Bekasi, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) resmi memulai pembangunan proyek pengolahan sampah menjadi daya listrik (PSEL) khususnya di Kota Bekasi. Proyek dengan total investasi Rp 3 triliun itu nantinya bisa melistriki hingga 55.000 rumah tangga di Bekasi, Jawa Barat.
Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara Pandu Sjahrir menjelaskan bahwa pembangunan PSEL Bekasi itu sejalan dengan pengembangan prasarana hijau nan dilakukan oleh pemerintah. Ia menekankan bahwa proyek tersebut telah melewati proses pertimbangan nan ketat dan penyaringan mitra.
"Inisiatif ini bakal menghasilkan daya hijau nan dapat menyuplai kebutuhan 55.000 rumah masyarakat Kota Bekasi," kata Pandu dalam aktivitas Groundbreaking Proyek PSEL Ciketing Udik, Bekasi, Rabu (26/8/2026).
Pandu memaparkan bahwa proyek pengolahan sampah tersebut bisa menciptakan lapangan kerja hingga 1.000 orang dan mengurangi kebutuhan lahan untuk TPA hingga 90%.
Kelak, proyek itu juga ditargetkan dapat menekan kebutuhan lahan tempat pembuangan akhir secara signifikan melalui pemanfaatan teknologi nan merujuk pada standar emisi industri Eropa.
Lahan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Bekasi. Proyek dengan nilai investasi Rp3 Triliun ini bisa mengolah 500.000 ton sampah per tahun, Rabu (26/6/2026). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati) Foto: Lahan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Bekasi. Proyek dengan nilai investasi Rp3 Triliun ini bisa mengolah 500.000 ton sampah per tahun, Rabu (26/6/2026). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)
Adapun, listrik nan dihasilkan dari proyek tersebut bakal diserap oleh PT PLN (Persero). Hal itu tertuang dalam penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) / Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik antara PLN dengan PT Wangneng Bekasi Environment Nusantara.
Proyek tersebut ditargetkan bisa mengelola lebih dari 500.000 ton sampah per tahun alias sekitar 70% timbulan sampah terolah di Kota Bekasi. Dari sisi lingkungan, PSEL Kota Bekasi juga diproyeksikan dapat menurunkan emisi sampah dari Tempat Pembuangan Akhir hingga 80% dan mengurangi emisi karbon sebesar 640.000 ton setara CO2 per tahun.
Di samping itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Pangan Zulkifli Hasan menyebut pemerintah terus mengawal jalannya program tersebut agar bisa menyelesaikan tumpukan sampah nan tidak terkendali di beragam daerah.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyederhanakan ratusan izin menjadi hanya beberapa patokan pokok untuk mempermudah langkah para penanammodal di sektor daya terbarukan.
"Aturan mengenai pengelolaan sampah ini, waste to energy. Lebih banyak lagi Pak aturannya. Ratusan lebih aturannya itu Pak. Oleh lantaran itu 11 tahun hanya ada dua. Ah ini kita rapikan. Dari sini tinggal tiga. Seluruh proses kami nan mengawal sampai bisa dilaksanakan seperti ini," ujar Zulkifli dalam kesempatan nan sama.
Pemerintah menargetkan penyelesaian masalah sampah nasional dapat meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan melalui pembangunan belasan akomodasi PSEL baru. Zulkifli meyakini melalui kerja sama nan erat dengan pemerintah wilayah dan mitra strategis, krisis sampah nan telah berjalan lama dapat segera teratasi.
"Insyaallah Pak 2029 70-75% bisa kita selesaikan sampah ini. nan mulai Indonesia merdeka sampai hari ini masalahnya tambah banyak. Tapi 2-3 tahun ini bisa kita selesaikan, saya meyakini asal bisa kerja sama dengan semua pihak," tandasnya.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

1 hari yang lalu
14








English (US) ·
Indonesian (ID) ·