ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis bioetanol untuk Juli 2026 sebesar Rp10.933 per liter. Penetapan nilai dilakukan di tengah upaya pemerintah memperluas pemanfaatan bioetanol sebagai campuran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin.
Berdasarkan info Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, HIP bioetanol pada Juli 2026 ditetapkan sebesar Rp10.933 per liter. Perhitungan nilai bioetanol menggunakan formula HIP = (Harga Tetes Tebu KPB rata-rata selama tiga bulan x 4,125 kg/L) + US$ 0,25 per liter.
Harga tetes tebu KPB rata-rata nan digunakan dalam kalkulasi periode 15 Desember 2025 hingga 14 Juni 2026 tercatat sebesar Rp1.568 per kg. Sedangkan konversi kurs menggunakan rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Mei-14 Juni 2026 sebesar Rp17.853 per US$.
Saat ini, Indonesia sendiri telah mempunyai produk bensin dengan campuran bioetanol sebesar 5% (E5). Namun, ini tetap berupa produk nan dijual oleh PT Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero), belum berupa mandatori nasional. Adapun, produk dengan campuran bioetanol sebesar 5% ini dijual dengan merek jual beli Pertamax Green 95 (setara RON 95).
Ke depan, pemerintah menargetkan program mandatori pencampuran bioetanol pada BBM bensin secara nasional, apalagi hingga mencapai 20% (E20).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan penerapan mandatori pencampuran bioetanol sebesar 20% (E20) pada bahan bakar minyak (BBM) dapat di mulai pada 2028. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap daya impor sekaligus memperkuat ketahanan daya nasional.
Menurut dia, rencana penerapan E20 merupakan hasil pertimbangan dari keberhasilan program biodiesel nan telah lebih dulu diterapkan pada sektor solar.
"Kita kudu geser ke nabati berangkat dari belajar biodiesel nan dipakai untuk solar. Maka muncul lah buahpikiran saya waktu itu malam-malam saya duduk berpikir jika solar kita bisa pakai CPO kenapa tidak kita pakai lagi nabati lain untuk bensin?" ujar Bahlil dalam aktivitas Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, pada awal Mei 2026 lalu.
Bahlil menilai pengembangan bioetanol juga terinspirasi dari pengalaman sejumlah negara nan telah lebih dulu menerapkannya. Bahkan, dia melakukan studi banding ke Brasil dan negara lain untuk mempelajari penerapan kebijakan tersebut.
Ia menyebut, di Brasil penggunaan bioetanol telah mencapai campuran E30, apalagi di beberapa wilayah sudah menggunakan E100 alias etanol murni sebagai bahan bakar kendaraan.
"Saya belajar, rupanya di Brasil itu sudah mandatori E30 apalagi di beberapa negara bagian sudah E100," katanya.
Adapun, bioetanol sendiri dapat diproduksi dari beragam bahan baku seperti jagung, tebu, dan singkong komoditas nan melimpah di Indonesia. Hal ini dinilai bisa memberikan akibat ekonomi nan signifikan, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat di daerah.
Untuk memenuhi kebutuhan awal, pemerintah bakal membuka opsi impor bioetanol. Namun, impor ini hanya berkarakter sementara sembari mendorong peningkatan produksi dalam negeri.
Bahlil memperkirakan penerapan E20 pada 2028 setidaknya bakal memerlukan sekitar 8 juta kiloliter bioetanol. Di sisi lain, impor BBM bensin saat ini tetap berada di kisaran 20 juta kiloliter per tahun.
Adapun dengan penerapan E20, sebagian kebutuhan bensin nantinya bakal digantikan oleh bioetanol, sehingga impor BBM dapat ditekan secara signifikan.
"Kalau kita bikin etanol E20 berfaedah mandatory-nya di 2028 delapan juta. Kalau sekarang kita impor 20 juta, kita mandatori 20% kurang 8 juta lagi. Jadi importir kurang tinggal 12 juta. Bagaimana orang nggak sakit gigi? Main lagi di sosmed peralatan ini," ungkap Bahlil.
(ven/wia)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·