RI Waspada! BPS Ingatkan Soal Bawang Putih, Tunjuk Sumber Penyebab

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu penyebab nilai bawang putih terus merangkak naik di dalam negeri. Kondisi ini membikin nilai bawang putih impor semakin mahal, ditambah kenaikan biaya logistik internasional nan turut menekan nilai di tingkat konsumen.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, bawang putih sekarang menjadi komoditas nan paling perlu diwaspadai lantaran kenaikan harganya sudah terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia.

"Beberapa dinamika nan terjadi adalah jika kita lihat kenaikan nilai ini, kenaikan nilai dari bawang putih salah satunya ada aspek dari pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya biaya logistik internasional," ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (13/7/2026).

Amalia menjelaskan, pada Juni 2026 inflasi terutama didorong golongan makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas nan memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan antara lain bawang merah, bawang putih, beras, wortel, ikan segar, hingga minyak goreng nan mulai menunjukkan kenaikan harga.

Namun, menurutnya tekanan nilai bawang merah mulai mereda pada Juli. Sebaliknya, bawang putih justru menjadi komoditas nan perlu mendapatkan perhatian serius.

"Bawang putih perlu mendapatkan perhatian secara serius, lantaran sudah ada 269 kabupaten/kota nan mengalami kenaikan nilai bawang putih," ucap dia.

BPS mencatat nilai rata-rata nasional bawang putih saat ini telah mencapai Rp42.611 per kilogram (kg), jauh di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen. Sebanyak 269 kabupaten/kota alias 74,72% wilayah Indonesia mengalami kenaikan nilai bawang putih.

Harga tertinggi apalagi tercatat di Papua Pegunungan nan mencapai Rp100.000 per kg.

Amalia juga menyoroti sejumlah wilayah nan mengalami lonjakan nilai cukup tinggi, seperti Aceh Selatan dengan nilai Rp50.000 per kg alias 31,6% di atas HAP, Gorontalo Utara Rp50.000 per kg, hingga Kabupaten Deiyai Waghete nan mencapai Rp79.000 per kg alias 107,89% di atas HAP.

Di sisi lain, BPS menilai lonjakan nilai bukan disebabkan minimnya pasokan impor. Sepanjang Januari-Juni 2026, volume impor bawang putih justru meningkat.

"Sepanjang Januari sampai dengan Juni 2026.. ini nomor nan sangat-sangat sementara, sejenak lagi kami bakal rilis nomor ini. Di mana untuk impor komoditas bawang putih Januari sampai dengan Juni 2026 sudah naik 28,44% dibandingkan dengan periode nan sama pada tahun lampau ialah 229,76 ribu ton," tutur Amalia.

BPS mencatat sekitar 96,83% impor bawang putih Indonesia berupa garlic segar maupun dingin. Sementara 98,31% pasokan berasal dari China alias mencapai 183,62 ribu ton sepanjang Januari-Mei 2026. Sisanya berasal dari India sebesar 3,15 ribu ton.

Meski volume impor secara kumulatif meningkat, nilai impornya juga ikut naik lantaran nilai bawang putih di pasar internasional semakin mahal.

"Impor komoditas bawang putih kita lihat nilai impornya meningkat di tengah penurunan volume impor pada bulan Juni 2026. Artinya, lantaran nilai impornya naik volumenya relatif turun nilai bawang putih pun alias unit value impor bawang putih. Nah untuk perkembangan unit value impor bawang putih ini terlihat di bulan Juni relatif tinggi, artinya ada kenaikan nilai bawang putih impor," jelas dia.

Sementara itu, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga mengonfirmasi nilai bawang putih tetap berada di atas nilai acuan.

Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag Nawandaru Dwi Putra mengatakan, per 10 Juli 2026 nilai rata-rata nasional bawang putih Honan mencapai Rp39.315 per kg, alias 5,5% di atas nilai referensi Bapanas.

Untuk bawang putih jenis kating, nilai rata-rata nasional tercatat Rp41.270 per kg, alias 4,56% di atas nilai acuan.

Menurut Nawandaru, tekanan nilai dipicu oleh menguatnya dolar AS terhadap rupiah sehingga nilai bawang putih dari negara asal, terutama China, ikut meningkat.

"Indikasi adanya kenaikan ini salah satunya adalah penguatan nilai dolar terhadap rupiah, alias pelemahan mata duit rupiah terhadap dolar, di mana ini memicu kenaikan nilai di negara asalnya, ialah nan paling besar adalah dari negara China, dan ini juga dipicu salah satunya adalah kenaikan biaya distribusi," kata Nawandaru dalam kesempatan nan sama.

Ia menambahkan, kenaikan ongkos logistik juga dipengaruhi kondisi pelayaran internasional. Berdasarkan info Shanghai Container Freight Index, pasca krisis Selat Hormuz terjadi perebutan kapal berbendera China oleh beragam negara sehingga ongkos pengedaran ikut melonjak.

Untuk meredam kenaikan harga, kata Nawandaru, pihaknya tengah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, agar importir dapat mengarahkan kapal pembawa bawang putih langsung ke pelabuhan utama di area timur Indonesia. Langkah itu diharapkan dapat memangkas biaya pengedaran sekaligus menekan nilai bawang putih nan saat ini paling tinggi terjadi di wilayah timur Indonesia.

"Saat ini kami tetap berkoordinasi perkembangannya dengan rekan-rekan kami di Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, dan kami harapkan pelaku upaya secara.. meskipun ini sifatnya adalah B2B kami harapkan dorongan alias imbauan kami bisa ditaati alias dipatuhi oleh para pelaku upaya importir, nan saat ini tetap memasukkan komoditas bawang putih ke dalam negeri," pungkasnya.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya