Penelitian Ungkap Lingkungan Luar Angkasa Dapat Mempercepat Penuaan Biologis

54 menit yang lalu 2
ARTICLE AD BOX
Penelitian Ungkap Lingkungan Luar Angkasa Dapat Mempercepat Penuaan Biologis Ilustrasi(Doc NASA)

SELAMA ini, para intelektual telah mengetahui bahwa berada di luar angkasa dalam waktu lama dapat menyebabkan massa otot menyusut dan kepadatan tulang menurun. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa dampaknya mungkin jauh lebih luas. Lingkungan luar angkasa rupanya juga dapat mempercepat proses penuaan biologis di dalam tubuh.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal GeroScience dan dilaporkan oleh Earth.com. Penelitian dipimpin oleh Profesor Michal Masternak dari University of Central Florida nan berupaya memahami gimana tubuh manusia merespons paparan radiasi kosmik dan kondisi mikrogravitasi, seperti nan bakal dialami astronaut dalam misi jangka panjang ke Mars.

Organ Hati Mengalami Penuaan Lebih Cepat

Dalam penelitian ini, tim memilih hati sebagai organ utama nan diamati. Alasannya, hati merupakan salah satu organ metabolisme terpenting nan berkedudukan mengatur penggunaan energi, menyimpan persediaan nutrisi, menetralisir racun, hingga menjaga beragam kegunaan tubuh tetap melangkah normal.

Menurut Masternak, perubahan nan terjadi pada hati rupanya muncul jauh lebih sigap dari perkiraan.

"Kami memfokuskan penelitian pada hati lantaran organ ini merupakan salah satu pusat metabolisme utama dalam tubuh. nan kami temukan adalah, hanya 24 jam setelah terpapar radiasi, terjadi banyak perubahan genetik pada hati nan sangat mirip dengan proses nan terjadi saat seseorang menua," ujar Masternak dikutip dari earth.com.

Ia menambahkan bahwa jika seseorang berada di luar angkasa dalam waktu nan lebih lama, kerusakan nan ditimbulkan kemungkinan bakal semakin besar.

Simulasi Perjalanan ke Mars

Untuk mengetahui akibat perjalanan luar angkasa jangka panjang, para peneliti menciptakan simulasi kondisi luar angkasa di laboratorium.

Dalam percobaan tersebut, model hewan ditempatkan selama 14 hari dalam kondisi mikrogravitasi buatan dan dipaparkan radiasi kosmik galaksi serta radiasi dari peristiwa partikel Matahari di NASA Space Radiation Laboratory. Besaran radiasi nan digunakan dirancang menyerupai paparan nan diperkirakan bakal diterima astronaut selama misi menuju Mars.

Hasilnya menunjukkan sejumlah perubahan biologis nan mengkhawatirkan. Peneliti menemukan peningkatan cellular senescence, ialah kondisi ketika sel-sel nan menua berakhir bekerja secara normal. Selain itu, terjadi peningkatan peradangan dan fibrosis alias pembentukan jaringan parut pada hati nan dapat mengganggu kegunaan organ.

Apabila kondisi tersebut berjalan terus-menerus, kerusakan organ berpotensi berkembang menjadi penurunan kegunaan hingga kegagalan organ.

Untuk memastikan temuan tersebut relevan pada manusia, tim peneliti membandingkannya dengan sampel darah dari NASA Twins Study serta astronaut nan mengikuti misi Inspiration4.

Perbandingan itu menunjukkan adanya pola perubahan genetik nan serupa, sehingga memperkuat dugaan bahwa paparan lingkungan luar angkasa memang dapat mempercepat proses biologis nan berangkaian dengan penuaan.

"Kami mempunyai info mentah dari penelitian pada manusia, dan hasilnya menunjukkan bahwa beberapa perubahan tersebut memang serupa. Ini memberi petunjuk bahwa kami telah menemukan sasaran molekuler nan suatu hari kelak mungkin dapat digunakan untuk melindungi astronaut selama menjalani misi luar angkasa berdurasi panjang," kata Masternak.

Berpotensi Membuka Jalan Bagi Terapi Baru

Penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi perubahan nan terjadi akibat paparan radiasi luar angkasa, tetapi juga mencari langkah untuk menguranginya.

Tim menemukan peran molekul nan disebut antagomir, nan bekerja dengan memengaruhi microRNA. Molekul microRNA diketahui berfaedah mengatur aktivitas gen di dalam sel.

Melalui sistem tersebut, antagomir diperkirakan dapat membantu menekan akibat penuaan sel dan peradangan akibat paparan radiasi nan menyerupai kondisi di luar angkasa.

Meski tetap berada pada tahap awal, temuan ini dinilai berpotensi menjadi dasar pengembangan terapi untuk melindungi astronaut dalam misi antariksa jangka panjang. Di sisi lain, hasilnya juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pengobatan penyakit nan berangkaian dengan proses penuaan pada manusia di Bumi.

Menurut Masternak, salah satu tantangan terbesar dalam penelitian penuaan adalah lamanya waktu nan dibutuhkan untuk mengawasi perubahan biologis secara alami.

"Dalam banyak penelitian, proses penuaan memerlukan waktu nan sangat lama. Pada manusia, penelitian semacam ini apalagi bisa menyantap waktu puluhan tahun. Namun, jika proses penuaan berjalan lebih sigap di luar angkasa, kita bisa menerapkan temuan tersebut untuk penelitian pada manusia," jelasnya.

Ia mengatakan, percepatan proses tersebut memungkinkan intelektual memahami sistem penuaan dalam waktu lebih singkat.

"Kita dapat mengawasi proses nan biasanya berjalan sangat lama menjadi jauh lebih cepat, memahaminya dengan lebih baik, dan pada akhirnya menggunakan pengetahuan itu untuk meningkatkan kesehatan manusia di Bumi," ujarnya.

Sumber: earth.com

Selengkapnya