Runtuhnya Perguruan Tinggi sebagai Penjaga Moral Bangsa

1 hari yang lalu 4

loading...

Tulus Abadi. Foto/Istimewa

Tulus Abadi
Pegiat Perlindungan Konsumen, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia

KAMPUS "ndeso", itulah julukan Unsoed (Universitas Jenderal Soedirman) di Banyumas, Purwokerto , Jawa Tengah. Julukan ndeso itu tidaklah salah salah amat, lantaran memang posisi kampusnya nan bertengger di kota kecil, level kabupaten, di bawah lereng Gunung Slamet. Tagline ndeso itu juga berarti Unsoed terkesan "agraris" (minimalis) dari sisi pergaulan dan akses nasional, dan (mungkin) minimalis dari sisi prestasi di kancah nasional, apalagi kancah global.

Tetiba Unsoed menyeruak ke ranah nasional, semua mata menyorot ke Unsoed! Namun, ironisnya bukan lantaran kiprahnya, bukan lantaran prestasinya, tetapi lantaran rektor dan wakil rektornya korupsi! Dan ini terbilang nan kedua kali Rektor Unsoed terjerat kasus korupsi! Alamaak. Ya, rektor dan dua wakil rektor Unsoed dicokok oleh komisi antirasuah ( KPK ), tersebab tindakan koruptifnya, ialah melakukan tindakan pemerasan kepada calon mahasiswa baru fakultas kedokteran, kisaran Rp650 juta-Rp1,250 miliar. Calon mahasiswa baru dari Fakultas Kedokteran konon dibanderol setor fulus kisaran Rp50 juta-Rp 500 juta.

Bagaimana kita menyikapi kasus OTT (Operasi Tangkap Tangan) Rektor dan dua wakil rektor Unsoed?

Secara mikro, ini sangat meruntuhkan moral mahasiswa dan apalagi alumni Unsoed. Rektor dan Wakil Rektor Unsoed telah merusak gambaran dan nama baik Unsoed, nan notabene menyandang nama besar seorang pahlawan nasional nan sangat dihormati, nan kebetulan berasal dari telatah Banyumasan, ialah Panglima Besar Jenderal Soedirman. Saya sebagai alumni Fakultas Hukum Unsoed (lulus 1996) pun merasa merasa dipermalukan oleh kasus tersebut. Padahal dalam beragam forum saya mengenalkan lembaga Unsoed, eeh, lha kok malah diremukredamkan oleh perilaku nggragas rektornya sendiri.

Selengkapnya