di masa depan. Menurutnya, konfrontasi nan berkepanjangan bakal menunjukkan bahwa tindakan militer terhadap Teheran membawa akibat biaya nan sangat besar dan berkelanjutan.
Dalam wawancara dengan PBS NewsHour, Naqdi menjelaskan bahwa strategi atrisi (pelemahan) adalah jalur menuju pencegahan nan lebih kuat. Ia mengisyaratkan bahwa Iran mungkin bakal terus melanjutkan pertempuran hingga masa kedudukan presiden AS berikutnya. Tujuannya meyakinkan pemerintahan Washington di masa depan bahwa serangan lain terhadap Iran hanya bakal berujung pada konfrontasi nan panjang dan mahal.
Perubahan Penilaian terhadap Kekuatan Militer AS
Naqdi mengeklaim bahwa bentrok nan terjadi mengubah penilaian Iran terhadap kekuatan militer Amerika. Ia menyebut pasukan AS terbukti kurang bisa dibandingkan ekspektasi pejabat Iran sebelum bentrok dimulai. Konfrontasi langsung selama berbulan-bulan diklaim memberikan pemahaman nan lebih jelas bagi Teheran mengenai langkah kerja militer Amerika.
Meskipun mengakui bahwa Teheran belum mencapai tujuan akhirnya, Naqdi menggambarkan Iran memegang kelebihan sejauh ini. Ia beranggapan bahwa pengalaman tempur langsung mengurangi ketidakpastian nan dihadapi Iran pada awal konflik, sehingga pasukan mereka sekarang lebih siap jika permusuhan bersambung dalam jangka panjang.
Ketahanan Logistik dan Produksi Rudal
Terkait keahlian Iran dalam mempertahankan kampanye militer jangka panjang, Naqdi menyoroti pasokan rudal sebagai aspek kunci. Meski menolak merinci jumlah stok nan dimiliki, dia mengeklaim bahwa Iran memproduksi rudal lebih sigap daripada kecepatan penggunaannya di medan perang.
Produksi domestik nan berkepanjangan ini dipresentasikan sebagai bukti bahwa Teheran bisa mempertahankan tekanan militer apalagi dalam perang nan berkepanjangan.
Keamanan Maritim dan Kebijakan Nuklir
Wawancara tersebut juga menyinggung laporan serangan Iran terhadap kapal nonmiliter di Selat Hormuz. Naqdi memihak tindakan tersebut dengan argumen bahwa rute pelayaran di masa perang dapat dikendalikan jika kapal-kapal tersebut dianggap sebagai ancaman keamanan potensial.
Di sisi lain, dia menolak dugaan bahwa Iran memerlukan senjata nuklir untuk menangkal Washington. Naqdi menegaskan bahwa negaranya dapat mengandalkan corak perlawanan lain, meskipun dia tidak mengindikasikan ada perubahan dalam kebijakan nuklir umum Iran.
Respons Gedung Putih: Menyusul pernyataan tersebut, pihak Gedung Putih melalui PBS NewsHour mendesak Iran untuk segera mencapai kesepakatan dan memberikan peringatan keras mengenai akibat nan bakal terjadi jika kesepakatan tidak tercapai.
Mengenai absennya Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei dari publik selama konflik, Naqdi menyebut perihal itu karena masalah keamanan dan menolak memberikan info lebih lanjut mengenai keberadaannya. (Dagens.com US/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·