Pendiri aplikasi Telegram(Giuseppe CACACE / AFP)
RUSIA memasukkan pendiri Telegram, Pavel Durov, ke daftar hitam "teroris dan ekstremis". Keputusan ini diambil hanya sehari setelah Rusia mengumumkan rencana penangkapan Durov atas tuduhan membiarkan platformnya dimanfaatkan oleh intelijen Ukraina.
Pavel Durov, nan telah bertahun-tahun bermukim di luar negeri dan memegang paspor Prancis serta Uni Emirat Arab (UEA), memang dikenal kerap bersitegang dengan otoritas Moskow di tengah cengkeraman internet nan semakin ketat di Rusia.
Aplikasi Telegram sendiri merupakan salah satu pilar komunikasi utama penduduk Rusia. Selama bertahun-tahun, pejabat setempat berulang kali mencoba memblokir alias menjatuhkan Telegram demi menekan Durov agar mau mengirimkan info pengguna.
Moskow juga aktif mendorong warganya untuk beranjak ke aplikasi pesan buatan pemerintah berjulukan Max, nan oleh Durov sebelumnya disebut sebagai perangkat "pengawasan dan sensor politik" lantaran tidak terenkripsi.
Dinas Keamanan Rusia (FSB) pekan ini menyatakan telah memulai proses pencarian internasional terhadap Durov. Kendati demikian, belum dapat dipastikan apakah negara lain alias badan penegak norma internasional bakal memenuhi permintaan tersebut.
Pada hari Kamis, nama Durov resmi terpampang di registrasi online "teroris dan ekstremis" nan dikelola oleh lembaga pengawas finansial Rusia, Rosfinmonitoring. Khususnya, laki-laki berumur 41 tahun itu dilarang keras melakukan transaksi finansial apa pun di dalam wilayah Rusia.
Tuduhan mendukung "terorisme" alias "ekstremisme" sering kali digunakan Moskow untuk menjerat lawan-lawan politik, termasuk para tokoh nan sudah meninggalkan Tanah Air.
Menurut pihak FSB, Telegram dinilai lalai lantaran tidak menghapus bot kencan terkenal nan diklaim Moskow digunakan oleh dinas unik Ukraina untuk merekrut generasi muda Rusia agar terlibat dalam "aksi teror dan sabotase."
Ketika dikonfirmasi oleh AFP, tim kuasa norma Durov maupun pihak manajemen Telegram kompak menolak memberikan tanggapan resmi mengenai tuduhan tersebut.
Sebelum bentrok terbaru ini, Pada tahun 2024, Durov sempat ditangkap oleh polisi Prancis mengenai konten terlarangan di platformnya, sebelum akhirnya dibebaskan dengan agunan dan meninggalkan negara tersebut setelah pencekalan perjalanannya dicabut.
Durov lahir di Saint Petersburg, nan merupakan kota asal Presiden Vladimir Putin. Sebelum mendirikan Telegram, dia adalah pendiri VKontakte (VK), media sosial nan dijuluki sebagai "Facebook-nya Rusia". Namun, dia terpaksa meninggalkan perusahaan tersebut menyusul bentrok dengan otoritas Rusia nan menuntut kontrol lebih ketat terhadap bumi maya.
(AFP/P-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·