Peran Manusia Tetap Krusial di Era Keamanan Siber Berbasis AI

4 jam yang lalu 4
Peran Manusia Tetap Krusial di Era Keamanan Siber Berbasis AI Ilustrasi(magnific)

IMPLEMENTASI Kecerdasan Artifisial (AI) dalam bagian keamanan siber terus meningkat pesat. Namun, perusahaan keamanan siber global, Kaspersky, menegaskan bahwa peran manusia tetap menjadi pilar utama nan tidak tergantikan dalam memastikan keandalan sistem digital.

Head of Cybersecurity Education and Academic Affairs Kaspersky, Evgeniya Russkikh, menjelaskan bahwa meskipun AI sekarang sangat ocehan dalam mempertahankan sistem maupun melancarkan serangan, penilaian dan pemikiran kritis manusia tetap memegang peranan krusial.

"Ketika AI menjadi semakin ocehan dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia menjadi jauh lebih penting," ujar Evgeniya dalam aktivitas Kaspersky Academy Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu (20/8).

Dilema AI: Peluang dan Ancaman

Berdasarkan studi International Information System Security Certification Consortium (ISC2) 2025, AI telah mengubah lanskap industri keamanan siber secara fundamental. Di satu sisi, organisasi mulai memprioritaskan training AI, namun di sisi lain, ancaman serangan berbasis AI seperti deepfake dan penipuan identitas juga meningkat signifikan.

Data Implementasi dan Dampak AI Global (ISC2 2025) Indikator Persentase
Organisasi nan menempatkan training AI untuk keamanan siber 47%
Organisasi nan mengalami kerugian akibat serangan siber berbasis AI 40%

Evgeniya menekankan bahwa pemahaman manusia terhadap langkah kerja model AI menjadi kunci pertahanan. "Jika model AI sudah bisa melancarkan penyerangan siber, maka manusia nan melawannya kudu memahami langkah kerja dari model AI itu," tambahnya.

Kesenjangan Talenta di Asia Tenggara

Masalah besar nan dihadapi saat ini adalah kekurangan tenaga ahli. Kawasan Asia Pasifik tercatat menyumbang 60 persen dari total kesenjangan talenta siber dunia. Di Asia Tenggara, hambatan utama terletak pada syarat pengalaman kerja nan tinggi bagi pemula.

Tantangan Talenta Siber di Asia Tenggara Faktor Penghambat Data/Statistik
Syarat pengalaman kerja minimal 3 tahun untuk posisi keamanan siber 65%
Kontribusi Asia Pasifik terhadap kesenjangan talenta global 60%

Selain masalah pengalaman kerja, Asia Tenggara juga menghadapi tantangan berupa kurangnya pembimbing kompeten untuk melatih generasi muda serta terbatasnya materi training dalam bahasa lokal.

Sebagai solusi, Kaspersky mendorong kerjasama kuat antara akademisi, industri, dan kreator kebijakan. Sinergi ini diharapkan bisa mempercepat pencetakan talenta digital nan kompeten untuk menjaga AI tetap terkendali di bumi nyata.

"Kolaborasi ini sangat krusial untuk membangun sumber daya manusia nan dibutuhkan demi masa depan digital nan tangguh," tutup Evgeniya. (Ant/Z-1)

Selengkapnya