ilustrasi(NASA)
BAGIAN atas roket Falcon 9 seberat sekitar 4.000 kilogram menghantam permukaan Bulan pada Rabu (5/8/2026). Tabrakan tersebut menerbangkan awan debu regolit Bulan nan cukup besar hingga dapat teramati dari Bumi. Kejadian ini menambah panjang daftar material buatan manusia nan tersebar di satelit alami Bumi tersebut.
Hingga saat ini, sekitar 200 ton material berasal dari Bumi telah jatuh alias sengaja ditinggalkan di Bulan sejak era awal penjelajahan antariksa. Sebagian material mempunyai nilai sejarah penting, seperti modul pendarat dari enam misi Apollo, rover Lunokhod milik Uni Soviet dari era 1970-an, hingga robot Yutu 1 dan 2 milik China. Namun, banyak pula objek nan tidak sengaja jatuh di sana, seperti sisa-sisa roket nan terlantar di orbit antara Bumi dan Bulan.
Ahli astronomi dan sejarawan antariksa Jonathan McDowell menilai intensitas aktivitas luar angkasa nan kian tinggi berisiko memperburuk kondisi ini.
"Kita berada dalam masa transisi. Dari era ketika eksplorasi Bulan tergolong langka dan didominasi AS serta Uni Soviet, sekarang kita memandang negara-negara lain serta misi komersial mulai mendarat di Bulan. Namun, tata kelola belum bisa mengimbanginya. Kita belum mempunyai serangkaian kesepakatan internasional tentang langkah beraksi di sekitar Bulan," ujar McDowell.
Secara hukum, aktivitas manusia di Bulan merujuk pada Outer Space Treaty Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1967. Petugas kebijakan di Royal Astronomical Society Inggris, Marieta Valdivia Lefort, menjelaskan bahwa Pasal IX perjanjian tersebut mewajibkan setiap negara menghindari pencemaran nan merugikan. Kendati demikian, pemisah pencemaran tersebut belum diatur secara spesifik.
"Perjanjian Luar Angkasa tidak mendefinisikan kapan kontaminasi menjadi 'merugikan'. Regulasi tersebut tidak menetapkan pemisah jumlah sampah, tidak membikin letak pembuangan resmi, dan tidak mewajibkan setiap objek di Bulan untuk diangkut kembali," tulis Lefort melalui email.
Meskipun Bulan mempunyai luas permukaan sekitar 38 juta kilometer persegi, gravitasinya nan rendah (sekitar 17% dari gravitasi Bumi) membikin debu hasil hantaman melayang jauh dan menyantap waktu lama untuk mengendap. McDowell mengingatkan bahwa lontaran debu ini merupakan peristiwa berskala kontinental nan dapat mengganggu penelitian ilmiah maupun instrumen di pangkalan manusia masa depan. Selain itu, jatuhnya buntang roket berisiko merusak bukti geologis alami nan belum sempat diteliti.
Pakar norma antariksa dari Bond University Australia, Gregory Radisic, menambahkan bahwa kejadian Falcon 9 ini menjadi momentum krusial untuk membahas perilaku bertanggung jawab di luar angkasa.
"Bukan lantaran perencanaan nan baik perihal ini tidak menghantam sesuatu nan penting. Hanya lantaran keberuntungan semata kita hanya membahas masalah teoritis dan tidak kehilangan penelitian berbobot jutaan dolar alias situs penelitian ilmiah nan penting," kata Radisic.
Roket Falcon 9 nan menghantam Bulan tersebut sebelumnya ditinggalkan di orbit bumi tinggi pada Januari 2025 setelah mengantar pendarat Blue Ghost milik Firefly Aerospace dan Resilience milik ispace. Sejak peluncuran tersebut, SpaceX telah mendorong sisa roket misi Bulan mereka lebih jauh ke orbit mengelilingi mentari guna menghindari tabrakan tak terduga.
"Saya berambisi kita memandang norma baru nan berkembang, dan apa nan kita lihat sekarang bukan lagi langkah membuang sisa roket di masa depan," tutur McDowell. (Space/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·