ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Venezuela menghadapi musibah kemanusiaan nan semakin memburuk setelah dua gempa besar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang negara itu pekan lalu. Di tengah operasi pencarian korban nan terus berlangsung, rumah sakit kewalahan, ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal, sementara aroma mayit nan membusuk mulai menyelimuti area permukiman nan rata dengan tanah.
Pemerintah Venezuela hingga sekarang melaporkan sedikitnya 1.700 orang meninggal bumi dan lebih dari 5.000 orang mengalami luka-luka akibat gempa nan mengguncang negara tersebut. Namun, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan jumlah korban sebenarnya berpotensi jauh lebih besar, apalagi bisa mencapai puluhan ribu jiwa.
Harapan menemukan korban selamat pun semakin menipis. Tim penyelamat asal Ekuador pada Senin tetap sukses mengevakuasi seorang anak laki-laki berumur 12 tahun dalam keadaan hidup dari reruntuhan di Negara Bagian La Guaira.
Namun, para mahir mengingatkan bahwa kesempatan menemukan penyintas terus mengecil. Ini setelah "golden window" alias masa emas pengamanan pascagempa telah terlewati.
Di ibu kota Caracas misalnya, aroma menyengat dari jasad nan tetap tertimbun reruntuhan mulai tercium di beragam letak gedung nan ambruk. Meski demikian, family korban tetap memperkuat di sekitar letak dengan angan personil keluarganya tetap hidup.
Salah satunya adalah Mirella Herrera nan setiap hari menunggu di depan apartemen putranya nan runtuh. Anak, menantu, dan cucunya hingga sekarang belum ditemukan.
"Saya merasa putra saya tetap kuat. Saya percaya dia sedang menunggu kami datang," ujarnya sembari menangis, dimuat CNN International, Rabu (1/7/2026).
Rumah Sakit Kolaps
Sementara itu, musibah ini juga memperlihatkan gimana apuhnya sistem kesehatan Venezuela nan telah lama diterpa krisis ekonomi. Di Rumah Sakit Anak Dr. José Manuel de Los Ríos di Caracas, unit perawatan intensif (ICU) sekarang hanya bisa merawat empat pasien, jauh menurun dibanding kapabilitas sebelumnya nan mencapai sepuluh pasien.
"Kami tidak mempunyai cukup tenaga medis, obat-obatan maupun ventilator. Bahkan untuk kondisi normal saja kami sudah kesulitan, apalagi menghadapi musibah sebesar ini," kata master Huníades Urbina-Medina.
Salah satu pasien nan sekarang dirawat merupakan anak wanita berumur 12 tahun nan tertimpa reruntuhan gedung bertingkat. Ia mengalami beragam cedera berat nan menakut-nakuti nyawanya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memperingatkan sistem kesehatan Venezuela berada di bawah tekanan luar biasa. Rumah sakit mengalami kelebihan kapabilitas pasien, jasa kesehatan berjalan kacau, sementara pasokan kebutuhan dasar seperti cairan disinfektan dan bahan pembersih semakin terbatas.
Sedikitnya tiga akomodasi kesehatan mengalami kerusakan parah. Sedangkan enam rumah sakit lainnya rusak alias hanya dapat beraksi sebagian.
Krisis Lama Memperparah Dampak Gempa
Para tenaga medis menilai buruknya kondisi rumah sakit bukan hanya disebabkan gempa. Selama lebih dari satu dasawarsa terakhir, Venezuela menghadapi krisis ekonomi berkepanjangan akibat salah urus pemerintahan serta hukuman ekonomi dari Amerika Serikat (AS).
Kondisi tersebut memicu eksodus besar-besaran master dan tenaga kesehatan ke luar negeri. Sehingga kapabilitas jasa kesehatan terus menurun.
Selain sektor kesehatan, bumi pendidikan juga terdampak. Pemerintah memperpanjang penutupan sekolah setelah ratusan gedung pendidikan rusak akibat gempa.
Di Caracas saja, sedikitnya 432 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan, sementara sekolah nan tetap layak digunakan sekarang difungsikan sebagai tempat penampungan darurat bagi ribuan penduduk nan kehilangan rumah. Di sejumlah wilayah, pemerintah menerapkan sistem kode warna untuk menentukan kepantasan bangunan.
Bangunan bercap hijau dinyatakan kondusif dihuni, kuning berfaedah mengalami kerusakan sedang. Sedangkan merah menandakan gedung tidak lagi kondusif untuk ditempati.
Meski demikian, ribuan penduduk tetap belum diizinkan kembali ke rumah mereka lantaran kekhawatiran gedung sewaktu-waktu dapat runtuh akibat gempa susulan nan tetap terus terjadi.
Bagi banyak penduduk Venezuela, musibah alam kali ini bukan sekadar menghancurkan bangunan, tetapi juga memperlihatkan rapuhnya prasarana dan sistem pelayanan publik nan telah lama tergerus oleh krisis berkepanjangan.
(sef/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·