Gempa M7,1 membikin ribuan penduduk tetap hidup tanpa listrik dan puluhan ribu rumah kehilangan air bersih di tengah cuaca panas hingga 35 derajat Celsius.
Sebuah family mengandalkan penerangan dari lampu mobil dan generator pribadi di Kota Uki, Prefektur Kumamoto, Jepang, Kamis (30/7/2026), setelah gempa bumi melanda wilayah tersebut. Hingga Kamis malam, ribuan penduduk tetap hidup tanpa aliran listrik, dua hari setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,1 nan menewaskan sedikitnya 25 orang serta merusak prasarana kelistrikan dan beragam jasa dasar. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Lebih dari 2.000 rumah tangga dilaporkan tetap mengalami pemadaman listrik. Kondisi tersebut semakin menyulitkan penduduk lantaran terjadi di tengah cuaca panas dengan suhu mencapai sekitar 35 derajat Celsius. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Banyak penduduk terpaksa menghabiskan malam tanpa pendingin ruangan, sementara sebagian lainnya memilih berlindung di dalam mobil untuk menghindari suhu tinggi di dalam rumah. (REUTERS/Issei Kato)
Di Kota Yatsushiro, akibat gempa juga membikin sekitar 58.000 rumah tangga kehilangan akses air bersih. Rutinitas harian penduduk berubah drastis lantaran mereka kudu mengandalkan stasiun pengedaran air darurat untuk memenuhi kebutuhan pokok. Pasokan air nan tersedia hanya cukup untuk kebutuhan dasar, sehingga penduduk tidak dapat mandi, menyiram toilet, maupun mencuci peralatan rumah tangga seperti biasa. (REUTERS/Issei Kato)
Salah satu family nan terdampak, family Shimada, sekarang memusatkan aktivitas sehari-hari pada pengelolaan persediaan air. Warga kudu menggunakan air secara irit di tengah cuaca panas dan kelembapan tinggi nan memperberat kondisi mereka selama proses pemulihan berlangsung. (REUTERS/Issei Kato)

8 jam yang lalu
5







English (US) ·
Indonesian (ID) ·