Perusahaan Terbesar AS Bakar Uang untuk AI, ini Risikonya

1 jam yang lalu 3
 Antara Revolusi Ekonomi alias Gelembung nan Pecah Ilustrasi.(Magnific)

SELAMA satu dasawarsa terakhir, raksasa Silicon Valley menjadi mesin utama bagi ekonomi Amerika Serikat dan penopang biaya pensiun masyarakat. Produk digital dari Google hingga Meta tidak hanya memikat pengguna secara global, tetapi juga menghasilkan arus kas melimpah nan menjadikan saham teknologi sebagai aset blue chip baru.

Namun, kondisi finansial para penguasa teknologi ini sekarang berubah drastis. Demi mengembangkan kepintaran buatan (AI) nan diklaim revolusioner, perusahaan-perusahaan ini mengalihkan setiap investasi nan tersedia ke dalam 'mulut' mesin AI nan sangat haus modal. Perusahaan nan dulunya mempunyai persediaan kas berlebih sekarang mulai mencatatkan nomor merah dalam arus kas mereka, pertaruhan besar nan berakibat pada ekonomi luas.

Investasi Masif dan Risiko Arus Kas Negatif

Optimisme di Silicon Valley dan Gedung Putih meyakini bahwa taruhan besar pada AI bakal memberikan imbal hasil nan jauh lebih besar di masa depan. Namun, pertanyaan mendesak mulai muncul: kapan untung tersebut bakal tiba? Dan apa dampaknya jika investasi raksasa ini kandas memberikan hasil dengan cepat?

Data menunjukkan bahwa biaya prasarana AI mulai melampaui pertumbuhan pendapatan dari teknologi tersebut. Sebagai contoh:

  • Google: Untuk setiap satu dolar kas nan dihasilkan dalam tiga bulan terakhir, perusahaan mengeluarkan US$1,15 (sekitar Rp18.700) untuk membeli chip komputer AI, lahan pusat data, dan peralatan lain.
  • Proyeksi 2025: Lima raksasa AI--Google, Amazon, Microsoft, Meta, dan Oracle--diprediksi bakal mempunyai arus kas bebas (free cash flow) negatif. Ini merupakan pembalikan mengejutkan bagi perusahaan-perusahaan nan sebelumnya dikenal sebagai penghasil kas terbesar di dunia.

Kutipan Utama: "Hal AI ini kudu berhasil, lantaran jika tidak, kita bakal menghadapi masalah besar," ujar Torsten Slok, kepala ahli ekonomi di firma investasi Apollo Global Management.

Dampak terhadap Inflasi dan Biaya Hidup

Selain membakar kekayaan di pasar saham--triliunan dolar nilai pasar lenyap dari perusahaan seperti Nvidia, Tesla, dan SK Hynix selama musim panas ini--demam AI juga mulai membebani biaya hidup masyarakat. Tingginya permintaan bakal chip komputer memicu kenaikan nilai pada produk konsumen seperti ponsel pintar, laptop, hingga konsol gim.

Di beberapa wilayah, permintaan daya nan masif dari pusat info AI mulai mendorong kenaikan tagihan listrik rumah tangga. Para ahli ekonomi dan pejabat pemerintah menunjuk kenaikan nilai mengenai AI ini sebagai salah satu pemicu inflasi nan membandel, nan sekarang menjadi tantangan besar bagi pemerintahan Donald Trump dalam menjaga keterjangkauan biaya hidup penduduk Amerika.

Ketimpangan Ekonomi nan kian Melebar

Alih-alih menjadi penyeimbang ekonomi, bukti awal menunjukkan bahwa AI justru memperlebar lembah antara golongan kaya dan miskin. Penelitian dari Oxford Economics menemukan bahwa untung ekonomi dari lonjakan AI terkonsentrasi di wilayah metropolitan nan sudah maju secara ekonomi, seperti Bay Area, New York, dan Seattle.

Bank for International Settlements (BIS) apalagi memperingatkan ada risiko resesi ekonomi secara luas jika gelembung AI ini pecah. Meskipun CEO Amazon Andy Jassy menyatakan optimisme dengan menyebut ada pandangan jelas menuju imbal hasil finansial nan kuat, pasar tetap waspada terhadap akibat kegagalan investasi. (The Washington Post/I-2)

Selengkapnya