Jakarta, CNBC Indonesia - Data Purchasing Managers' Index (PMI) nan dirilis S&P Global hari ini, Senin (3/8/2026) memberi sinyal pemulihan di sektor manufaktur Indonesia.
Tercatat, PMI manufaktur Indonesia di bulan Juli 2026 melonjak ke level 50,2, dari posisi di bulan Juni 2026 nan ada di level 46,9. Dari fase kontraksik, manufaktur Indonesia sukses merangkak ke fase ekspansi, ditunjukkan terlampauinya pemisah level 50.
Merespons info tersebut, WKU bagian Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Saleh Husin mengatakan, pemulihan tersebut tetap belum solid.
"Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026. Tercermin dari kenaikan PMI Manufaktur Indonesia ke level 50,2 dari 46,9 pada Juni, didorong oleh pulihnya produksi dan membaiknya permintaan. Meski demikian, pemulihan belum solid lantaran tetap dibayangi kenaikan biaya bahan baku, lemahnya permintaan ekspor, serta sikap hati-hati pelaku upaya dalam membeli bahan baku," kata Saleh dalam keterangannya.
"Kenaikan PMI ke 50,2 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali memasuki fase ekspansi setelah terkontraksi pada Juni. Namun, lantaran PMI merupakan parameter jangka pendek, capaian satu bulan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa industri telah memasuki tren pemulihan nan kuat," tambahnya.
Karena itu, imbuh dia, diperlukan konsistensi ekspansi dalam beberapa bulan ke depan. Serta support parameter lain, seperti output industri, utilisasi kapasitas, dan investasi.
"Dibandingkan negara ASEAN, posisi Indonesia telah membaik, tetapi laju ekspansinya tetap relatif moderat dibandingkan beberapa negara nan mencatat ekspansi lebih tinggi," tukasnya.
Menurut Saleh, aspek nan paling mendorong perbaikan aktivitas manufaktur pada Juli 2026 adalah meningkatnya produksi dan membaiknya permintaan domestik sehingga pesanan baru kembali bertambah.
"Namun, pemulihan tersebut tetap dihadapkan pada kenaikan biaya bahan baku, lemahnya permintaan ekspor, dan sikap pelaku upaya nan tetap berhati-hati dalam melakukan pembelian bahan baku," ucapnya.
"Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan belum merata dan tetap memerlukan penguatan dari sisi permintaan," ujarnya.
Lantas, apakah investasi alias ekspansi upaya oleh perusahaan sebenarnya telah meningkat?
Kata Saleh, perihal itu belum dapat disimpulkan demikian hanya berasas PMI Juli.
"Sebagai parameter jangka pendek, PMI lebih mencerminkan kondisi aktivitas upaya saat ini dibandingkan keputusan investasi nan berkarakter jangka panjang," katanya.
"Pelaku upaya diperkirakan tetap bakal mencermati keberlanjutan tren permintaan dalam beberapa bulan ke depan sebelum melakukan ekspansi kapabilitas alias investasi baru. Karena itu, diperlukan rangkaian info PMI dan parameter ekonomi lainnya untuk memastikan bahwa pemulihan betul-betul berkelanjutan," pungkas Saleh.
(dce/dce)
[Gambas:Video CNBC]

53 menit yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·