Seorang anak melintas di depan mural bergambar bintang sepak bola Argentina Lionel Messi dan legenda sepak bola Diego Maradona di Kelurahan Kampung Pisang, Ternate, Maluku Utara, Rabu (8/7/2026).(ANTARA/ANDRI SAPUTRA )
PELATIH timnas Argentina Lionel Scaloni menegaskan tidak ada perlakuan unik nan dilakukan timnya dalam mempersiapkan laga final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat, Senin (20/7) pukul 02.00 WIB.
"Kami mempersiapkan pertandingan ini seperti pertandingan lainnya," kata Scaloni, dikutip dari laman resmi FIFA, Minggu.
Menurut Scaloni, status sebagai partai final tidak boleh membikin para pemain kehilangan fokus. Ia menilai timnya kudu tetap memandang pertandingan tersebut sebagai laga sepak bola biasa dan menampilkan performa terbaik untuk meraih kemenangan.
"Meski ini adalah final Piala Dunia, pada akhirnya tetap saja sebuah pertandingan sepak bola. Kami kudu tampil sebaik mungkin jika mau menang. Kami tidak mau terlalu memikirkan kebenaran bahwa ini adalah final Piala Dunia lantaran perihal itu justru bisa mengganggu fokus," tambah dia.
Scaloni mengatakan Argentina datang ke partai puncak dengan kondisi nan positif setelah memperlihatkan karakter kuat sepanjang fase gugur. Pada semifinal, La Albiceleste sukses bangkit dari ketertinggalan hingga mengalahkan Inggris 2-1 setelah mencetak dua gol pada menit-menit akhir pertandingan.
Meski demikian, dia mengakui Spanyol merupakan musuh nan sangat handal dan telah mempersiapkan diri dengan matang menghadapi juara bertahan.
"Kami berada dalam kondisi nan bagus, meski tentu tetap ada ruang untuk berkembang. Kami menghadapi musuh nan sangat kuat, dan Spanyol juga pasti sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kami," ucap Scaloni.
Pelatih berumur 48 tahun itu juga menilai style bermain Argentina sudah dikenal luas oleh para lawannya. Justru lantaran itulah dia menganggap pencapaian timnya hingga kembali menembus final menjadi sesuatu nan istimewa.
"Lagi pula, langkah bermain Argentina bukan lagi rahasia. Semua orang tahu gimana kami bermain. Justru lantaran itu, pencapaian tim ini terasa semakin luar biasa," tambah dia.
Usai kemenangan atas Inggris, salah satu momen nan mencuri perhatian adalah pelukan panjang antara Scaloni dan kapten tim Lionel Messi. Dalam kesempatan itu, Messi terdengar mengucapkan kalimat "pure history" kepada sang pelatih.
Saat dimintai tanggapan mengenai ucapan tersebut, Scaloni justru memilih memberikan apresiasi kepada Messi nan tetap tampil luar biasa di usia 39 tahun.
"Bisa mencapai final Piala Dunia pada usia 39 tahun adalah pencapaian nan luar biasa. Karena itulah saya selalu mengatakan bahwa kita kudu menikmati setiap momennya," ujar Scaloni.
"Kami sangat merasakan kehilangan Diego Maradona setelah dia pensiun. Sekarang Messi tetap berbareng kami, dan kita kudu menghargai setiap perihal nan tetap dia lakukan," tambah dia.
Penampilan Messi memang terus menjadi tumpuan Argentina sepanjang turnamen. Kapten La Albiceleste itu selalu berkontribusi terhadap gol timnya di setiap pertandingan Piala Dunia 2026. Pada semifinal melawan Inggris, dia menyumbang dua assist nan membikin koleksi assistnya di putaran final Piala Dunia menjadi 12, terbanyak sepanjang sejarah.
Selain itu, Messi telah mengoleksi delapan gol di Piala Dunia 2026 sehingga tetap berkesempatan meraih Sepatu Emas sebagai pencetak gol terbanyak turnamen. Secara keseluruhan, koleksi 21 golnya di putaran final Piala Dunia menempatkannya di posisi kedua daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa setelah dilewati Kylian Mbappe nan telah mengemas 22 gol. (Ant/I-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·