Refleksi Kemerdekaan, Himapolindo Ajak Mahasiswa Jadi Peredam Konflik

11 jam yang lalu 4
Refleksi Kemerdekaan, Himapolindo Ajak Mahasiswa Jadi Peredam Konflik Koordinator Pusat Himapolindo (kanan) Rosyad Fauzi .(Ist)

MOMENTUM peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi arena refleksi kritis sekaligus konsolidasi kebangsaan bagi para mahasiswa

Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Indonesia (Himapolindo) nan mewakili aspirasi 42 kampus di seluruh Indonesia menyerukan pesan persatuan nasional dan menolak segala corak tindakan anarkisme nan dapat memecah belah bangsa.

Seruan berbareng ini muncul sebagai respons terhadap dinamika sosial-politik kontemporer. 

Langkah tersebut sekaligus menegaskan posisi mahasiswa pengetahuan politik sebagai pengawal kerakyatan nan berbasis pada intelektualitas dan konstitusi.

Koordinator Pusat Himapolindo Rosyad Fauzi dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menegaskan refleksi kemerdekaan tahun ini kudu dimaknai sebagai upaya memperkuat fondasi kebangsaan dan mengisi kemerdekaan. 

"Pekerjaan rumah kita saat ini ialah mengisi kemerdekaan dengan sesuatu nan nyata, tidak hanya sekedar retorika untuk mendapatkan atensi dari media dan masyarakat, seperti narasi merebut kemerdekaan. nan tidak berakibat bagi kesejahteraan masyarakat," ujar Rosyad dalam keterangannya, Selasa (18/8).

Rosyad menambahkan, di tengah tajamnya polarisasi dan potensi gesekan sosial, mahasiswa dituntut menjadi peredam konflik, bukan pemicu ketegangan.

"Kemerdekaan ini diraih dengan persatuan, maka menjaga dan merawatnya adalah tanggung jawab absolut kita bersama. Sebanyak 42 kampus nan tergabung dalam Himapolindo berkomitmen penuh untuk tetap menjaga suasana kerakyatan nan sehat, kondusif, dan damai," ujarnya.

TOLAK ANARKISME
Selain menyerukan persatuan, forum mahasiswa pengetahuan politik se-Indonesia ini menyoroti pentingnya menyampaikan aspirasi secara tertib. 

Perwakilan Himapolindo dari UPN Veteran Jakarta, Aji Gilang Santoso, menyatakan sikap tegas melawan segala tindakan anarkisme di ruang publik nan berpotensi merusak akomodasi umum dan merugikan masyarakat.

"Himapolindo berbareng aktivitas mahasiswa lainnya sebagai instrumen aktivitas politik menilai semua perihal nan berpotensi merusak serta merugikan masyarakat kudu dicegah dan bakal melawan segala corak anarkisme diruang publik nan berpotensi meningkatkan gesekan antarmasyarakat," ucap Aji.

Sementara itu, Saldi dari UIN Alauddin Makassar mengungkapkan penyampaian kritik kudu berbasis data. Ia membujuk mahasiswa tetap kritis terhadap kebijakan pemerintah alias kondisi penegakan norma melalui mimbar akademik dan jalur konstitusional nan sah.

Ia juga mengimbau seluruh komponen pemuda dan masyarakat agar tidak mudah terhasut oleh isu-isu provokatif nan disengaja untuk memecah belah persatuan.

"Sekali lagi kami menegaskan bahwa demonstrasi alias tindakan turun ke jalan kudu tetap mengedepankan etika, ketertiban, dan menjauhi tindakan kekerasan," ungkap Saldi.

Melalui aktivitas refleksi ini, Himapolindo berambisi peran mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan) dan social control (kontrol sosial) dapat melangkah beriringan berbareng pemerintah demi mewujudkan Indonesia nan lebih maju, adil, makmur, dan berdaulat. (P-2)

Selengkapnya