Perang Trump Hantam Amerika, Ekonomi AS Cuma Tumbuh 1,5%

2 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia- Perekonomian Amerika Serikat (AS) melambat pada kuartal II-2026 di tengah inflasi nan tetap memperkuat jauh di atas sasaran bank sentral. Kondisi ini diperkirakan semakin mempersempit ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk segera memangkas suku bunga.

Data Biro Analisi Ekonomi AS (BEA) nan dirilis Kamis waktu setempat menunjukkan produk domestik bruto (PDB) AS hanya tumbuh 1,5% (yoy) pada periode April-Juni 2026. Angka tersebut lebih rendah dibanding pertumbuhan 2,1% pada kuartal pertama dan juga di bawah ekspektasi ahli ekonomi nan disurvei Dow Jones sebesar 1,8%.

Meski pertumbuhan melambat, pelemahan terutama dipicu oleh penurunan shopping pemerintah federal dan berkurangnya persediaan. Sementara itu, konsumsi rumah tangga nan menjadi motor utama ekonomi AS justru menunjukkan perbaikan.

Belanja konsumen meningkat 2,1%, jauh lebih tinggi dibanding kenaikan hanya 0,4% pada kuartal sebelumnya. Selain itu, parameter permintaan domestik inti seperti penjualan akhir kepada pembeli domestik swasta, melonjak 3,9%, menandakan aktivitas sektor swasta tetap cukup kuat.

Di sisi lain, investasi domestik swasta naik 0,5%, ekspor meningkat 0,5%, sementara impor turun 1,5%, nan turut membantu menopang pertumbuhan ekonomi. Namun, penurunan persediaan sebesar 0,7% serta kontraksi shopping pemerintah federal 0,3% menjadi aspek utama nan menekan nomor PDB secara keseluruhan.

Di saat nan sama, inflasi tetap menjadi tantangan besar bagi The Fed. Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), nan menjadi referensi utama The Fed dalam mengukur inflasi, tercatat turun 0,1% secara bulanan pada Juni.

Namun secara tahunan, inflasi PCE tetap berada di level 3,7%, jauh di atas sasaran The Fed sebesar 2%. Sementara itu, core PCE nan tidak memasukkan komponen makanan dan daya naik 0,1% dibanding bulan sebelumnya dan memperkuat di 3,3% secara tahunan, sesuai perkiraan pasar.

Bagi pejabat The Fed, inflasi inti dinilai lebih mencerminkan tren nilai jangka panjang dibanding inflasi umum. Data tersebut dirilis sehari setelah The Fed memutuskan mempertahankan suku kembang acuannya di kisaran 3,5%-3,75%melalui hasil voting nan terbelah 9-3.

Korban Perang Trump di Iran?

Sebelumnya, inflasi sempat menunjukkan tren penurunan pada awal 2026. Namun, lonjakan nilai daya setelah bentrok nan melibatkan AS, Israel, dan Iran pada akhir Februari mendorong inflasi kembali meningkat dan menjadi perhatian utama kreator kebijakan.

Perang Presiden Donald Trump di Iran meningkatkan nilai kebutuhan hidup. Harga bensin satuan nasional AS sempat melonjak dari sekitar US$2,98 per galon sebelum perang menjadi lebih dari US$4,50 per galon pada puncaknya di Mei 2026.

Meski demikian, tekanan nilai daya mulai mereda pada Juni. Harga peralatan dan jasa daya turun 5,9%, didorong penurunan nilai bensin sebesar 9,2% seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah.

Inflasi perumahan juga melambat menjadi hanya 0,2%. Harga peralatan secara keseluruhan turun 0,6% dan nilai jasa hanya naik 0,1%.

Dari sisi rumah tangga, pengeluaran konsumen tetap memperkuat dengan kenaikan 0,3% pada Juni. Namun, pendapatan pribadi hanya meningkat 0,2%, lebih rendah dari perkiraan 0,3%.

Yang menjadi perhatian adalah masyarakat AS mulai mengandalkan tabungan untuk mempertahankan konsumsi. Tingkat tabungan pribadi turun menjadi 2,7%, level terendah dalam empat tahun, mengindikasikan tekanan terhadap daya beli mulai meningkat meski konsumsi tetap relatif kuat.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya