Persoalan Karhutla di Kalimantan, Pakar: Jangan Buat Panik Masyarakat

1 hari yang lalu 10
 Jangan Buat Panik Masyarakat Ilustrasi(Dok Kementerian Kehutanan )

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian luas masyarakat dalam beberapa hari terakhir. Informasi mengenai karhutla nan beredar sigap di tengah masyarakat apalagi memicu kepanikan, terutama mengenai banyaknya titik panas nan terdeteksi di sejumlah wilayah.

Namun, masyarakat diimbau tetap waspada dan tidak larut dalam kepanikan. Pasalnya, info mengenai titik panas alias hotspot nan terdeteksi perlu diverifikasi kembali di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya. Karhutla di Kalimantan Barat juga mendapat perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto nan turun ke lapangan untuk meninjau penanganan karhutla di Kalbar, Sabtu (22/8). 

Guru Besar Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak sekaligus Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Prof H Gusti Hardiansyah, mengatakan masyarakat perlu membedakan antara info titik panas nan terdeteksi dengan kondisi kebakaran nan betul-betul terjadi di lapangan. 

“Kalau saya lihat nih, kita kudu bedakanlah dengan info ya. Saya merasa seminggu ini terlalu panik. Pemberitaan-pemberitaan itu panik kesannya,” ujar Gusti. 

Menurut dia, info hotspot nan berasal dari Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi), sebuah platform digital resmi dari Kementerian Kehutanan. Lalu, info dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tetap perlu dilakukan ground truthing.

“Padahal di lapangan ya, nan paling perlu itu kan, info tadi dibilang info hotspot dari SiPongi, dari BMKG, itu kan perlu di ground truthing ya,” paparnya. 

Ia mencontohkan, beberapa waktu lampau muncul laporan mengenai sekitar 3.400 hotspot di Kalimantan Barat. Jumlah serupa juga dilaporkan terjadi di Kalimantan Tengah. Namun, setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berbareng tim melakukan pengecekan langsung ke lapangan, jumlah titik nan betul-betul menunjukkan adanya kebakaran rupanya lebih sedikit. 

“Kemarin kita lihat di Kalbar, paginya dapat buletin 3.400an hotspot, di Kalteng juga demikian. Tapi setelah BNPB dan tim turun, itu kurang dari itu. Artinya apa? Memang saat ini jangan sampai menimbulkan kepanikan,” tutur Gusti.

Ia juga menyoroti kondisi di Malaysia nan berada di Pulau Kalimantan. Ia menyebut adanya pemberitaan mengenai sekitar 600 sekolah di Malaysia nan diliburkan akibat kondisi kabut asap.

“Saya juga cek teman-teman. Saya pikir memang kebetulan anginnya ke arah sana,” lanjut dia.

Di Kalimantan Barat, kondisi kabut asap juga sempat berakibat terhadap aktivitas penerbangan. Gusti mengatakan, Bandara Internasional Supadio Pontianak sempat mengalami penundaan penerbangan.

“Kalbar juga kemarin di Supadio ada delay sebentar, ada kurang lebih 20 penerbangan,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla. Di sisi lain, dia mengapresiasi langkah Presiden Prabowo nan datang langsung ke Kalimantan Barat untuk memandang kondisi karhutla dan penanganannya.

Selain pemerintah, menurut dia, bumi upaya juga telah melakukan sejumlah langkah kesiapsiagaan. Pengusaha melalui Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) disebut telah mengeluarkan info dan melakukan persiapan di lapangan. Lebih jauh, tingginya akibat karhutla, termasuk akibat kondisi El Nino, kudu diimbangi dengan kesiapan nan juga tinggi.

"Artinya apa? Risiko karhutla nan tinggi, betul, El Nino nan tinggi, itu kita musuh juga dengan kesiapan kita nan tinggi. Sehingga tidak panik,” terangnya.

Gusti menilai kepanikan justru dapat membikin penanganan karhutla menjadi tidak efektif. Kondisi ini berpotensi membikin masyarakat dan beragam pihak justru saling mencari kesalahan.

“Karena kesannya jika kita panik, kita sesama kita mencari kesalahan, kesalahan ini jadi saling salah,” ungkap dia.

Ia juga mengingatkan kembali pentingnya komitmen pemerintah dalam menangani karhutla. Menurutnya, langkah tegas pemerintah pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo terhadap abdi negara keamanan dalam persoalan karhutla dapat menjadi pelajaran. Gusti menilai kesiapan penanganan karhutla juga perlu dibarengi dengan penjelasan kepada masyarakat mengenai operasi modifikasi cuaca (OMC).

Berbagai unsur seperti BMKG, TNI, dan Polri telah menyiapkan pesawat untuk mendukung operasi tersebut. Pendanaan dari Kementerian Sekretariat Negara juga disebut telah tersedia. Namun, hambatan nan dihadapi saat ini adalah kondisi awan nan tidak mendukung penyelenggaraan operasi modifikasi cuaca secara optimal. 

“Dan nan paling krusial ini, penjelasan masyarakat bahwa operasi modifikasi cuaca, artinya apa? Kita lihat kesiapan BMKG, TNI, Polri, pesawat-pesawat sudah siap, pendanaan dari Kementerian Sekretariat Negara juga sudah siap, tapi lantaran awannya tipis ya, tipis sekali. Jadi ini juga perlu kita jelaskan,” katanya.

Gusti mencatat perguruan tinggi juga perlu ikut memikirkan teknologi alias pendekatan lain nan dapat digunakan untuk membantu penanganan karhutla. Gusti menegaskan, penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Seluruh pihak, termasuk pemerintah, perusahaan, masyarakat, aparat, perguruan tinggi, dan media, perlu terlibat.

"Dan tentunya ini tidak bisa kerja satu lembaga sendiri. Dan saya pikir juga media berkedudukan untuk mengevaluasi ini,” imbuhnya.

Ia mengatakan, andaikan ditemukan adanya unsur kesengajaan dalam pembakaran lahan alias terdapat pihak nan tidak menjalankan standar operasional prosedur (SOP) pencegahan karhutla, penegakan norma kudu dilakukan.

Sementara itu, mengenai kesiapan dalam jangka pendek, Gusti mengatakan kondisi El Nino tetap perlu menjadi perhatian lantaran berpotensi meningkatkan akibat karhutla. Menurut dia, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu memahami pola karhutla berasas info dalam beberapa tahun terakhir. Dengan memandang pola tersebut, menurut dia, upaya penanganan perlu dilakukan lebih efektif, salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca.

“Nah tentunya memandang info ini, tadi itu, memang sekarang jika mau lebih efektif itu dengan OMC, Operasi Modifikasi Cuaca,” ucap dia.

Namun, penyelenggaraan OMC tetap menghadapi hambatan lantaran tidak terdapat awan nan cukup untuk mendukung penyelenggaraan operasi tersebut. Gusti menilai kondisi tersebut juga perlu disampaikan kepada masyarakat agar publik memahami bahwa pemerintah dan beragam pihak telah melakukan upaya untuk menangani karhutla. 

Selain upaya teknologi dan penanganan di lapangan, Gusti juga membujuk masyarakat untuk melakukan pendekatan keagamaan dan memanfaatkan kearifan lokal dalam menghadapi kondisi kekeringan dan ancaman karhutla.

“Ada perihal nan terakhir mungkin lantaran sebagai umat beragama, bagi umat Islam, kita kudu laksanakan shalat istisqa, minta hujanlah,” cetus dia.

Gusti berambisi seluruh upaya tersebut dapat dilakukan secara bersama-sama untuk menghadapi ancaman karhutla nan tetap berpotensi terjadi dalam beberapa pekan ke depan. 

"Mungkin ini ya, lantaran ini adalah bencana, jadi kita juga ada tangan-tangan Tuhan nan memang kita harapkan memberikan rahmat dan hidayah untuk kita menjaga lingkungan kita ini,” pungkasnya. (E-4)

Selengkapnya