Presiden Prabowo Janjikan 4 Papan Interaktif Digital untuk Sekolah dan Pesantren NU

1 jam yang lalu 3
Presiden Prabowo Janjikan 4 Papan Interaktif Digital untuk Sekolah dan Pesantren NU Presiden Prabowo Subianto.(Antara)

PRESIDEN Prabowo Subianto berkomitmen untuk mempercepat digitalisasi pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Pemerintah bakal segera mengirimkan papan interaktif digital alias interactive flat panel (IFP) untuk sekolah dan pesantren nan berada di bawah naungan organisasi tersebut.

Hal itu disampaikan Presiden saat menghadiri Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8). Dalam sambutannya, Presiden menyampaikan permohonan maaf lantaran baru mengetahui adanya ketimpangan akomodasi digital antara sekolah negeri dan sekolah di bawah naungan NU.

"Tidak ada masalah, walaupun terlambat semua ruang kelas sekolah-sekolah NU bakal menerima layar interaktif sama dengan semua sekolah negeri," ujar Presiden Prabowo.

Skema Distribusi IFP

Presiden menjelaskan bahwa pada tahun lalu, sekolah-sekolah negeri telah mendapatkan setidaknya satu unit IFP per sekolah untuk menopang aktivitas belajar mengajar. Untuk mengejar ketertinggalan, pemerintah menerapkan kebijakan unik bagi lembaga pendidikan NU pada tahun ini.

Kategori Sekolah Alokasi Tahun Lalu Tambahan/Alokasi Baru (Tahun Ini) Total Unit
Sekolah Negeri 1 Unit 3 Unit 4 Unit
Sekolah & Pesantren NU 0 Unit 4 Unit (Langsung) 4 Unit

"Tahun nan lampau semua sekolah negeri terima satu layar, satu ruang kelas. Tahun ini sekolah-sekolah negeri semuanya bakal menerima tambahan tiga, tapi NU segera bakal menerima langsung empat," tegasnya.

Apresiasi Peran Ulama dan Pesantren

Selain membahas akomodasi pendidikan, Presiden Prabowo memuji kontribusi besar NU dalam menjaga kerukunan antarumat beragama, membangun bangsa, serta menjaga adab generasi muda Indonesia. Ia menekankan bahwa peran ini dijalankan secara konsisten oleh para kiai, baik tokoh nasional maupun ustad di pelosok desa.

Presiden juga menyoroti aspek historis, di mana para ustad dan santri menjadi garda terdepan dalam mempertahankan kemerdekaan, terutama pada Pertempuran Surabaya periode Oktober-November 1945.

"Dalam Pertempuran Surabaya, peran dari ulama, peran dari kiai-kiai, peran daripada pesantren sangat besar," jelas Presiden.

Menutup pidatonya, Presiden menyerukan semboyan "Jas Hijau", sebuah akronim dari "Jangan Sekali-sekali Melupakan Jasa Ulama", sebagai corak penghormatan atas dedikasi kaum sarungan terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (Ant/I-1)

Selengkapnya