Jakarta, CNN Indonesia --
Anggota Komite Eksekutif PSSI, Vivin Cahyani Sungkono, memaparkan anggaran alias bujet jadi hambatan pembinaan sepak bola putri di Indonesia.
Vivin menampik dugaan soal minat wanita menjadi atlet sepak bola jadi kesulitan pembinan sepak bola dalam negeri. Wanita nan pernah menekuni olahraga basket itu justru menyebut masalah terletak pada anggaran.
"Kalau bicara masalah kesulitan, kita semua tahu semuanya dari budget. Kalau kemauan kuat dari anak-anak ini untuk main sepak bola itu sudah ada," kata Vivin dilansir dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu wanita di tubuh Komite Eksekutif PSSI itu juga menerangkan asosiasi provinsi nan ada mengalami keterbatasan untuk menggelar kejuaraan sepak bola putri lantaran agenda nan banyak.
"Sudah sebegitu banyaknya Piala Soeratin, ada Liga 4, Piala Soeratin dari U13, 15, 17 dan lain-lain, kemudian dibebankan lagi wajib menyelenggarakan kejuaraan putri, asosiasi provinsinya enggak mampu," katanya.
Vivin mengakui bahwa pembinaan sepak bola putri di Indonesia tetap terus berkembang secara bertahap, namun dari sisi prestasi tetap punya daya saing.
"Kalau dari sisi prestasi, kita enggak kalah. Kita kemarin juara AFF. Karena konsistensi dan fokus, itu nan bisa membuktikan bahwa kita bisa berprestasi," katanya.
Mengenai masalah bujet, Vivin memberi apresiasi atas support pihak swasta nan sudah turut serta dalam mendukung sepak bola putri. Ia berambisi pembinaan dalam corak turnamen-turnamen bisa berlanjut.
Selain turnamen golongan umur untuk atlet-atlet cilik hingga remaja, ada pula Srikandi Merdeka Cup U-16 nan bakal digelar pada pertengahan Agustus 2026 dan mendatangkan tim-tim dari luar negeri.
"Trilogi nan sudah dijalankan Yayasan Bakti Olahraga Djarum sudah menjawab tantangan nan selama ini bertahun-tahun tidak ada solusi di PSSI. Saya berambisi konsistensi dan support ini bisa continue," katanya.
(nva/ptr)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·