Petani di Boyolali memanfaatkan drone untuk melenyapkan (benih)penyakit wereng(MI/Widjajadi)
SEBANYAK 80 hektare tanaman padi yang tersebar di 13 desa Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, diserbu hama wereng cokelat. Untuk mencegah puso alias kandas panen, petani memanfaatkan drone untuk menyemprot obat pestisida.
"Para petani kudu bergerak cepat, lantaran jika tidak ya bisa saja kandas panen pada periode musim tanam ini," kata Kepala Desa Batan, Heru Waluyo di sela sela aktivitas pengendalian (Gerdal) (benih)penyakit padi, Rabu (22/7/2026).
Sejumlah golongan tani memanfaatkan drone dalam upaya pembasmian wereng cokelat. Dengan menyemprotkan obat pestisida nan diterbangkan menggunakan drone.
Menurut Sularjo, petani Banyudono, penyemprotan manual obat pestisida bakal menyantap waktu berjam-jam dan tidak efektif.
"Teman telah menggunakan teknologi drone. Untuk luasan sawah 9 hektare hanya perlu waktu 40 menit, dan efektif. Kalau manual butuh waktu lebih dari 4 jam," katanya.
Menurut Kades Batan Heru, di wilayahnya ada nyaris 10 hektare dari 50 hektar dalam satu desa disergap wereng coklat.
"Cara manual lebih lama dan melelahkan," ujar dia.
Drone itu, kata dia, disewa dengan menggunakan pembiayaannya nan ditanggung pendapatan original desa ( PADesa ). Ia merinci untuk satu hektare sawah, penyemprotan pestisida menggunakan drone memerlukan anggaran Rp500 ribu. Drone dijalankan oleh operator pihak ketiga.
"Jika ada lahan sawah nan luput dari sasaran perencanaan, maka petani hanya menambah Rp17 ribu," ucap dia.
Para petani dan Pemdea di kecamatan Banyudono berharap, Pemda, Pemprov maupun Pemerintah Pusat dihatapkan ikut memberikan perhatian dan memberikan bantuan, agar upaya pembrantasan hawa wereng pengganggu tanaman tidak menggangu swasembada pangan. (H-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·