Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (kedua kiri).(dok.istimewa)
GUBERNUR DKI Jakarta Pramono Anung mengapresiasi kontribusi masyarakat Madura dalam pembangunan Jakarta. Hal itu disampaikan saat menghadiri pelantikan 150 pengurus DPW dan DPC Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) se-DKI Jakarta di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Rabu (19/8).
Pramono mengatakan IKAMA nan telah berdiri selama 52 tahun mempunyai modal sosial kuat untuk terus berkontribusi bagi Jakarta. “Selama 52 tahun, IKAMA menjadi wadah silaturahmi, pengabdian, pemberdayaan, serta pelestarian nilai-nilai budaya Madura,” ujar Pramono.
Ia mengatakan, nilai Bhuppa’ Bhabhu’ Ghuru Rato nan mengajarkan penghormatan kepada orang tua, guru, dan pemimpin dapat memperkuat hubungan masyarakat dengan pemerintah.
Pihaknya memperkuat jasa dasar, terutama pendidikan dan kesehatan, untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Di bagian pendidikan, Pemprov DKI menyalurkan KJP Plus kepada 707.420 siswa, menyediakan KJMU, menggratiskan biaya pendidikan di 155 sekolah swasta dan pondok pesantren, menjalankan pemutihan ijazah, serta menyiapkan Beasiswa LPDP Jakarta untuk kuliah di luar negeri.
“Di bagian kesehatan, kami menggratiskan akomodasi di 31 RSUD, 44 Puskesmas, dan 292 Puskesmas Pembantu, serta membayarkan iuran BPJS Kesehatan bagi penduduk tidak mampu,” katanya.
Dalam kesempatan itu, IKAMA juga menyampaikan kebutuhan akomodasi operasional untuk aktivitas kemanusiaan. Pemprov DKI Jakarta merespons dengan menyiapkan support pengadaan ambulans.
“Saya telah menginstruksikan jejeran mengenai untuk mengupayakan pengadaan satu unit ambulans bagi masing-masing lima wilayah kepengurusan IKAMA di DKI Jakarta,” ujar Pramono.
Sementara, Ketua Umum DPP IKAMA H Muhammad Rawi menegaskan kesiapan masyarakat Madura bersinergi dengan Pemprov DKI. Sinergi bakal diarahkan pada penguatan UMKM, ketertiban lingkungan, pendidikan, dan aktivitas sosial.
“Seluruh potensi IKAMA, mulai dari jejaring warung Madura hingga sektor pendidikan, bakal terus dikerahkan untuk menjaga ketertiban, keamanan, dan kesejahteraan berbareng di Jakarta,” kata Rawi.
Rawi mengatakan keberadaan warung madu menjadi salah satu corak upaya mikro nan banyak dijalankan penduduk asal Madura di wilayah Jabodetabek. Keberadaannya tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat jejaring organisasi perantau.
Ia menjelaskan, lebih dari 20 ribu gerai nan tersebar di Jabodetabek dan hingga sekarang terus melakukan pendataan personil organisasi terus dilakukan. Sebagian besar pelaku upaya merupakan pendatang nan berpindah-pindah dan tidak seluruhnya mempunyai KTP Jakarta.
“Kita memang waktu itu didata. Tapi sebagian lantaran pendatang. Banyak nan tidak punya KTP. Kadang enam bulan pulang, sehingga pendataannya tidak mudah. Tetapi nan jualan tetap ada,” ujarnya.
Menurutnya, personil IKAMA nan telah terdata mempunyai Kartu Tanda Anggota (KTA) dan sejumlah fasilitas, termasuk asuransi serta pendampingan advokasi. Pendataan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan dan hubungan antaranggota.
Ia menjelaskan, keberadaan Warung Madura juga ditopang pola upaya nan membikin nilai peralatan dapat tetap kompetitif. Rantai pengedaran nan lebih efisien menjadi salah satu aspek nan memungkinkan warung menjual kebutuhan sehari-hari dengan nilai relatif terjangkau.
“Itu strategi bisnis. Dari pabrikan ke distributor, kemudian masuk ke warung. Kalau rantainya lebih efisien, biaya bisa ditekan,” katanya.
Meski demikian, dia mengingatkan pelaku upaya tetap menjaga persaingan nan sehat. Harga nan kompetitif, menurutnya, tetap kudu diimbangi dengan untung upaya nan wajar agar keberlangsungan warung tetap terjaga. (Far/P-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·