Pengusaha Hotel Ngaku Belum Berani Rekrut Karyawan Baru, Kenapa?

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengungkapkan, pelaku industri perhotelan dan restoran tetap belum berani melakukan perekrutan tenaga kerja baru, meski okupansi hotel mulai menunjukkan perbaikan pada semester I-2026.

Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran mengatakan, pelaku upaya tetap konsentrasi melakukan efisiensi di tengah tekanan biaya operasional nan terus meningkat. Karena itu, perbaikan permintaan belum cukup kuat untuk mendorong ekspansi tenaga kerja.

"Belum (berani rekrut), itu tetap tetap kita kudu banyak melakukan efisiensi. Karena begini, persoalan hari ini adalah operasional cost (biaya operasional) kita tuh terus meningkat," kata Maulana kepada CNBC Indonesia, Jumat (31/7/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan biaya operasional tidak hanya berasal dari biaya energi, tetapi juga biaya tenaga kerja serta beragam tanggungjawab nan kudu dipenuhi pelaku upaya dalam mengurus perizinan.

"Ya utamanya di situ ada daya cost, nan kedua adalah employee cost, nan ketiga juga perizinan, kewajiban-kewajiban dalam melengkapi perizinan berusaha," ujarnya.

"Nah itu tentu bakal menjadi satu hambatan nan kita kudu survive (bertahan) di tengah pasar nan sebenarnya juga belum cukup baik ya. Karena banyak tantangannyalah untuk ke depan ya, untuk mencapai kelak di kuartal III-2026 dan kuartal IV-2026 nya gitu loh," jelas dia.

Menurut Maulana, tantangan tersebut diperkirakan tetap bakal bersambung hingga paruh kedua tahun ini. Selain kondisi pasar nan belum sepenuhnya pulih, industri perhotelan juga menghadapi akibat meningkatnya biaya perjalanan akibat ketidakpastian geopolitik global.

"Nah ini kita juga kudu antisipasi apalagi dengan kondisi perang nan tetap berkelanjutan, itu juga berakibat kepada cost of traveling nan juga meningkat. Karena kita nggak bisa pungkiri nilai bahan bakar itu sangat mempengaruhi kepada cost of traveling, dan juga biaya operasional," kata Maulana.

Lebih lanjut, PHRI mencatat tingkat okupansi hotel memang mengalami perbaikan pada kuartal II-2026, terutama selama periode libur sekolah. Namun, menurut Maulana, kenaikan tersebut tetap berkarakter musiman dan belum mencerminkan pemulihan industri secara menyeluruh. Namun, untuk berapa nomor peningkatan okupansinya, Maulana mengaku saat ini pihaknya tetap belum bisa memberikan data.

Ia mengatakan, sektor perhotelan tetap sangat berjuntai pada aktivitas korporasi, khususnya aktivitas meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Sementara itu, aktivitas tersebut belum kembali normal akibat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, sehingga pelaku upaya memilih tetap berhati-hati dan memprioritaskan efisiensi dibandingkan menambah jumlah karyawan.

(wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya