Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan terhadap Arab Saudi nan diklaim dilakukan golongan Houthi Yaman pekan ini rupanya diduga dilancarkan dari wilayah Irak dengan support kelompok-kelompok bersenjata Irak nan berkawan dengan Iran. Temuan tersebut muncul dari penilaian pemerintah Arab Saudi dan sejumlah mitra regionalnya, nan menilai koordinasi antar milisi pro-Iran di Timur Tengah sekarang makin erat dan lebih rawan dibanding sebelumnya.
Mengutip Reuters, Jumat (31/7/2026), dua pejabat area mengatakan sebagian serangan nan menghantam akomodasi minyak di Provinsi Timur Arab Saudi dilakukan dari wilayah Irak melalui operasi campuran antara Houthi dan golongan bersenjata Irak nan didukung Teheran.
Penilaian tersebut berbeda dengan jenis resmi nan selama ini disampaikan kepada publik.
Menurut kedua pejabat itu, operasi tersebut berjalan di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Temuan ini menunjukkan bahwa kelompok-kelompok nan tergabung dalam apa nan disebut Iran sebagai Poros Perlawanan makin memperkuat hubungan operasional mereka, sekaligus meningkatkan keahlian untuk menyerang sekutu-sekutu Amerika Serikat di kawasan.
Perkembangan tersebut terjadi meskipun selama bertahun-tahun kelompok-kelompok itu menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dan Israel, mulai dari Lebanon hingga Iran, terutama setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 2023.
Fasilitas Minyak Saudi Jadi Sasaran
Serangan nan dimaksud mencakup serangan terhadap akomodasi minyak di Provinsi Timur Arab Saudi, wilayah nan menjadi pusat utama produksi minyak mentah kerajaan tersebut. Sebagai respons, Arab Saudi berbareng Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah letak di Irak pada Rabu.
Riyadh menyatakan serangan itu menyasar letak nan mengenai dengan serangan terhadap Arab Saudi dan secara resmi menyalahkan kelompok-kelompok bersenjata Irak nan berkawan dengan Iran.
Di sisi lain, golongan Houthi menyatakan bahwa merekalah pelaku serangan tersebut.
Pemerintah Irak sendiri menyatakan tetap melakukan penyelidikan. Dua pejabat area nan berbincang kepada Reuters mengatakan sebagian serangan memang dilakukan dari wilayah Irak oleh golongan bersenjata Irak dan Houthi secara bersama-sama.
Setelah serangan udara Saudi-AS pada Rabu, media-media nan berafiliasi dengan Iran memberitakan kematian sejumlah personil IRGC, pejuang Irak, dan sedikitnya satu personil Houthi.
Koordinasi Antarmilisi Pro-Iran Meningkat
Peneliti Program Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga kajian Chatham House, Farea al-Muslimi, mengatakan hubungan antarkelompok dalam Poros Perlawanan sekarang jauh lebih erat dibanding sebelumnya.
"Sekarang terdapat training dan koordinasi langsung di antara personil Poros Perlawanan itu sendiri, bukan hanya antara mereka dan Iran," ujarnya.
Para analis menilai perkembangan ini juga menunjukkan semakin pentingnya posisi Irak dalam jaringan Poros Perlawanan, terutama setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah dan melemahnya Hizbullah di Lebanon.
Pemerintah Arab Saudi, Iran, dan Irak tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters. Demikian pula golongan Houthi.
Houthi sebelumnya mengatakan serangan terhadap Arab Saudi dilakukan sebagai jawaban atas serangan Saudi di Yaman dan bermaksud mematahkan apa nan mereka sebut sebagai "pengepungan" oleh kerajaan tersebut.
Arab Saudi membantah tuduhan itu dan menegaskan bahwa puluhan kapal telah tiba di pelabuhan-pelabuhan nan dikuasai Houthi sepanjang tahun ini.
Hubungan Lama Houthi dan Milisi Irak
Kerja sama antara Houthi dan golongan bersenjata Irak nan loyal kepada Iran sebenarnya bukan perihal baru.
Hubungan tersebut terutama terjalin dengan Kataib Hizbullah, nan dianggap sebagai golongan bersenjata Irak paling kuat dan paling terorganisasi.
Pada 2024, pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi mengumumkan keberadaan ruang operasi berbareng antara Houthi dan kelompok-kelompok Irak.
Pada tahun nan sama, kedua pihak juga mengumumkan operasi campuran pertama mereka nan menargetkan Israel.
Selain itu, Houthi juga mempunyai kehadiran permanen di Irak, termasuk instansi dan perwakilan resmi berjulukan Ahmed al-Sharafi.
Menurut laporan Reuters, Sharafi beberapa kali menghadiri pertemuan terbuka dengan partai-partai Syiah Irak dan kelompok-kelompok bersenjata nan berkawan dengan Iran.
Di sejumlah wilayah Baghdad, poster berwarna merah dan hijau nan menampilkan semboyan Houthi alias "Sarkha" juga telah lama terlihat.
Slogan tersebut berbunyi: "Allah Maha Besar, kematian bagi Amerika, kematian bagi Israel, kutukan bagi Yahudi, kemenangan bagi Islam."
Irak Menjadi Basis Strategis
Para analis menilai Irak mempunyai nilai strategis tinggi bagi Houthi dan kelompok-kelompok pro-Iran lainnya.
Wilayah negara itu nan sangat luas dan banyak area terbuka membikin aktivitas persembunyian maupun peluncuran serangan lebih mudah dilakukan secara rahasia.
Selain itu, Irak mempunyai perbatasan sepanjang lebih dari 800 kilometer dengan Arab Saudi nan dinilai susah diawasi sepenuhnya.
Kondisi tersebut menjadikan Irak letak ideal untuk melancarkan serangan ke Arab Saudi maupun negara-negara Teluk lainnya.
Selama bertahun-tahun, ratusan serangan terhadap Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab dituduhkan oleh negara-negara tersebut berasal dari golongan nan beraksi di Irak.
Di antaranya adalah serangan dua drone terhadap Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh pada Maret lampau serta serangan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di Uni Emirat Arab pada Mei.
Pemerintah Irak berulang kali menyatakan bakal menyelidiki tuduhan bahwa wilayahnya digunakan untuk menyerang negara-negara tetangga Arab.
Namun para pengkritik menilai Baghdad menunjukkan keahlian nan terbatas untuk mengatasi persoalan tersebut, sehingga merusak hubungan dan kredibilitasnya di mata negara-negara Teluk.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

9 jam yang lalu
5







English (US) ·
Indonesian (ID) ·