Warga RI Mohon Simak, Ini Untung Rugi Tenor KPR Rumah Subsidi 40 Tahun

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pemerintah memperpanjang tenor Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) hingga 40 tahun dinilai dapat meningkatkan akses masyarakat berpenghasilan rendah untuk mempunyai rumah. Kebijakan ini berpotensi memperluas pedoman pembeli di segmen rumah subsidi nan selama ini tetap menghadapi hambatan keterjangkauan.

Menurut Head of Research Department Colliers Indonesia Ferry Salanto, tenor nan lebih panjang bakal membikin angsuran bulanan menjadi lebih ringan sehingga lebih banyak masyarakat bisa masuk ke pasar perumahan formal. Namun, efektivitas kebijakan tersebut tidak hanya ditentukan oleh sisi pembiayaan.

"Jadi dengan tenor nan lebih panjang, besaran angsuran bulanan tentunya bakal jadi lebih ringan sehingga diharapkan semakin banyak masyarakat nan sebelumnya belum bisa untuk mencicil dengan besaran nan ditetapkan sebelumnya untuk bisa masuk ke pasar perumahan," kata Ferry dikutip Kamis (9/7/2026).

Meski demikian, ada akibat lain nan juga kudu diperhatikan, ialah total biaya nan kudu dibayar berpotensi jadi membengkak.

"Tenor nan panjang ini juga kudu diimbangi dengan prinsip kehati-hatian lantaran memang angsuran bulanan jadi rendah tapi total kembang nan dibayarkan selama masa pinjaman juga bakal menjadi lebih besar, sementara masyarakat kudu mempertimbangkan keahlian keuangannya dalam jangka panjang," kata Ferry.

Di sisi lain, kesiapan rumah nan sesuai dengan pemisah nilai FLPP tetap menjadi pekerjaan rumah. Selain pasokan, kesiapan sektor perbankan dan keahlian calon debitur memenuhi persyaratan angsuran juga menjadi aspek nan menentukan keberhasilan program tersebut.

Ferry menilai akibat paling besar bakal dirasakan oleh developer nan konsentrasi membangun rumah subsidi. Segmen ini berkesempatan memperoleh tambahan permintaan nan cukup signifikan andaikan akses pembiayaan semakin longgar.

"Bagi sektor properti, kita memandang akibat positifnya pasti bakal terasa ke segmen rumah tapak nan bersubsidi dan developer nan memang konsentrasi bermain di pasar MBR alias masyarakat berpenghasilan rendah," ujarnya.

Kebijakan tersebut juga diyakini dapat memberikan pengaruh domino ke beragam industri pendukung. Sektor bahan bangunan, bangunan hingga pembiayaan berpotensi menikmati peningkatan aktivitas seiring bertambahnya penyerapan rumah subsidi.

Meski demikian, Ferry mengingatkan, faedah kebijakan ini tidak bakal merata ke seluruh sektor properti. Apartemen komersial dan rumah menengah hingga premium diperkirakan tidak bakal memperoleh akibat nan terlalu besar lantaran karakter konsumennya berbeda.

"Secara umum untuk pasar properti termasuk apartemen komersial ataupun rumah menengah dan premium mungkin dampaknya relatif terbatas lantaran segmen ini memang karakter pembelinya agak berbeda dan tidak menjadi sasaran utama dari FLPP."

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya