Ilustrasi.(Magnific)
POLRES Metro Jakarta Barat berbareng Polsek Metro Tamansari sukses meringkus 11 tersangka nan tergabung dalam sindikat produsen dan pengedar uang palsu lintas wilayah. Jaringan ini diketahui mengoperasikan pabrik pembuatan duit tiruan di dua letak berbeda di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Nasriadi, mengungkapkan bahwa para tersangka nan diamankan berinisial S, MK, R, N, W, SP, GM, AH, HW, K, dan ARP. Mereka ditangkap di beragam letak mulai dari Jakarta, Bogor, Sukabumi, hingga Cilacap. Sementara itu, empat pelaku lain tetap dalam pengejaran petugas (DPO).
"Pengungkapan kasus ini bermulai dari laporan masyarakat mengenai maraknya peredaran duit tiruan pada Agustus 2026. Dalam operasi ini, kami menyita 15.610 lembar duit tiruan pecahan Rp100 ribu," ujar Nasriadi di Jakarta, Senin (24/8).
Produksi di Tasikmalaya dan Banyumas
Berdasarkan hasil penyidikan, sindikat ini memproduksi duit tiruan secara berjenjang di dua tempat kejadian perkara (TKP). Lokasi pertama berada di Desa Cipedes, Kecamatan Cipedes, Tasikmalaya, tempat polisi menyita mesin produksi. Lokasi kedua terletak di Desa Belahar, Kecamatan Wangon, Banyumas.
Nasriadi menjelaskan proses pembuatan dilakukan melalui tahapan profesional, meliputi pemindaian (scanning), digitalisasi, pencetakan, penambahan fitur keamanan, hingga tahap penyelesaian (finishing). Sindikat ini tercatat melakukan dua kali pencetakan besar:
- Pencetakan Pertama: Menghasilkan 12.000 lembar. Sebanyak 8.000 lembar nan dianggap mirip original dijual seharga Rp225 juta dalam corak duit original untuk diedarkan.
- Pencetakan Kedua: Menghasilkan 16.000 lembar dengan tingkat kegagalan produksi nan lebih kecil. Sebanyak 15.000 lembar dinyatakan sukses dan mulai disebar melalui jaringan mereka.
Kualitas Rendah dan Mudah Dikenali
Deputi Direktur Departemen Pengelolaan Bank Indonesia, Gatot Dwi Purwanto, memberikan apresiasi atas tindakan tegas kepolisian. Berdasarkan pemeriksaan awal, peralatan bukti nan disita merupakan duit tiruan pecahan Rp100 ribu emisi tahun 2016 dan 2022.
Meski diproduksi dengan mesin, Gatot menegaskan bahwa kualitas duit tiruan tersebut tergolong sangat rendah. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak perlu cemas berlebihan lantaran duit tersebut mudah diidentifikasi.
"Kualitasnya sangat rendah dan sebetulnya sangat mudah diidentifikasi oleh masyarakat secara kasat mata dengan menggunakan metode 3D, ialah Dilihat, Diraba, dan Diterawang," pungkas Gatot. (Ant/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·