Pengusaha Properti Asal RI Pilih Investasi di Australia, Ini Alasannya

45 menit yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah besarnya pasar properti Indonesia, Capital Value International Group justru memilih mengembangkan proyek perumahan di Sydney, Australia. Salah satu argumen lantaran lama tinggal dan berbisnis di Negeri Kanguru. Selain itu, Ia memandang Sydney sebagai kota dunia dengan permintaan properti nan datang bukan hanya dari masyarakat lokal, tetapi juga penanammodal dan masyarakat dari beragam negara.

"Kalau kita bisa punya a piece of land di dunia city seperti Singapura, Tokyo, New York, whatever, itu kita punya demand bukan local only. Demand-nya itu dunia," kata CEO CVIG Chandra Leonardi di Gunawarman, Jakarta Selatan (Senin (10/8/2026).

Hal itu menjadi argumen pengembangan properti rumah tapak alias landed homes di Sydney. Keputusan itu juga diambil ketika kota tersebut tengah menghadapi persoalan kekurangan pasokan kediaman alias undersupply. Chandra menyebut Sydney mengalami kekurangan sekitar 187.000 rumah pada 2026. Pemerintah pun mulai gencar mendorong sejumlah area untuk mendorong pembangunan lebih banyak hunian.

"Pemerintah disana itu mengubah banyak sekali wilayah-wilayah lama menjadi wilayah-wilayah baru agar strata title property ini diperbanyak. Karena kita saat ini di 2026 itu udah undersupply 187 ribu rumah," ujarnya.

CVIG pun tengah mengembangkan proyek townhouse di Roselands, Sydney. Lahan proyek seluas nyaris 2.000 meter persegi itu bakal dikembangkan menjadi tujuh unit townhouse. Lokasinya juga relatif dekat dari pusat Kota Sydney, ialah kurang dari 20 kilometer alias sekitar separuh jam perjalanan.

Di sisi lain, pertumbuhan populasi Australia terus meningkat, didorong oleh program migrasi tenaga kerja terampil, mahasiswa internasional, serta migrasi permanen. Sydney dan Melbourne menjadi dua kota nan menerima arus migrasi terbesar, sehingga permintaan terhadap kediaman maupun properti sewa diperkirakan bakal tetap tinggi dalam jangka panjang.

Data Australian Bureau of Statistics (ABS) juga menunjukkan nilai pasar properti residensial Australia telah mencapai sekitar AUD12,8 triliun, sementara CoreLogic Australia mencatat nilai kediaman di Sydney tetap menjadi nan tertinggi di Australia dengan median nilai rumah melampaui AUD1,2 juta.

Sementara itu, tingkat kekosongan (vacancy rate) kediaman di Sydney tetap berada di kisaran 1.3%, nan menurut SQM Research, sehingga pasokan tetap sangat terbatas.

"Fundamental pasar Australia saat ini sangat kuat. Populasi terus bertambah, sementara pembangunan kediaman belum bisa mengimbangi pertumbuhan permintaan," kata Chandra.

Data terbaru Foreign Investment Review Board (FIRB) menunjukkan penanammodal Indonesia mencatatkan nilai persetujuan investasi properti residensial sekitar AUD100 juta, menjadikan Indonesia sebagai salah satu golongan penanammodal terbesar dari Asia setelah China, Hong Kong, dan Taiwan.

Sementara itu, kekuasaan penanammodal asal China di pasar properti Australia mulai menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Data Australian Taxation Office (ATO) dan Foreign Investment Review Board (FIRB) mencatat, nilai investasi properti dari China nan sempat mencapai sekitar A$31,9 miliar per tahun sekarang mengalami penurunan signifikan.

"Pergeseran peta investasi tersebut membuka kesempatan nan semakin besar bagi penanammodal Indonesia untuk mengisi ruang nan sebelumnya didominasi pembeli asal China," kata Chandra.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya