Tenaga Kerja Teknis Indonesia Mulai Isi Sektor Pertanian Berteknologi Tinggi di Jepang

1 hari yang lalu 7
Tenaga Kerja Teknis Indonesia Mulai Isi Sektor Pertanian Berteknologi Tinggi di Jepang Ilustrasi(Dok Istimewa)

TENAGA kerja teknis asal Indonesia mulai mengambil peran strategis dalam menggerakkan sektor pertanian berteknologi tinggi di Jepang. Kehadiran SDM terampil ini tidak lagi sekadar mengisi posisi pekerjaan fisik, melainkan menjadi bagian krusial dari modernisasi pertanian berbasis teknologi presisi nan tengah diterapkan di Negeri Sakura. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala LKP Bali Japan Dream, Chikako Ishikawa, saat memberikan pemaparan dalam kuliah umum daring nan diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa pada Sabtu (17/8).

Dalam pemaparannya, Chikako menyajikan info Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang (MHLW) per akhir Oktober 2025 nan mencatat jumlah tenaga kerja asing di Jepang telah mencapai 2.571.037 orang, alias melonjak 11,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Tenaga kerja internasional ini tersebar di 371.215 tempat usaha, nan menandakan bahwa Jepang semakin berjuntai pada SDM global, tidak hanya di kota-kota besar tetapi juga di wilayah dan sektor pertanian.

"Kebutuhan tenaga kerja di sektor pertanian Jepang mengalami lonjakan nan sangat pesat. Hingga Juni 2025, jumlah pekerja berstatus Tokutei Ginou di sektor pertanian telah mencapai 35.454 orang, alias melesat sekitar 5,7 kali lipat dibandingkan posisi Desember 2021 nan baru mencatatkan 6.232 orang," pasar Chikako.

Menariknya, Indonesia tampil sebagai penyumbang terbesar pekerja terampil pada sektor tersebut. Data per akhir Juni 2025 menunjukkan Indonesia menduduki ranking pertama berasas kebangsaan dengan total 12.626 orang. Angka ini mencakup 36 persen dari seluruh pekerja Tokutei Ginou di sektor pertanian Jepang, nan berfaedah rata-rata 1 dari setiap 3 pekerja asing di sektor pertanian Jepang berasal dari Indonesia.

Peluang pekerjaan di sektor pertanian ini pun tidak lagi terbatas pada pemisah waktu singkat. Chikako memaparkan bahwa skema Tokutei Ginou 2 (SSW 2) sekarang membuka jalan bagi pekerja untuk membangun pekerjaan jangka panjang, bukan sekadar bekerja selama lima tahun. Hingga Juni 2025, tercatat sebanyak 519 orang telah memegang status Tokutei Ginou 2 di sektor pertanian Jepang, dengan rincian 371 orang di bagian budidaya tanaman dan 148 orang di bagian peternakan.

"Melalui skema Tokutei Ginou 2, visa dapat diperpanjang tanpa pemisah total masa tinggal selama memenuhi syarat keahlian dan pengalaman nan ditentukan. Ini adalah kesempatan besar bagi pekerja untuk meniti pekerjaan jangka panjang di Jepang," jelas Chikako.

Selain unggul secara jumlah dan penguasaan teknis, Chikako menekankan bahwa karakter individual pekerja Indonesia mempunyai nilai tambah tersendiri di mata para pemberi kerja di Negeri Sakura. Keramahan dan sikap positif menjadi kelebihan komparatif nan membikin SDM asal Indonesia sangat diminati.

"Pekerja asal Indonesia sangat disukai di Jepang lantaran dikenal murah senyum, ramah, dan tidak pernah jutek. Meskipun sedang berada dalam kondisi susah alias menghadapi masalah pekerjaan nan berat, mereka tetap menunjukkan kepribadian nan santun dan hangat. Kematangan emosional seperti ini membikin suasana kerja menjadi nyaman dan proses penyesuaian dengan masyarakat Jepang melangkah sangat cepat," ujar Chikako Ishikawa.

Ia menjelaskan bahwa pasar kerja ahli di Jepang saat ini menyediakan dua jalur visa utama, ialah Tokutei Ginou alias Specified Skilled Worker untuk tenaga kerja terampil di bagian teknis, serta Gijinkoku (Engineer / Specialist in Humanities / International Services) nan dikhususkan bagi lulusan perguruan tinggi agar dapat bekerja sesuai disiplin keilmuan akademiknya. 

Khusus untuk skema Tokutei Ginou di sektor pertanian dan manufaktur, calon pekerja diwajibkan memenuhi kualifikasi ganda, ialah kelulusan uji kemahiran bahasa Jepang minimal standar JFT A2 serta sertifikasi skill teknis pada sektor nan dituju. 

Guna memastikan kesiapan SDM dalam mengangkat budaya kerja berteknologi tinggi, penyiapan tenaga kerja kudu melalui empat tahapan nan terintegrasi. Proses diawali dengan seleksi bentuk dan mental melalui psikotes serta tes kesehatan awal (Pre-Medical Check Up), dilanjutkan training intensif bahasa dan budaya Jepang selama 4 hingga 6 bulan. Setelah itu, peserta menjalani ujian kompetensi bahasa (JFT A2) dan tes skill teknis untuk mengantongi sertifikasi resmi. Tahapan diakhiri dengan penyelarasan kerja (job matching) melalui wawancara langsung dengan perusahaan pengguna di Jepang hingga pengurusan visa keberangkatan. 

"Sektor pertanian di Jepang telah menerapkan otomatisasi industri secara luas, sehingga tenaga kerja tidak hanya mengandalkan otot, tetapi juga penguasaan teknologi. Perusahaan-perusahaan di sana juga menyediakan akomodasi tempat tinggal nan terstandar bagi para pekerja migran," lanjut Chikako. 

Ia menambahkan bahwa kombinasi antara penguasaan teknologi modern, pengakuan mutu pendidikan nan matang, serta modal karakter kepribadian nan positif bakal menjadi kunci utama bagi lulusan perguruan tinggi Indonesia untuk menangkap kesempatan pekerjaan internasional ini secara optimal.(H-2)
 

Selengkapnya