PM Spanyol Pedro Sanchez Kritik Keras Respons Uni Eropa Terkait Krisis Migrasi Ceuta

1 jam yang lalu 3
PM Spanyol Pedro Sanchez Kritik Keras Respons Uni Eropa Terkait Krisis Migrasi Ceuta Pemantauan oleh abdi negara keamanan setelah sejumlah migran berenang dari Maroko dan tiba di pesisir pantai kota Ceuta, Spanyol, Jumat (31/7/2026).(Anadolu Agency/Marcos Moreno)

PERDANA Menteri Spanyol Pedro Sanchez melontarkan kritik tajam terhadap respons sejumlah pemerintah negara Uni Eropa (EU) dalam menangani krisis migrasi di Ceuta. Sanchez menilai pendekatan nan diambil beberapa negara personil dipicu oleh prasangka, penyebaran buletin bohong, dan kepentingan politik semata.

Berdasarkan laporan harian Spanyol El Pais, Sanchez menyebut langkah-langkah tersebut berkarakter "egois, memecah belah, dan ilegal." Pernyataan keras ini disampaikan melalui surat resmi nan ditujukan kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, dan Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin, nan saat ini memegang presidensi bergilir Dewan EU.

Desakan Pertemuan Darurat

Dalam suratnya, Sanchez mendesak Uni Eropa untuk segera menyelenggarakan pertemuan darurat para menteri dalam negeri. Tujuannya adalah untuk mengoordinasikan respons berbareng nan lebih solid dan sesuai dengan prinsip organisasi. "Uni Eropa tidak boleh membiarkan reaksi nan egois, memecah belah, dan terlarangan seperti ini," tegas Sanchez.

Sanchez menyoroti adanya tanggapan asimetris dari negara-negara anggota. Meski kebanyakan memberikan support dan solidaritas, sebagian negara justru menyerang Spanyol. Bahkan, muncul seruan untuk menangguhkan sementara Spanyol dari Kawasan Schengen.

Menanggapi usulan tersebut, Sanchez menegaskan bahwa dorongan mengeluarkan Spanyol dari area bebas paspor tidak mempunyai dasar norma nan kuat. Ia mengingatkan bahwa secara administratif, Ceuta bukan merupakan bagian dari Kawasan Schengen.

Klaim Kendali Perbatasan

Sanchez menjelaskan bahwa dalam waktu 48 jam, pemerintah Spanyol telah sukses memulihkan kendali perbatasan di Ceuta, wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara. Langkah-langkah nan diambil meliputi:

  • Pemberian support kemanusiaan bagi para migran.
  • Pengembalian nyaris seluruh imigran nan masuk secara terlarangan ke wilayah asal.
  • Pencegahan pergerakan tanpa izin ke wilayah Eropa lainnya.

Upaya penanganan ini dilakukan melalui koordinasi intensif dengan Maroko. Namun, Sanchez menyayangkan minimnya support dari negara-negara personil EU lainnya. Ia menganggap sikap pasif dan serangan politik dari sebagian personil bertentangan dengan norma Eropa, norma kemanusiaan, dan prinsip solidaritas.

Data Frontex dan Rekam Jejak Spanyol

Mengutip info dari badan perbatasan Frontex, Sanchez menekankan bahwa Spanyol mempunyai salah satu perbatasan luar nan paling ketat di Uni Eropa. Hal ini menjadi krusial mengingat Spanyol adalah satu-satunya negara personil nan mempunyai perbatasan darat langsung di benua Afrika.

Ia juga mengingatkan kembali kontribusi aktif Spanyol dalam membantu negara personil lain saat menghadapi krisis serupa, seperti krisis migrasi di Belarus pada 2021 dan di Pulau Lampedusa, Italia, pada 2023.

Langkah Lanjutan dan Dampak Krisis

Sebagai tindak lanjut, Irlandia dilaporkan telah menggelar pertemuan sistem Tanggap Krisis Politik Terpadu EU pada Sabtu. Perwakilan negara-negara personil dijadwalkan berjumpa kembali pada Senin (3/8) untuk membahas penanganan lebih lanjut secara kolektif.

Di saat nan sama, Madrid mulai membuka kembali secara berjenjang jalur penyeberangan Beni Enzar di Melilla—wilayah kantong Spanyol lainnya di Afrika Utara. Pembukaan ini dikhususkan bagi kendaraan nan berperan-serta dalam Operasi Penyeberangan Selat (Operation Crossing the Strait). (Anadolu/Ant/I-1)

Statistik Krisis:

Data Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat akibat tragis dari krisis ini, di mana sedikitnya 67 orang tewas saat berupaya mencapai wilayah Spanyol. Sementara itu, nyaris 70.000 imigran nan sempat memasuki Ceuta sekarang telah kembali ke Maroko.

Selengkapnya