Jakarta, CNBC Indonesia - Kuburan massal ditemukan di Kurmuk, wilayah Blue Nile, Sudan. Hal ini terjadi setelah pasukan militer merebut kembali kota tersebut.
Komisaris Kurmuk, Abdel Aty Mohamed al Faki menyebut golongan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) nan memberontak, bertanggung-jawab pada kejadian memilukan itu. Milisi RSF telah mengeksekusi para korban tersebut.
Mengutip RT, Selasa (11/8/2026), setidaknya ada 25 jenazah. Di antara pada korban termasuk perempuan, anak-anak, dan pekerja rumah sakit.
"Unit militer menemukan kuburan tersebut saat melakukan operasi pembersihan di bagian timur laut Kurmuk, lebih dari sebulan setelah pasukan pemerintah kembali menguasai kota itu. Para korban disebut tewas di dekat Jebel Fankat, sebuah bukit nan digunakan RSF untuk melancarkan serangan menggunakan drone bunuh diri," tulis Sudan Tribune.
Perang antara Sudan Armed Forces (SAF) dan RSF pecah pada April 2023. Pertempuran kemudian menyebar ke beragam wilayah Sudan dan memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka.
Perang Sudan dan Tuduhan Campur Tangan Asing
Tuduhan serupa juga dilaporkan terjadi di Darfur pada November 2025. Sudan Doctors Network menuduh RSF mengumpulkan ratusan jenazah dari jalan-jalan dan permukiman di El-Fasher.
Sebagian jenazah disebut dikuburkan dalam kuburan massal, sementara lainnya dibakar untuk menghilangkan bukti pembunuhan. Pasukan pemerintah merebut kembali Kurmuk ketika Sudan Armed Forces (SAF) juga memperoleh sejumlah kemenangan di wilayah lain.
Pada akhir Juli, militer Sudan merebut kembali beberapa wilayah di North Kordofan dari RSF, termasuk Bara, Jabra al-Sheikh, dan Um Sayala. Setelah itu, Kepala Militer Sudan Abdel Fattah al-Burhan mengunjungi posisi pasukan di garis depan area tersebut.
SAF telah merebut kembali sejumlah wilayah krusial selama perang berlangsung. Pada 2025, militer merebut kembali Khartoum dan kemudian menyatakan seluruh wilayah ibu kota telah terbebas dari pasukan RSF.
Meski demikian, krisis kemanusiaan di Sudan terus memburuk. Awal bulan ini, utusan unik Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), Derk Segaar, menyerukan peningkatan support internasional.
"Sudan merupakan salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia, tetapi juga salah satu nan paling terabaikan," ujarnya.
Segaar mengatakan sekitar 35 juta orang memerlukan support kemanusiaan. Lebih dari 9 juta orang mengungsi di dalam negeri, sementara 4,5 juta lainnya melarikan diri ke luar Sudan.
Sudan sendiri termasuk negara Arab, sekaligus negara di Afrika. Secara geografis, Sudan berada di Afrika Timur Laut, berbatasan dengan Mesir, Libya, Chad, Republik Afrika Tengah, Sudan Selatan, Ethiopia, dan Eritrea.
Secara budaya, Sudan menggunakan bahasa Arab, nan merupakan salah satu bahasa utama. Sudan pun merupakan personil Liga Arab.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

2 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·