Pos Pemukiman Israel Meluas, Warga Palestina Klaim Diteror dan Diusir

55 menit yang lalu 2
Pos Pemukiman Israel Meluas, Warga Palestina Klaim Diteror dan Diusir Laporan Ynet mengungkap dugaan pengepungan, intimidasi, dan kekerasan oleh pemukim Israel nan mendorong penduduk Palestina meninggalkan rumah serta lahan di Tepi Barat.(AFP)

PASUKAN Israel disebut semakin sering menggunakan pengepungan, kekerasan, dan intimidasi untuk menekan penduduk Palestina agar meninggalkan rumah serta lahan mereka di Tepi Barat nan diduduki. Laporan tersebut diungkap portal buletin Israel, Ynet, pada Senin (24/8).

Ynet menyebut pengepungan terhadap sebuah rumah penduduk Palestina di Kota Qusra, Tepi Barat, nan baru-baru ini menjadi perhatian internasional, bukan merupakan kejadian tunggal. Menurut laporan itu, pemuda Israel dari pos-pos permukiman terlarangan secara rutin memblokir akses menuju desa-desa Palestina dan memberikan tekanan kepada masyarakat agar meninggalkan wilayah tersebut.

Dalam dua pekan terakhir, pasukan Israel nan dalam sejumlah kasus mendapat perlindungan personel militer Israel dilaporkan telah mengepung tiga rumah penduduk Palestina di Qusra. Akses terhadap kebutuhan pokok untuk family nan berada di dalam rumah tersebut juga disebut dibatasi.

Warga Tinggalkan Rumah akibat Intimidasi

Di Desa Jalud, dekat Nablus, pasangan Mahmoud dan Aida Tubasi mengaku akhirnya meninggalkan rumah mereka setelah berbulan-bulan menghadapi ancaman dan beragam tindakan intimidasi. Menurut laporan Ynet, pasangan tersebut menghadapi pembakaran, pelemparan batu, serta pemblokiran jalan. Kondisi itu membikin mereka merasa tidak lagi kondusif untuk tetap tinggal di rumah.

"Tidak ada air, tidak ada tepung, tidak ada beras (yang diizinkan masuk ke desa)," kata Mahmoud Tubasi kepada Ynet. 

"Kami tahu semuanya sudah berakhir, dan kami pergi," ujarnya. 

Meski telah meninggalkan rumah, family Tubasi tetap dapat memandang kediaman mereka dari tempat tinggal sementara nan berada tidak jauh dari letak tersebut.

Tubasi mengatakan para pemukim telah menyiram pintu rumahnya dengan bahan bakar sebelum membakarnya. Ia juga menuduh para pemukim mendirikan gedung di dekat rumah, melempari kediaman dengan batu, memutar musik keras pada malam hari, serta melontarkan ancaman terhadap keluarganya.

"Mereka mengatakan kepada kami, Kami bakal membakar kalian seperti family Dawabshe," katanya.

Ancaman tersebut merujuk pada serangan pembakaran nan terjadi di Desa Duma, Tepi Barat, pada 2015. Serangan itu menewaskan seorang anak Palestina berumur 18 bulan serta melukai kedua orang tuanya dan kakaknya nan berumur empat tahun.

Kedua orang tua tersebut kemudian meninggal akibat luka nan diderita. Sementara itu, anak mereka nan selamat mengalami luka bakar pada sekitar 60% bagian tubuhnya dan sekarang berada dalam perawatan keluarga.

Pos Pemukiman dan Kekerasan

Ynet melaporkan kasus family Tubasi merupakan bagian dari pola kekerasan nan lebih luas nan dikaitkan dengan aktivitas pemukim Israel di Tepi Barat.

Menurut laporan tersebut, pos-pos pemukiman didirikan di sejumlah wilayah nan secara nominal berada di bawah manajemen Palestina. Setelah itu, penduduk Palestina setempat disebut menghadapi beragam corak intimidasi dan kekerasan nan bermaksud mendorong mereka meninggalkan rumah serta tanah mereka.

Kelompok anti-pemukiman Israel Peace Now menyebut terdapat 26 pos pemukiman nan didirikan di Area A dan B Tepi Barat nan diduduki. Pos-pos tersebut disebut telah menguasai sekitar 100.000 dunam alias sekitar 25.000 hektare lahan.

Sementara itu, golongan kewenangan asasi manusia Israel Yesh Din mengatakan lebih dari 60 persen kasus kekerasan oleh pemukim nan mereka dokumentasikan pada paruh pertama 2026 terjadi di Area A dan B. Pada tahun sebelumnya, sekitar sepertiga dari seluruh kejadian nan didokumentasikan golongan tersebut terjadi di Area C.

"Semakin dalam pemukiman, semakin dalam kekerasannya," kata Direktur Riset Yesh Din, Yonatan Kanonich, kepada Ynet.

Kasus-kasus nan didokumentasikan mencakup pemukulan, pelemparan batu, penggunaan peledak molotov, penembakan, hingga pembakaran rumah, kendaraan, dan tanaman pertanian.

AS Sebut Serangan Pemukim sebagai Terorisme

Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, baru-baru ini menggunakan pernyataan keras ketika mengomentari serangan terhadap penduduk Palestina. "Ketika Anda terlibat dalam aktivitas nan dirancang untuk menciptakan rasa takut pada individu, masyarakat, alias komunitas, itulah arti terorisme menurut kamus," lanjutnya. 

Ynet menyebut laporan mengenai intimidasi dan kekerasan serupa juga muncul dari sejumlah organisasi Palestina lainnya.

Salah satunya terjadi di Jaljulia, sebelah utara Ramallah. Warga setempat mengatakan pendirian sebuah pos pemukiman sekitar 10 bulan lampau telah mengubah wilayah nan sebelumnya relatif tenang menjadi letak serangan berulang. Menurut warga, pemukim bersenjata memasuki lahan pertanian, merusak tanaman, dan menakut-nakuti para pekerja dengan tindakan kekerasan.

Pembagian Wilayah Tepi Barat

Tepi Barat dibagi menjadi Area A, B, dan C berasas Perjanjian Oslo II nan disepakati pada 1995. Area A berada di bawah kendali administratif dan keamanan Palestina. Area B berada di bawah kendali administratif Palestina, sementara aspek keamanannya berada di bawah kendali Israel.

Adapun Area C, nan mencakup sekitar 60% wilayah Tepi Barat, berada di bawah kendali penuh Israel. Situasi di wilayah tersebut terus menjadi sumber ketegangan, terutama lantaran aktivitas pemukiman, kekerasan terhadap penduduk Palestina, serta perselisihan mengenai penguasaan dan penggunaan lahan. (Anadolu/Z-2)

Selengkapnya