ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) tengah mendorong pengembangan sumur minyak dan gas bumi (migas) non konvensional (MNK). Nantinya, PHR bakal menjadi perusahaan pertama di Indonesia nan menggarap potensi migas non konvensional.
Sebagai informasi, sumur MNK nan saat ini dikembangkan oleh PHR ialah Sumur Gulamo DET-1, Blok Rokan dan Sumur Kelok DET-1, Blok Rokan.
Direktur Utama PHR Muhammad Arifin menjelaskan bahwa perusahaan tengah menyiapkan tahapan untuk mengolah persediaan minyak nan selama ini susah diangkat. Ia menegaskan bahwa pengembangan tersebut merupakan terobosan untuk memenuhi kebutuhan daya dalam negeri.
"Bahkan jika di Rokan kami pun insya Allah entering a new business di salah satu reservoir nan baru saja kita temukan ialah kita sebut migas non konvensional. Which is ini insya Allah nan pertama di Indonesia untuk kita kembangkan demi mempertahankan kebutuhan daya nasional," katanya dalam Energy Corner CNBC Indonesia, dikutip Senin (13/7/2026).
Berdasarkan catatan perusahaan, temuan tersebut mencapai nyaris 740 juta barel setara minyak, nan dinilai sebagai salah satu penemuan terbesar di Indonesia dalam 10 tahun terakhir.
"Alhamdulillah temuan 2C-nya, sumber dayanya cukup besar dan dalam 10 tahun terakhir itu termasuk nan paling besar di lapangan-lapangan minyak sebesar nyaris 740 juta barrels oil equivalent," tambahnya.
Berbeda dengan sumur konvensional nan minyaknya bisa langsung mengalir saat dilubangi, pengembangan MNK memerlukan teknologi multi-stage fracturing untuk menembus bebatuan agar minyak nan lengket dapat terangkat.
Saat ini, perusahaan tengah mematangkan proses manajemen perjanjian bagi hasil (KBH) baru dengan pemerintah guna memulai tahap pengeboran lanjutan.
"Kita harapkan di bulan Juli ini kita mendapatkan persetujuan KBH sehingga insya Allah kelak di bulan Desember tahun 2026 ini kita lakukan pengeboran tajak sumur appraisal nan pertama," imbuhnya.
Jika seluruh tahapan percobaan teknologi berhasil, persediaan MNK tersebut diproyeksikan bisa menghasilkan minyak hingga 50.000 barel per hari (bph) pada puncak produksi.
"Mudah-mudahan MNK lapangan di Rokan ini bisa berkontribusi sampai kelak peak-nya di 40 sampai 50 ribu barrels oil per day buat negara," tandasnya.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pengembangan migas non konvensional (MNK) dapat mulai diimplementasikan dalam waktu dekat. Hal ini krusial untuk mengurangi ketergantungan impor.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan saat ini pemerintah berbareng Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) tengah mempercepat penyelesaian kerangka izin guna mendukung pengembangan bukan migas biasa tersebut.
Menurut dia, pengembangan migas non konvensional menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
"Jadi untuk ini (MNK) sudah ada kajian awal nan dilakukan oleh Pertamina Hulu Rokan untuk pengembangan non konvensional ini. Jadi kita mengharapkan peningkatan produksi itu relatif signifikan," ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jumat (5/6/2026).
Ia membeberkan pemerintah tengah membahas sejumlah opsi teknologi nan ditawarkan beragam pihak untuk mendukung pengembangan MNK. Beberapa penyedia teknologi telah dipertemukan dengan SKK Migas guna membahas kesempatan penerapan di lapangan.
Yuliot mengungkapkan SKK Migas menargetkan kerangka izin pengembangan migas non konvensional dapat diselesaikan pada akhir Juni. Dengan demikian, penerapan awal dapat dimulai pada Juli mendatang.
"SKK Migas itu minta jika bisa akhir Juni ini sudah bisa diselesaikan kerangka regulasinya dan juga bisa diimplementasikan pada awal Juli. Jadi ini kita lagi berkejaran dengan waktu," ujarnya.
(wia)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·