Satelit Pemantul Cahaya Matahari ke Bumi Picu Kekhawatiran Astronom

1 jam yang lalu 4
Satelit Pemantul Cahaya Matahari ke Bumi Picu Kekhawatiran Astronom Ilustrasi(magnifik)

RENCANA penggunaan satelit nan bisa memantulkan sinar Matahari ke permukaan Bumi menjadi perhatian di kalangan astronom.

Teknologi tersebut dikembangkan untuk memanfaatkan sinar Matahari setelah waktu terbenam, tetapi pada saat nan sama menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap kondisi langit malam dan aktivitas pengamatan astronomi.

Salah satu proyek nan menjadi perhatian adalah Reflect Orbital, perusahaan nan mengembangkan teknologi satelit dengan reflektor alias cermin di luar angkasa.

Dalam arsip pengajuan kepada Federal Communications Commission (FCC), perusahaan tersebut mengusulkan rencana pengoperasian satelit Earendil-1 untuk menguji teknologi reflektor ruang angkasa nan berfaedah memantulkan sinar Matahari ke letak tertentu di permukaan Bumi. Satelit tersebut direncanakan beraksi di orbit sekitar 625 kilometer di atas Bumi.

Teknologi ini pada dasarnya mempunyai tujuan nan berbeda dari satelit komunikasi biasa.

Reflektor dirancang untuk mengarahkan sinar Matahari ke wilayah tertentu sehingga permukaan Bumi tetap mendapatkan penerangan meski Matahari sudah berada di bawah horizon.

Konsep tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung pembangkit listrik tenaga surya maupun kebutuhan penerangan tertentu.

Namun, keahlian memantulkan sinar dari orbit justru menjadi persoalan bagi astronom. Cahaya Matahari nan dipantulkan oleh objek di orbit rendah Bumi dapat masuk ke dalam bagian pandang teleskop dan menghasilkan jejak terang pada gambar astronomi. Kondisi tersebut dapat mengganggu pengamatan objek langit nan sangat redup.

European Southern Observatory (ESO) apalagi telah memodelkan akibat andaikan Reflect Orbital mengembangkan konstelasi hingga 50.000 satelit pemantul. Hasil simulasi menunjukkan sinar nan dipantulkan dan kemudian dihamburkan oleh atmosfer berpotensi membikin langit di sekitar Very Large Telescope (VLT) menjadi tiga hingga empat kali lebih terang. 

Kekhawatiran astronom sebenarnya tidak hanya berangkaian dengan proyek satelit pemantul Matahari. Pertumbuhan jumlah satelit di orbit rendah Bumi secara umum telah menjadi perhatian organisasi astronomi.

Penelitian nan diterbitkan di Nature menunjukkan bahwa pantulan sinar dari satelit dapat menghasilkan garis terang pada gambaran astronomi dan berpotensi mengganggu teleskop di Bumi maupun teleskop nan berada di luar angkasa. 

Jika jumlah satelit terus bertambah, masalahnya dapat menjadi semakin kompleks. Pantulan sinar tidak selalu kudu diarahkan langsung ke teleskop untuk menimbulkan gangguan.

Cahaya nan tersebar oleh atmosfer juga dapat meningkatkan kecerahan latar langit sehingga objek-objek astronomi nan redup menjadi lebih susah diamati.

Meski begitu, teknologi satelit pemantul sinar tetap berada dalam tahap pengembangan dan pengujian. Persoalan utamanya bukan sekadar apakah teknologi tersebut dapat bekerja, tetapi gimana penggunaannya dapat melangkah tanpa mengorbankan kepentingan penelitian astronomi.

Karena itu, astronom dan lembaga mengenai mendorong adanya langkah mitigasi, seperti mengendalikan tingkat reflektivitas satelit, mengatur orientasi satelit, menyediakan info orbit nan akurat, serta melakukan koordinasi dengan organisasi astronomi.

Upaya tersebut diperlukan agar perkembangan industri antariksa tetap dapat melangkah berbarengan dengan upaya menjaga langit malam nan gelap untuk penelitian ilmiah.

Sumber: Nature

Selengkapnya