Ilustrasi(Magnific.com)
MESKI lebih sering dikaitkan dengan perempuan, kanker payudara juga dapat menyerang pria. Penyakit ini memang tergolong langka, tetapi sering kali baru terdiagnosis pada stadium lanjut lantaran banyak laki-laki tidak menyadari bahwa mereka juga mempunyai jaringan tetek nan berisiko mengalami kanker.
Para mahir pun mengingatkan pentingnya mengenali indikasi sejak awal agar kesempatan pengobatan lebih besar.
Menurut Mayo Clinic, kanker tetek pada pria paling sering didiagnosis pada usia 60-an, meski dapat terjadi pada usia berapa pun. Kanker ini umumnya bermulai dari saluran susu (ductal carcinoma), ialah jenis kanker tetek nan paling sering ditemukan pada pria.
Benjolan di Dada hingga Cairan dari Puting
National Health Service (NHS) menyebut indikasi paling umum kanker tetek pada laki-laki adalah munculnya benjolan alias pembengkakan di area dada maupun ketiak. Benjolan tersebut biasanya keras dan tidak terasa nyeri.
Selain itu, laki-laki juga perlu mewaspadai keluarnya cairan dari puting, terutama jika bercampur darah, perubahan corak alias ukuran dada, puting nan tertarik ke dalam (inverted nipple), ruam alias luka di sekitar puting nan tidak kunjung sembuh, serta perubahan pada kulit dada.
Bila kanker telah menyebar, penderita juga dapat mengalami penurunan berat badan tanpa sebab, mudah lelah, alias nyeri pada bagian tubuh tertentu.
NHS mengimbau siapa pun nan menemukan perubahan tersebut untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Meski indikasi tersebut tidak selalu berfaedah kanker, deteksi dini dapat meningkatkan kesempatan keberhasilan pengobatan andaikan memang terbukti ganas.
Waspadai Faktor Risiko
Penyebab pasti kanker tetek pada laki-laki belum diketahui. Namun, para mahir telah mengidentifikasi sejumlah aspek nan dapat meningkatkan risikonya.
Menurut Mayo Clinic, akibat meningkat seiring bertambahnya usia. Pria nan mempunyai riwayat family dengan kanker tetek alias membawa mutasi gen BRCA1 dan terutama BRCA2 juga mempunyai kemungkinan lebih tinggi mengalami penyakit ini.
Selain aspek genetik, kondisi nan menyebabkan kadar hormon estrogen meningkat juga dapat meningkatkan risiko, seperti sindrom Klinefelter, sirosis hati, obesitas, maupun penggunaan obat nan mengandung estrogen.
Riwayat penyakit alias operasi pada testis, seperti orkitis alias pengangkatan testis, serta pernah menjalani terapi radiasi di area dada juga termasuk aspek risiko.
Mengapa Deteksi Dini Sangat Penting?
Karena kasusnya jarang terjadi, laki-laki umumnya tidak menjalani skrining rutin kanker tetek seperti mammografi pada perempuan. Akibatnya, banyak kasus baru diketahui ketika ukuran tumor sudah membesar alias apalagi telah menyebar ke bagian tubuh lain.
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa pemeriksaan biasanya dilakukan melalui pemeriksaan fisik, mammografi alias USG, kemudian dikonfirmasi dengan biopsi jika ditemukan jaringan nan mencurigakan. Pengobatan bakal disesuaikan dengan stadium penyakit dan dapat meliputi operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi hormon, maupun terapi target.
Para mahir menekankan bahwa semakin awal kanker ditemukan, semakin besar kesempatan keberhasilan terapi. Oleh lantaran itu, laki-laki disarankan untuk mengenali kondisi normal pada area dada dan tidak mengabaikan munculnya benjolan, perubahan pada puting, maupun indikasi lain nan tidak biasa.
Meski tergolong langka, kanker tetek pada laki-laki bukanlah penyakit nan mustahil terjadi. Kesadaran terhadap gejala, memahami aspek risiko, serta segera memeriksakan diri saat menemukan perubahan pada dada menjadi langkah krusial untuk meningkatkan kesempatan penemuan awal dan kesembuhan.
Sumber: National Health Service UK (NHS), Cleveland Clinic, Mayo Clinic








English (US) ·
Indonesian (ID) ·