Warga menunjukan duit rupiah di area Jagakarsa, Jakarta, Rabu (1/7/2026). Bank Indonesia mencatat likuiditas perekonomian alias duit beredar dalam makna luas (M2( ANTARA FOTO/Rakha Raditya Yahya/YU)
NILAI tukar rupiah ditutup melemah 64 poin di level Rp17.862 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (18/8), dari penutupan sebelumnya di level Rp17.798 per dolar AS.
Untuk perdagangan besok, pengamat ekonomi, mata duit & komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi mata duit rupiah naik turun namun ditutup melemah direntang Rp17.860 - Rp17.920 per dolar AS.
Dari sisi internal, Ibrahim menyebut kenaikan nilai minyak mentah di atas US$83 per barel meningkatkan beban devisa negara untuk impor energi. Kebutuhan impor minyak mentah nan tinggi memaksa pelaku upaya dan pemerintah mengeluarkan pembayaran dalam denominasi dolar AS.
"Lonjakan permintaan dolar AS demi membeli minyak mentah di pasar dunia memperkuat posisi mata duit Paman Sam dan menekan nilai tukar rupiah," katanya dalam keterangan nan diterima, Selasa (18/8).
Kemudian, Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$453,4 miliar alias sekitar Rp8.089,1 triliun. Posisi tersebut tumbuh 4,4% secara tahunan (yoy).
Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi ULN Indonesia pada Mei 2026 nan tercatat sebesar US$444,4 miliar alias sekitar Rp7.928,5 triliun. Perkembangan ULN pada triwulan II 2026 menunjukkan ULN Indonesia tetap terjaga dengan support peningkatan ULN publik dan kontraksi ULN swasta nan semakin rendah.
ULN pemerintah pada triwulan II 2026 tercatat sebesar US$216,3 miliar alias sekitar Rp3.860,4 triliun, tumbuh 2,9% (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I 2026 sebesar 3,8% (yoy).
"Perkembangan utang pemerintah terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) nan mencerminkan kepercayaan penanammodal terhadap prospek perekonomian Indonesia nan tetap terjaga," jelasnya.
Selain itu, BI mulai menggelar RDG selama dua hari pada 18-19 Agustus 2026. Keputusan kebijakan moneter bakal diumumkan pada Rabu (19/8). "BI diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5,75% setelah meningkatkan suku kembang secara garang dengan total 75 pedoman poin sepanjang April-Juni 2026," katanya.
Selain keputusan suku bunga, lanjut Ibrahim, pasar bakal mencermati pandangan BI mengenai stabilitas rupiah, inflasi domestik, kondisi likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan angsuran hingga akhir tahun.
"Sikap dan pedoman BI bakal menjadi salah satu penentu arah rupiah berikutnya di tengah ketidakpastian global, setelah fase stabilisasi nan cukup garang selama beberapa bulan terakhir di bawah kepemimpian Bapak Perry Warjiyo sebagai gubernur Bank Indonesia," pungkasnya. (H-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·