ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) dan Boeing (NYSE: BA) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk menjajaki pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia sebagai bagian dari upaya mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan dan percepatan transisi daya menuju Net Zero Emission (NZE).
Sejalan dengan visi Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, Indonesia terus mendorong pengembangan SAF sebagai salah satu solusi untuk mengurangi emisi karbon di sektor penerbangan sekaligus mendukung terciptanya industri penerbangan nan lebih berkelanjutan. Berdasarkan laporan ASEAN 2050 SAF Outlook, Indonesia menempati ranking tiga besar di ASEAN dengan potensi surplus produksi SAF terbesar nan diproyeksikan mencapai 2,2 juta barel per hari pada tahun 2050.
Melalui kerja sama ini, Pertamina dan Boeing bakal bekerja-sama dalam menjajaki beragam aspek pengembangan ekosistem SAF di Indonesia, termasuk identifikasi potensi bahan baku (feedstock), pengembangan teknologi, serta support terhadap pengembangan kebijakan nan diperlukan guna mempercepat implementasinya.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, mengatakan, kerjasama ini bukan sekadar pengembangan bahan bakar, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem industri SAF nasional.
"Dengan potensi sumber daya domestik nan melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, serta skill dunia Boeing di sektor aviasi, kami optimistis kerjasama ini bakal mempercepat pengembangan industri SAF nan berkekuatan saing, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan," terang Simon dalam Siaran persnya, Kamis (9/7/2026).
Boeing memperkirakan lampau lintas penumpang udara di Asia Tenggara bakal tumbuh rata-rata 7% per tahun, dengan kebutuhan mencapai 4.885 pesawat baru hingga tahun 2044. Di tengah pertumbuhan tersebut, pemanfaatan Sustainable Aviation Fuel (SAF) menjadi salah satu solusi krusial untuk menekan emisi karbon sektor aviasi. Dalam corak murni (neat SAF), bahan bakar ini berpotensi mengurangi jejak karbon penerbangan hingga 80% dibandingkan bahan bakar jet konvensional.
"Indonesia mempunyai posisi nan sangat strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkepanjangan di Asia Tenggara," ujar Indra Duivenvoorde, Managing Director Boeing Indonesia.
"Kami menyambut baik kerjasama dengan Pertamina dalam beragam inisiatif pengembangan SAF, mulai dari identifikasi potensi bahan baku hingga support terhadap program edukasi dan training guna mempercepat pengembangan ekosistem SAF di Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung masa depan industri penerbangan Indonesia nan lebih berkepanjangan sekaligus memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Indra.
Sebagai bagian dari pengembangan ekosistem SAF nasional, Pertamina telah memulai beragam inisiatif, mulai dari produksi dan sertifikasi Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF), penerapan penggunaannya berbareng Pelita Air, hingga pengembangan proyek Cilacap Biorefinery oleh PT Pertamina Patra Niaga untuk memproduksi SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) berbahan baku Used Cooking Oil (UCO) serta bahan baku berkepanjangan berbasis limbah lainnya.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·