PM Kanada Mark Carney tegas menolak tuntutan AS mengenai bahasa Prancis di Quebec. Konflik bersambung dengan ancaman tarif baru dari Donald Trump.(Media Sosial X)
PERDANA Menteri Kanada Mark Carney menegaskan perlindungan terhadap bahasa Prancis di Quebec merupakan sebuah kewenangan dasar nan tidak dapat ditawar. Pernyataan tersebut disampaikan Carney usai menginstruksikan tim negosiasinya untuk keluar dari perundingan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) pekan lalu.
Keputusan tegas Carney untuk meninggalkan meja perundingan mendapat apresiasi luas dari para pemimpin politik di Kanada. Langkah tersebut diambil setelah AS menyodorkan proposal perdagangan nan dinilai dapat memperlemah kebudayaan penduduk berkata Prancis (Frankofon) di negara tersebut.
Saat melakukan kunjungan ke galangan kapal berbareng Premier Quebec Christine Fréchette pada Senin, Carney menegaskan kembali posisi pemerintahannya. Ia menyatakan Kanada "tidak dapat menerima" kesepakatan nan mengorbankan perlindungan bahasa Prancis.
"Kanada tidak bakal memberikan apa nan telah mereka minta," tegas Carney di hadapan para hadirin, merujuk pada tuntutan pihak AS.
Provinsi Quebec nan kebanyakan penduduknya berkata Prancis memang mempunyai patokan ketat untuk menjaga identitas budayanya. Regulasi seperti Bill 96 mewajibkan penjelasan bahasa Prancis pada produk nan dijual, sementara Bill 109 mewajibkan jasa media seperti Netflix, Spotify, dan Apple untuk memprioritaskan konten berkata Prancis bagi pengguna di Quebec. Bagi negosiator AS, aturan-aturan ini kerap dianggap sebagai halangan perdagangan.
Premier Quebec, Christine Fréchette, mendukung penuh keputusan Carney nan menolak melintasi "garis merah" bagi penduduk Frankofon.
"Kebudayaan kita, bahasa kita adalah inti dari identitas kita dan sangat krusial untuk mengecualikan perihal itu dari meja negosiasi," ujar Fréchette. "Ini adalah sesuatu nan krusial bagi kami dan tidak bakal berubah. Meskipun kami diancam dengan beragam tarif, itu tidak bakal berubah. Kami bakal tetap seperti ini."
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menunjukkan sikap nan memanas. Melalui unggahan di media sosial, Trump menuduh Kanada telah merugikan ekonomi AS selama bertahun-tahun melalui tarif tinggi pada produk pertanian Amerika. Ia juga menakut-nakuti bakal meningkatkan tarif impor kendaraan, truk, suku cadang otomotif, dan baja asal Kanada hingga 50% mulai 1 Januari 2027.
"Kanada telah memeras Amerika Serikat selama bertahun-tahun," tulis Trump. "Tidak berkelanjutan, dan tidak lagi! Kita tidak memerlukan Kanada, mereka nan memerlukan kita!"
Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, sempat membantah rumor tersebut dan menyebut laporan mengenai perdebatan perlindungan bahasa Prancis sebagai "cerita tiruan nan lucu." Menurut Greer, poin keberatan AS sebenarnya berfokus pada patokan nan mewajibkan raksasa media digital AS menyisihkan sebagian untung untuk mendukung konten lokal Kanada. Namun, Carney dengan sigap menepis pernyataan Greer dan menegaskan bahwa perbedaan pandangan kedua negara memang sangat besar.
Gagalnya perundingan ini berakibat langsung pada sektor ekonomi. Tarif baru AS nan bertindak sejak akhir pekan telah memukul sekitar 5% dari total ekspor Kanada ke Amerika Serikat. Federasi Kamar Dagang Quebec (FCCQ) sebut situasi ini sebagai "skenario terburuk" bagi bumi usaha. Sebagai respons balasan, pemerintah Kanada mengonfirmasi bakal menerapkan langkah jawaban pada awal September mendatang. (The Guardian/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·