Presiden FIFA Gianni Infantino(Dok AFP)
POSISI Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA sekarang terpojok. Hanya dua pekan setelah menyerahkan trofi Piala Dunia kepada Spanyol di New Jersey, pemimpin sepak bola bumi itu sekarang menghadapi krisis kepercayaan menyusul kegagalan rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE).
Rencana tersebut memicu penolakan luas dari beragam konfederasi hingga akhirnya dibatalkan. Namun, dampaknya terus bergulir dan menakut-nakuti masa depan kepemimpinan Infantino.
Federasi sepak bola Wales (FAW) menjadi asosiasi nasional pertama nan secara terbuka mencabut support terhadap pencalonan Infantino untuk masa kedudukan 2027-2031. Langkah itu ditengarqi menjadi bagian dari upaya terkoordinasi sepak bola Eropa untuk meminta pertanggungjawaban atas polemik penjualan kewenangan komersial Piala Dunia.
Di Inggris, Perdana Menteri Andy Burnham kembali menegaskan sepak bola bumi memerlukan kepemimpinan baru. Menurutnya, polemik tersebut tidak bisa dianggap selesai hanya lantaran FIFA membatalkan proposal.
Burnham menilai rencana FIFA menjual sebagian kewenangan komersial Piala Dunia kepada penanammodal swasta telah melukai banyak pihak di bumi sepak bola.
"Saya tidak percaya dia adalah sosok nan tepat untuk memimpin sepak bola bumi ke depan," kata Burnham seperti dikutip ESPN.
"Rencana nan diajukan itu menyinggung banyak orang, terutama insan sepak bola di seluruh dunia. Tidak bisa kemudian kita begitu saja melupakan persoalan ini. Itu tidak dapat diterima," tegasnya.
Tekanan terhadap Infantino juga datang dari UEFA. Konfederasi sepak bola Eropa itu mengaku kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan FIFA setelah munculnya proposal nan disebut disusun secara tertutup, diproses dengan sangat cepat, dan minim faedah bagi sepak bola.
UEFA menyatakan tengah menyiapkan langkah agar kejadian serupa tidak terulang. Seluruh opsi disebut tetap terbuka, termasuk mendesak reformasi tata kelola FIFA.
Situasi tersebut diperkirakan bakal memicu gelombang baru. Sejumlah federasi Eropa disebut-sebut mulai mempertimbangkan menarik surat support nan sebelumnya diberikan kepada Infantino untuk pemilihan Presiden FIFA berikutnya.
Padahal sebelumnya, Infantino dilaporkan sudah mengantongi lebih dari 200 surat support dari 211 asosiasi personil FIFA, termasuk dari personil UEFA.
Meski demikian, Infantino belum menunjukkan tanda-tanda menyerah. Dia disebut-sebut terus menggalang dukungan, terutama dari asosiasi di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan agar tetap menyatakan kepercayaan terhadap kepemimpinannya.
Pemilihan Presiden FIFA berikutnya dijadwalkan berjalan pada Maret 2027 di Rabat, Maroko. Batas akhir pendaftaran calon ditetapkan pada 18 November 2026.
Sejumlah nama mulai disebut berpotensi menjadi pesaing jika Infantino betul-betul mendapat penantang. Presiden AFC Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa masuk dalam bursa setelah sebelumnya menjadi rival Infantino pada pemilihan 2016. Nama Presiden CONCACAF Victor Montagliani juga disebut masuk bursa terlebih konfederasinya sekarang ikut menolak proposal FFE.
Sementara itu, Presiden UEFA Aleksander Ceferin dinilai banyak kalangan mempunyai visi berbeda mengenai tata kelola sepak bola dunia. Namun hingga kini, Ceferin belum pernah menyatakan minat untuk mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA.
Presiden Paris Saint-Germain (PSG) sekaligus personil Komite Eksekutif UEFA, Nasser Al-Khelaifi, juga sempat dikaitkan dengan bursa calon. Namun sejumlah laporan menyebut dia tidak berkeinginan menggantikan Infantino.
Meski tekanan terhadap Infantino semakin besar, belum ada kandidat nan secara resmi menyatakan bakal menantangnya. Namun, krisis kepercayaan nan muncul setelah polemik FFE membikin posisi orang nomor satu FIFA itu sekarang berada dalam sorotan paling tajam. (E-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·