Politikus Spanyol Tuding Maroko Gunakan Migran untuk Menyerang Kedaulatan

55 menit yang lalu 1
Politikus Spanyol Tuding Maroko Gunakan Migran untuk Menyerang Kedaulatan Migran dari Maroko menuju Spanyol.(AFP)

PEMERINTAH Spanyol menghadapi tekanan politik dan diplomatik menyusul masuknya sekitar 50 ribu migran ke wilayah eksklave Ceuta di Afrika Utara. Meski Perdana Menteri Pedro Sanchez menyebut peristiwa itu sebagai sebuah serangan, pemerintah tetap berhati-hati untuk tidak secara langsung menyalahkan Maroko.

Sikap pemerintah tersebut memicu kritik dari beragam kalangan politik di Spanyol. Politisi dari kubu kanan maupun kiri mendesak agar Maroko dimintai penjelasan atas peristiwa nan menewaskan sedikitnya 88 orang tersebut.

Sejak ribuan migran mulai memasuki Ceuta pada Kamis lalu, Garda Sipil Spanyol melaporkan bahwa abdi negara kepolisian Maroko nan biasanya berjaga di perbatasan tiba-tiba meninggalkan pos mereka. Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa arus migrasi dalam jumlah besar susah terjadi tanpa sepengetahuan alias persetujuan pihak berkuasa Maroko.

Spekulasi lain juga berkembang mengenai kemungkinan krisis tersebut berangkaian dengan hubungan diplomatik Spanyol nan belakangan semakin dekat dengan Aljazair. Negara itu diketahui mendukung kewenangan penentuan nasib sendiri bagi Sahara Barat, wilayah nan hingga sekarang diklaim sebagai bagian dari Maroko.

Anggota parlemen dari partai sayap kiri Mas Madrid, Eduardo Rubino, menilai pemerintah perlu bersikap lebih tegas. "Mari kita sebut saja apa adanya, Maroko menggunakan manusia untuk menyerang kedaulatan kita," kata Eduardo Rubino dilasir Anadolu, Senin (4/8).

Wali Kota Ceuta, Juan Jesus Vivas dari Partai Rakyat, juga menilai situasi tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai krisis migrasi biasa. Menurutnya, masyarakat memandang peristiwa itu sebagai sesuatu nan jika tidak diatur, didorong alias diizinkan oleh otoritas Maroko.

Dalam wawancara dengan harian El Pais, Vivas mengatakan pemerintah pusat tetap kudu menjaga hubungan baik dengan Rabat. "Maroko telah menunjukkan kepada kita bahwa mereka tidak dapat diandalkan," ujarnya.

Di sisi lain, pemerintahan Sanchez tetap memprioritaskan hubungan diplomatik dengan Maroko. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Spanyol menegaskan bahwa hubungan kedua negara melangkah sangat baik dan koordinasi dalam penanganan migrasi maupun rumor lainnya tetap berjalan erat.

Saat mengunjungi Ceuta pada Jumat (31/7), Sanchez kembali menegaskan pandangannya mengenai kejadian tersebut. "Serangan, pelanggaran terhadap integritas teritorial Spanyol," ujar Sanchez.

Namun, dia tidak mengaitkan peristiwa itu dengan pemerintah Maroko. Menurutnya, tindakan tersebut dilakukan oleh mafia nan memperdagangkan manusia. Sanchez juga menyebut Maroko sebagai sekutu dan menyampaikan apresiasi atas kerja sama Rabat dalam memulangkan para migran nan memasuki Ceuta tanpa izin.

Pemerintah Maroko baru memberikan tanggapan resmi pada Minggu (3/8) malam. Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Maroko, Rachid El Khalfi, menyatakan gelombang migrasi dipicu oleh unggahan di media sosial nan memberikan kesan seolah-olah memasuki wilayah Eropa dapat dilakukan dengan mudah tanpa akibat hukum.

"Kerajaan Maroko bakal terus menjadi, seperti nan selalu dilakukannya dengan para mitranya, mitra nan dapat diandalkan dan bertanggung jawab, nan berkomitmen teguh untuk memperkuat kerja sama dan koordinasi internasional dalam memerangi migrasi terlarangan dan perdagangan manusia," kata El Khalfi.

Sementara itu, pemimpin oposisi dari Partai Rakyat, Alberto Nunez Feijoo, meminta pemerintah menjelaskan apa nan menyebabkan kerja sama dengan Maroko kandas mencegah krisis tersebut. Ia menilai Spanyol berkuasa menuntut Rabat memenuhi kewajibannya dalam menjaga keamanan perbatasan.

Meski demikian, Partai Rakyat lebih banyak mengarahkan kritik kepada pemerintahan Sánchez nan dinilai kandas mengantisipasi masuknya migran dalam jumlah besar.

Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska sebelumnya menyatakan Pusat Intelijen Nasional kandas memberikan peringatan awal mengenai potensi krisis. Namun, sejumlah sumber intelijen nan dikutip media Cadena SER menyebut pemerintah sebenarnya telah menerima info bahwa gelombang migran menuju Ceuta dapat terjadi kapan saja.

Media Spanyol juga melaporkan bahwa Kantor Pengungsi dan Suaka telah memperingatkan sejak Juli mengenai meningkatnya jumlah migran nan berenang menuju Ceuta dan potensi memburuknya situasi.

Juru bicara Partai Rakyat, Ester Munoz, menuding pemerintah mengabaikan peringatan tersebut. "Sanchez dan pemerintahannya berbohong, seperti nan selalu mereka lakukan," sebutnya. "Pemerintah telah diperingatkan oleh dinas intelijennya dan tidak melakukan apa pun," ujarnya.

Krisis Ceuta sekarang menjadi perhatian Uni Eropa. Para duta besar negara personil menggelar pertemuan darurat, disusul agenda unik para menteri dalam negeri Uni Eropa untuk membahas perkembangan situasi.

Sejumlah pemimpin Eropa menilai Spanyol kehilangan kendali atas salah satu perbatasan eksternal Uni Eropa. Sebanyak 22 pemimpin negara personil juga mengirim surat kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, serta Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin agar dilakukan pengawasan terhadap kebijakan nasional nan dinilai dapat menjadi aspek penarik migrasi ilegal.

Menanggapi kritik tersebut, Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares menegaskan bahwa negaranya bakal meminta solidaritas dari seluruh personil Uni Eropa. "Spanyol saat ini mempunyai jumlah pendatang terlarangan terendah di jalur Mediterania," kata Albares.

Ia menegaskan bahwa Uni Eropa semestinya membantu Spanyol menjaga Ceuta dan Melilla sebagai satu-satunya wilayah Uni Eropa nan mempunyai perbatasan darat dengan Afrika.

Albares juga kembali memuji kerja sama Maroko dalam menangani situasi tersebut. "Sejak awal, Maroko menawarkan kerja sama untuk mencoba mencegah arus pengungsi ini dan, nan terpenting, untuk memastikan kepulangan mereka segera, seperti nan sedang terjadi," paparnya.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar migran nan memasuki Ceuta telah dipulangkan ke Maroko dan proses pemulangan tetap terus berjalan melalui koordinasi kedua negara. (Fer/P-3)

Selengkapnya