RI Siaga 1 Kekeringan Parah, El Nino Menguat-Muncul Tanda IOD Positif

57 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, intensitas kejadian suasana El Nino nan sedang terjadi telah melampaui level kuat.

Hal itu diungkapkan Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konvensi pers perkembangan El Nino dan Musim Kemarau di Indonesia, ditayangkan kanal Youtube BMKG, Kamis (30/7/2026).

Ardhasena menjelaskan, hingga akhir Juni 2026, hasil monitoring kondisi suhu permukaan laut di sekitar wilayah Indonesia, Samudra Pasifik, dan juga di Samudra Hindia menunjukkan, di Pasifik telah menunjukkan indeks Nino 3.4 nan menyatakan kekuatan El Nino telah melampaui threshold kategori Kuat, ialah di atas 1,5. Di mana level saat ini sudah melampaui 1,56.

Sedangkan di Samudra Hindia, saat ini Indeks Dipole Mode tetap negatif -0,38. Namun, tambah Ardhasena, diprediksi ada kesempatan signifikan terjadinya kejadian Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kata Ardhasena, El Nino di Samudra Positif dan IOD Positif di Samudra Hindia bakal satu paket.

"Prediksi BMKG, di sekitar September-Desember 2026 bisa terjadi kejadian Indian Ocean Dipole positif. Prediksi El Nino hingga awal tahun 2027. Biasanya indeks El Nino berpuncak di akhir tahun alias Januari di tahun berikutnya. Dalam kasus ini Desember 2026 dan juga Januari 2027," kata Ardhasena, dikutip Jumat (31/7/2026).

"Prediksi BMKG terdapat kesempatan signifikan El Nino tahun ini dapat melampaui kategori El Nino Kuat. El Nino biasanya bakal berjalan hingga kuartal pertama tahun berikutnya. Namun, dampaknya ke Indonesia hanya ketika berjumpa di Musim Kemarau," lanjut Ardhasena.

Sementara, imbuh dia, Musim Kemarau di Indonesia bakal berhujung di sekitar pertengahan bulan Oktober.

Materi paparan ditampilkan dalam konvensi pers mengenai Monitoring hari tanpa hujan dalam perkembangan musim tandus 2026 di Indonesia, nan digelar di Jakarta, Kamis (30/7/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Info BMKG)Materi paparan ditampilkan dalam konvensi pers mengenai Monitoring hari tanpa hujan dalam perkembangan musim tandus 2026 di Indonesia, nan digelar di Jakarta, Kamis (30/7/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Info BMKG) Foto: Materi paparan ditampilkan dalam konvensi pers mengenai Monitoring hari tanpa hujan dalam perkembangan musim tandus 2026 di Indonesia, nan digelar di Jakarta, Kamis (30/7/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Info BMKG)

Lantas, gimana kondisi kekeringan di Indonesia dengan adanya potensi IOD positif di tengah kondisi El Nino dan Musim Kemarau?

BMKG dalam keterangan resminya menekankan, potensi kekeringan di Indonesia bakal semakin diperparah dengan potensi aktifnya kejadian IDO Positif pada periode September hingga Desember 2026.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengungkapkan, hHingga pertengahan Juli 2026, BMKG mencatat sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) alias sekitar 54,5% dari total luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, 77 ZOM (11,8%) tetap mengalami musim hujan dan 113 ZOM (33,7%) berada di area jenis satu musim.

BMKG memproyeksikan puncak musim tandus 2026 terjadi pada Agustus nan melingkupi 48,84% wilayah serta September mencakup 25,41% wilayah daratan.

Sementara, sambung dia, sejumlah wilayah mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori sangat pendek hingga panjang. HTH terpanjang selama 80 hari terjadi PRH Katerban, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.

"Sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami musim tandus nan lebih kering dari kondisi normal, dengan 437 ZOM (48,77% luas daratan) menghadapi lama tandus nan lebih panjang. Curah hujan kategori tinggi diprediksi baru mulai muncul secara berjenjang pada Oktober-November 2026," kata Faisal.

"Ancaman tandus kering ini berakibat langsung pada kecenderungan peningkatan titik panas (hotspot) di sejumlah area nan rentan karhutla. Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi sebanyak 5.019 titik panas nan mendominasi wilayah Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau," tambahnya.

Karena itu, tegas Faisal, seluruh pihak kudu meningkatkan kewaspadaan penuh menjelang puncak tandus Agustus-September.

Ditambahkan, akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) diprediksi mencapai titik tertinggi di wilayah Sumatra dan Kalimantan, khususnya Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan. Bahkan, BMKG terus memantau pergerakan partikulat asap karhutla nan saat ini telah terdeteksi di Kalimantan Barat.

Materi paparan ditampilkan dalam konvensi pers mengenai Sebaran letak OMC dalam perkembangan musim tandus 2026 di Indonesia, nan digelar di Jakarta, Kamis (30/7/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Info BMKG)Materi paparan ditampilkan dalam konvensi pers mengenai Sebaran letak OMC dalam perkembangan musim tandus 2026 di Indonesia, nan digelar di Jakarta, Kamis (30/7/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Info BMKG) Foto: Materi paparan ditampilkan dalam konvensi pers mengenai Sebaran letak OMC dalam perkembangan musim tandus 2026 di Indonesia, nan digelar di Jakarta, Kamis (30/7/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Info BMKG)

Rekomendasi BMKG

Faisal mengungkapkan, suasana dan musim tandus saat ini memengaruhi banyak sektor nan memerlukan perhatian khusus. Sejak beberapa bulan lalu, sambungnya, BMKG terus berkoordinasi secara aktif guna mendorong sektor-sektor tersebut menjalankan upaya antisipasi dan mitigasi kekeringan.

"BMKG merekomendasikan langkah-langkah konkret kepada beragam pemangku kepentingan untuk menekan akibat iklim, terutama pada sektor pertanian serta sumber daya air (SDA) dan daya nan sangat berjuntai pada pasokan air," ujarnya.

"Pada sektor pertanian, para pelaku upaya tani perlu menyusun strategi agenda awal musim tanam dan memilih varietas tanaman nan tahan terhadap kondisi kering. Sementara, pengelola sektor SDA dan daya kudu menghitung kesiapan air baku, menentukan volume air bendungan, serta mengantisipasi dinamika produksi listrik PLTA guna mengendalikan lonjakan konsumsi energi," paparnya.

Di saat bersamaan, minimnya curah hujan memicu penurunan kualitas udara nan berpotensi meningkatkan akibat penyakit ISPA.

"Pemangku kepentingan dan masyarakat luas perlu mewaspadai kondisi ini, sekaligus menyiapkan sistem respons sigap untuk mengantisipasi potensi perubahan sebaran penyakit DBD dan malaria, serta ancaman heat-stroke akibat cuaca panas ekstrem," tegas Faisal.

"Tak kalah penting, pengelola sektor kehutanan dan kebencanaan wajib meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan serta potensi karhutla," katanya.

Di sisi lain, Faisal menambahkan, pelaku sektor perikanan dan tambak garam dapat memanfaatkan momentum tandus ini untuk mengoptimalkan produksi garam. Serta, memaksimalkan kejadian upwelling guna meningkatkan hasil tangkapan ikan.

BMKG sendiri, ujar Faisal, konsentrasi mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai corak komitmen mitigasi musibah hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia

"BMKG memperkuat langkah mitigasi melalui OMC di beragam wilayah prioritas Indonesia, sekaligus menggalang respons sigap dan terintegrasi dari seluruh pihak guna mengantisipasi lonjakan karhutla serta kekeringan," kata Faisal.

 Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam Konferensi Pers: "Perkembangan Musim Kemarau dan Penguatan Operasi Modifikasi Cuaca sebagai Antisipasi Dampak El Nino", Kamis (30/7/2026). (Dok. BMKG) Foto: Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam Konferensi Pers: "Perkembangan Musim Kemarau dan Penguatan Operasi Modifikasi Cuaca sebagai Antisipasi Dampak El Nino", Kamis (30/7/2026). (Dok. BMKG)

(dce/dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya