Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) sukses menorehkan capaian krusial dalam transformasi upaya berkelanjutan. Salah satunya melalui Terminal LPG Tanjung Sekong nan dikelola PT Pertamina Energy Terminal (PET), anak upaya PT Pertamina International Shipping (PIS), nan resmi meraih Green Terminal Label Certification (GTLC) bintang 2 dari Bureau Veritas (BV).
Sertifikasi ini menandakan Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai terminal LPG pertama di Indonesia dan bumi nan memperoleh predikat tersebut. Prosesi penyerahan sertifikat tersebut dilakukan dalam aktivitas Closing Ceremony Green Terminal Label Certification, nan diselenggarakan di Grand Ballroom PIS, pada Rabu (5/8).
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono menyatakan, pencapaian ini menjadi tonggak krusial bagi Pertamina sekaligus Indonesia dalam mendorong pengelolaan terminal daya nan lebih ramah lingkungan.
"Sertifikasi ini menjadi kebanggaan bagi Pertamina, dan juga bagi Indonesia lantaran pertama kalinya sebuah terminal LPG mendapatkan sertifikasi Green Terminal Label bintang 2. Ini menunjukkan transformasi Pertamina dalam membangun upaya nan berkepanjangan bagi masa depan perusahaan maupun lingkungan," ujar Agung dalam keterangan tertulis, ditulis Jumat (7/8/2026).
Dirinya bilang, capaian tersebut berbobot strategis lantaran standar Green Terminal diterapkan pada akomodasi daya dengan karakter akibat tinggi, terutama dalam aktivitas penyimpanan dan penanganan LPG. Sebagian besar terminal lain nan telah memperoleh sertifikasi GTLC merupakan pelabuhan umum alias terminal peti kemas.
Agung menyebutkan, sertifikasi tersebut juga turut menunjukkan keahlian Pertamina dalam mengintegrasikan keandalan operasional dengan prinsip keberlanjutan.
"Pencapaian ini membuktikan bahwa Terminal LPG Tanjung Sekong tidak hanya beraksi secara andal, tetapi juga telah menerapkan sistem operasional berkepanjangan nan mencakup aspek energi, lingkungan, digitalisasi, keselamatan, hingga komitmen terhadap pengurangan emisi karbon," terangnya.
Salah satu pengembangan utama dalam program Green Terminal Tanjung Sekong adalah integrasi daya terbarukan melalui pemanfaatan daya surya dan rencana penggunaan hidrogen hijau. Pertamina tengah mengembangkan akomodasi produksi hidrogen hijau berbasis panas bumi oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. di Ulubelu, Lampung, dengan kapabilitas produksi hingga sekitar 100 kilogram per hari menggunakan teknologi elektrolisis Anion Exchange Membrane (AEM).
Rencananya, hidrogen tersebut bakal dimanfaatkan di Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai bagian dari upaya pengembangan ekosistem hidrogen Pertamina dari hulu hingga hilir. Langkah ini ditempuh guna meningkatkan porsi pemanfaatan daya terbarukan pada kebutuhan listrik terminal.
Agung menegaskan penerapan standar Green Terminal pada akomodasi penyimpanan dan penanganan LPG dapat menjadi referensi bagi pengembangan terminal minyak, gas, LNG, dan LPG lainnya, khususnya di lingkungan Pertamina Group.
Pertamina menargetkan enam akomodasi terminalnya juga memperoleh Green Terminal Label di masa depan, di antaranya Terminal LPG Tuban, Fuel Terminal Baubau, Fuel Terminal Kotabaru, dan Integrated Terminal Tanjung Uban.
"Kami mau mereplikasi konsep Green Terminal ini ke terminal-terminal lainnya sehingga semakin banyak akomodasi Pertamina nan beraksi dengan prinsip keberlanjutan. Keunggulan Pertamina sebagai perusahaan daya nan terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir menjadi modal utama dalam mempercepat transisi energi. Sehingga ini menjadi sesuatu nan menjadi nilai tambah, keunikan, kekhasan Pertamina sehingga sustainability tadi bisa dicapai, dan dengan kerjasama antar perusahaan semua bisa dicapai," jelasnya.
Terminal LPG Tanjung Sekong berlokasi di Cilegon, Banten, dan berkedudukan sebagai salah satu pusat daya strategis nan mendukung penerimaan, penyimpanan, serta pengedaran LPG kepada masyarakat dan industri. Terminal tersebut mempunyai kapabilitas penyimpanan sebesar 98.000 MT (Metrik Ton) alias 196.000 CBM (Cubic Meter), alias setara dengan 35-40 % kebutuhan LPG Nasional dengan akomodasi jetty nan dapat melayani kapal berkapasitas sekitar 3.500 hingga 65.000 DWT (Deadweight Tonnage).
Proses sertifikasi sendiri dimulai sejak kick-off pada 11 Februari 2026, dilanjutkan dengan gap assessment and refreshment workshop, audit awal, serta audit final pada Juli 2026. Hasil audit final menunjukkan Terminal LPG Tanjung Sekong mendapatkan skor 78,86% dan mengantarkannya memperoleh predikat Bintang 2 dari maksimal Bintang 3.
"Audit ini dilakukan oleh BV sebagai Lembaga auditor independen internasional dan membuktikan bahwa standar nan diterapkan sudah bergengsi dunia," kata Agung.

Sementara itu, BV Southeast Asia Industry Director Joko Prakoso menjelaskan proses sertifikasi dilakukan dengan mengedepankan verifikasi berbasis info dan bukti lapangan.
Penilaian Green Terminal Label tidak hanya berfokus pada satu aspek, melainkan mencakup beragam parameter keberlanjutan, mulai dari keahlian lingkungan, efisiensi penggunaan energi, pengurangan emisi gas rumah kaca, aspek keselamatan dan kesehatan kerja (HSE), tata kelola perusahaan alias good governance, operation excellence, komitmen para pemangku kepentingan, hingga keberlanjutan program perusahaan.
"Kami melakukan proses verifikasi secara independen. Penilaiannya kudu berasas bukti dan info nan nyata, bukan hanya pernyataan. Setelah seluruh aspek memenuhi persyaratan, kami menyatakan terminal ini layak memperoleh sertifikasi Green Terminal Label bintang 2," jelas Joko.
Lebih lanjut, Joko menyampaikan, sebagai terminal LPG pertama di bumi nan memperoleh sertifikasi ini, pencapaian tersebut menetapkan tolok ukur baru di tingkat dunia untuk operasional terminal nan berkelanjutan. "Kami berambisi pencapaian ini dapat menginspirasi penerapan praktik-praktik berkepanjangan nan lebih luas di seluruh sektor energi," minta Joko.
Capaian Green Terminal LPG Tanjung Sekong menjadi bukti nyata komitmen Pertamina terhadap penerapan prinsip ESG, kepatuhan terhadap izin lingkungan, serta support terhadap pencapaian sasaran Net Zero Emission pada tahun 2060 alias lebih cepat.
Untuk itu, Pertamina menegaskan perannya sebagai perusahaan daya nasional nan terus mendorong penemuan rendah karbon dan memperkuat kontribusi terhadap agenda transisi daya Indonesia, termasuk pada sektor transportasi dan storage nan mempunyai peran strategis dalam rantai pasok daya nasional.
(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·