Presiden Prabowo saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang di Semarang, Kamis (30/7).(Dok. YouTube Sekretariat Presiden)
PRESIDEN Prabowo Subianto menilai peninggalan dari masa kolonialisme tidak hanya perlu dipertahankan sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran untuk mengejar kemajuan teknologi dan pengetahuan pengetahuan.
Menurut Prabowo, Indonesia memang mengalami masa kolonialisme nan panjang. Namun, dalam periode tersebut, bangsa Indonesia juga mempelajari teknologi dan sains nan kemudian menjadi bekal untuk berkembang.
“Bangsa kita pernah mengalami kolonialisme nan cukup panjang, tetapi kita juga belajar teknologi dan sains untuk mengejar kemajuan,” kata Prabowo saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang di Semarang, Kamis (30/7).
Prabowo menyampaikan pandangan tersebut ketika menjelaskan pentingnya menjaga bangunan-bangunan bersejarah, termasuk Stasiun Semarang Tawang. Pelestarian bangunan, menurutnya, tidak boleh berakhir pada perawatan fisik, tetapi juga kudu menjaga ingatan mengenai perjalanan bangsa.
Stasiun Tawang dinilai mempunyai posisi krusial dalam sejarah Indonesia lantaran pernah digunakan Presiden pertama Republik Indonesia untuk melakukan perjalanan dalam rangka menjalankan tugas negara pada awal kemerdekaan.
“Sejarah mencatat bahwa Presiden Republik Indonesia nan pertama menggunakan stasiun ini untuk berangkat ke daerah-daerah lain untuk menjalankan tugas negara di awal kemerdekaan,” tuturnya.
Karena itu, Prabowo menilai revitalisasi Stasiun Tawang merupakan bagian dari upaya menjaga identitas nasional sekaligus memastikan jejak sejarah tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Ia juga mengapresiasi PT Kereta Api Indonesia nan merevitalisasi stasiun tersebut. Selain melestarikan gedung bersejarah, revitalisasi itu dinilai dapat memperkuat daya tarik wisata berbasis sejarah. (Z-10)







English (US) ·
Indonesian (ID) ·